Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Syarat April


__ADS_3

"Itu penting, hati-hati dan selalu waspada itu harus di utamakan" timpal Bryan.


"Semoga kita selalu di lindungi sama Allah dan usaha kita bisa membuahkan hasil" keinginan Angkasa.


"Amiiin" sahut mereka.


"Eh kemana Rev ya, kok gak balik-balik, dia nyasar kemana lagi, masa dari tadi belum kelar juga" Clara mencari-cari keberadaan sepupunya yang tak kunjung menampakkan batang hidung.


Di taman itu hanya mereka yang terlihat. Tak ada satupun murid lainnya yang datang mendekat, kondisi taman terbilang cukup sepi dan begitu tak wajar.


"Palingan Rev masih rapat sama guru-guru, kita tungguin aja, bentar lagi dia pasti akan datang juga kok" sahut Steven.


Mereka pun diam tak bergerak dan menunggu Rev datang ke sana.


"Dooorrr!"


Sontak mereka semua pun kaget kala melihat tiga orang yang telah berhasil mengguncang dunianya dan juga hidup mereka.


"Kalian lagi ngomongin apa? Cepat jawab!" perintah April curiga pada mereka semua.


Mereka semua berdiri saking terkejutnya. Pertanyaan yang April lontarkan telah berhasil mengunci mulut mereka, kedatangan trio centil itu telah membuat mereka gelagapan.


Aryan dan Reyhan menepuk jidatnya.


"Mereka lagi" ucap keduanya kembali tertekan.


Kedatangan trio centil itu akan membuat mereka dalam masalah.


"Kalian lagi bahas misteri yang ada di sini bukan" tebak Laras sangat serius.


"E-enggak kok, kita gak bahas apa-apa. Kita cuman lagi nunggu Rev di sini, ya kan geis" jawab Rafael terbata-bata dan berusaha untuk mengelak.


"Iya benar" jawab mereka kompak.


Tatapan tajam dan penuh kecurigaan milik trio centil itu masih terarah pada mereka semua yang lagi gelisah tak menentu.

__ADS_1


Mereka yang di tatap seperti itu ketar-ketir, trio centil itu telah membuat mereka terancam.


"Kalian jangan bohong, kita itu udah tau kali kalau kalian lagi berusaha mencari tau siapa orang yang ada di balik misteri kematian di sekolah ini" tutur Laras.


Mereka panik, fakta baru mengejutkan mereka. Apalagi yang telah mengetahuinya adalah salah satu murid-murid rempong di sekolahan ini.


"K-kenapa kalian bisa tau" terkesiap Angkasa hingga bola matanya melotot sempurna.


"Karena Aryan dan Reyhan yang ngasih tau" jawab Laras dengan polosnya.


Tatapan tajam mereka langsung terarah pada Aryan dan Reyhan yang menunduk karena merasa bersalah.


"Kenapa kalian ngasih tau mereka"


"Kita kan udah bilang kalau kalian harus rahasiain masalah ini"


"Tapi apa ini! kalian malah ngasih tau mereka"


Omelan demi omelan terlempar ke arah mereka.


"Kita itu gak sengaja keceplosan mangkanya trio centil ini tau. Kita akui kita salah, tapi gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur" jelas Aryan.


Rafael menepuk jidatnya."Kalian ini emang gak bisa jaga rahasia. Sekarang gimana ini, mereka udah pada tau, patutkah kita habisi mereka semua biar mereka gak ember dan beberkan masalah ini kemana-mana?"


Bola mata April, Shena dan Laras melotot sempurna. Jantung mereka berdetak kencang sebab merasa tidak aman.


"Eh eh tunggu dulu. Kalian kenapa tega banget mau bunuh kami. Jangan bilang kalian tersangkanya" tuduh April.


Reyhan yang sudah greget langsung menutup mulut April yang ember itu."April Maret Juni, tadi kan kita udah bilang, kalau kita ini bukan pelakunya. Kita itu adalah sebuah organisasi yang terbentuk untuk menangkap pelakunya. Apa perlu aku teriak di telinga kamu biar kamu paham!"


April yang tak bisa bernafas membuang paksa tangan Reyhan yang menghalanginya.


"Iiih kamu mau bunuh aku apa gimana sih!" teriak April tak terima.


"Habisnya kamu masih ember aja, kita kan tadi udah jelasin siapa kita, kenapa kamu masih aja nuduh kita yang bukan-bukan" geram Reyhan.

__ADS_1


"Ya siapa tau gitu kalian pelakunya, kita cuman nanya doang, apa salahnya kita nanya" jawab Shena.


Reyhan dan Aryan makin geram dengan trio ondel-ondel itu.


"Sana kalian pergi aja, gak usah ganggu kami. Kalau kalian ember dan ganggu kami, besok kalian gak akan bisa lihat matahari lagi" ancam keras Aryan biar mereka tidak keterlaluan.


"Yakin? aku sih gak yakin, kalian semua mau bunuh kita, hmm itu gak mungkin" jawab Shena menye-menye dan membuat otak dua pria itu makin mendidih.


April dapat melihat dengan jelas amarah dan kekesalan di mata Reyhan dan Aryan.


"Reyhan Aryan dan kalian semua, kedatangan kita baik. Kita itu gak ember kok, kita akan jaga rahasia kalian tapi dengan satu syarat" April mengajukan syarat untuk bisa membuatnya tutup mulut.


"Apa syaratnya, apa kalian mau uang, sebutin aja nominalnya nanti aku transfer" suruh Aryan.


April membenarkan dasi Aryan di sertai gaya menggodanya."Aryan, gak semua wanita itu matre dan mata duitan. Kita bukan wanita kayak gitu kok, kita ini mah wanita baik-baik yang tidak memandang bulu apalagi money"


Bryan yang berada di belakang meludahi tanah geli dengan jawaban April yang penuh dengan tipu muslihatnya.


"Terus mau kamu apa? Cepat jawab sebelum ku sikat!" naik tensi Aryan.


"Sabar dong. Kita itu mau kalian semua izinin kita bergabung bersama kalian dalam rangka mencari tersangkanya" jawab April.


"Enggaaak!" tolak mereka kompak.


Wajah April merengut tanda kecewa dengan tanggapan mereka yang berbanding terbalik dengan tujuan baiknya.


"Kita gak akan izinin makhluk kayak kalian-kalian ini gabung bersama kita semua, karena kami yakin kalian itu bukannya membuat masalah selesai malah akan nambahin masalah aja" yakin Bryan menentang keras.


"Betul itu, kalian gak usah pake pengen ikut-ikutan segala, nanti malah nyusahin aja kerjaannya" setuju Rafael.


"Aku setuju, kalian gak usah ikutan, duduk manis aja, lebih baik kalian dandan aja yang cantik dari pada ikut kami ke dalam kasus besar ini" suruh Aldo tak setuju sama sekali akan keinginan mereka.


"Oke, kalau kalian gak mau kita gabung ya udah, kita akan beberkan ke semua orang kalau kalian semua pelakunya. Aku yakin 100% semua orang akan percaya karena dari awal gerak gerik kalian udah mencurigakan" ancam April dengan kejinya.


Mata mereka melotot sempurna, ancaman April membuat mereka ketar-ketir. Jika sampai April dan kawan-kawannya melakukan itu habis mereka di tangan pihak sekolahan dan wali murid yang geram kala anak tercintanya tewas mengenaskan padahal bukan mereka pelakunya.

__ADS_1


"Jangan lakuin itu, kamu gak kasihan sama kami, kami di sini itu bergabung hanya karena ingin menangkap pelakunya, tapi apa balasan kamu, kamu malah ingin memfitnah kami yang bukan-bukan" tak habis pikir Steven.


__ADS_2