Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Terperangah


__ADS_3

Matahari kembali terbit dengan sempurna, cahayanya mampu menyingkirkan kegelapan yang ada.


Angkasa bangun pagi-pagi sekali, ia dengan terburu-buru bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ia tak sabar melanjutkan penyelidikan.


Setelah selesai bersiap-siap Angkasa turun ke bawah.


"Den mau kemana, ini masih pagi, sarapan dulu" teriak bi Ipah yang melihat Angkasa hendak pergi.


"Angkasa ada urusan bi, Angkasa gak bisa sarapan hari ini, Angkasa pergi dulu" tolak Angkasa yang ingin segera sampai di sekolahan secepatnya.


"Eh tunggu dulu den!" titah bi Ipah yang tidak akan membiarkan Angkasa pergi begitu saja.


"Apa lagi bi, Angkasa gak bisa lama-lama di sini, Angkasa mau berangkat sekolah"


"Bibi tau den, aden tunggu dulu di sana, jangan bergerak, sebentar lagi bibi akan kembali" Angkasa menurut, ia diam di samping tangga menunggu bi Ipah kembali, ia tidak tau apa yang akan bi Ipah lakukan.


"Ini den" bi Ipah kembali dari dapur dengan membawa sesuatu.


"Apa itu bi?" Angkasa mengerutkan alis dengan pemberian bi Ipah.


"Ini bibi sudah siapkan bekal buat aden, aden jangan lupa makan di sekolah nanti, tadi malam nyonya nelpon, dia nyuruh bibi jaga pola makan aden, nyonya juga bilang aden jangan makan di luar, itu gak sehat" jawab bi Ipah.


Angkasa mengambil kotak bekal yang sudah bi Ipah siapkan dengan penuh perjuangan."Iya bi, nanti bakal Angkasa makan, Angkasa pergi dulu"


Tanpa mendengar jawaban bi Ipah Angkasa berlari keluar menemui mang Asep.


"Ayo mang anterin ke sekolah cepat" titah Angkasa.


Mang Asep dengan terkejut beranjak dari tempat duduk, ia mengantar Angkasa ke sekolahannya.


Seperti biasa Angkasa turun di tempat yang sudah dekat dengan sekolahan, ia berjalan kaki sebentar untuk sampai di sekolahannya.


"Mana Clara, kok jam segini belum nyampe, tumben-tumbenan dia datangnya siang, biasanya dia datang paling awal" mata Angkasa celingukan mencari keberadaan Clara.

__ADS_1


Tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya, Angkasa berlari mendekati seorang pria yang berdiri tak jauh dari posisinya berada.


"Stev ngapain kamu di sini!" Steven terkejut dengan ulah Angkasa.


"Ngagetin aku aja, ini loh aku dengar ada anak yang meninggal lagi di sekolahan, aku pengen ke sana tapi masih nyari Clara, tapi sayangnya gak ketemu-ketemu juga" jawab Steven.


"Kok tumben ya Clara lama nyampe di sini, apa ada masalah yang terjadi sama dia" curiga Angkasa.


"Palingan Clara kesiangan bangunnya, ayo kita liat siapa yang meninggal, aku penasaran sejak tadi" Angkasa mengangguk setuju.


Mereka berdua berlari mendekati kerumunan massa, teriakan dan juga tangisan terdengar seisi sekolahan.


Mereka menerobos kerumunan untuk melihat lebih dekat siapa yang di kabarkan meninggal dunia di sekolahan ini.


Mulut mereka terperangah saat kepala sekolah dan istrinya menangis histeris di taman, istri kepala sekolah memeluk erat tubuh seorang siswi yang sudah tak bernyawa, ia meraung keras seperti orang kesurupan.


"Dyera bangun nak, buka mata kamu, jangan tinggal mommy" jerit ibu Dyera yang terpukul atas kematiannya yang tragis.


"J-jadi yang meninggal Dyera" kaget Steven, ia tak menyangka bahwa Dyera yang terkenal jahat dan kejam bisa lenyap di tangan seorang pembunuh yang masih terbilang misterius.


"Benar-benar gila orang yang tega bunuh mereka, apa maunya coba, kenapa dia sampai segitunya membunuh orang" geleng-geleng kepala Angkasa dengan tindakan sang pembunuh.


"Entahlah, dia benar-benar tega" sahut Steven yang sama-sama tak habis pikir dengan ulah monster itu.


Tangis keluarga Dyera sangat histeris, mereka begitu kehilangan Dyera, bagaimana tidak, Dyera merupakan anak satu-satunya yang mereka miliki dan kini anak emas mereka telah meninggal dunia di tangan manusia.


Tubuh Dyera berlumuran darah, wajahnya tak bisa terlihat karena penuh dengan darah, ibu Dyera menangisinya terus menerus.


Ragam pertanyaan dan dugaan terdengar di telinga Angkasa, para siswi maupun siswa bertanya-tanya mengapa Dyera bisa meninggal, mereka sungguh sangat terkejut orang yang sekejam dan sejahat Dyera bisa meninggal dengan cara yang setragis ini.


Polisi mengevakusi jenazah Dyera yang sudah tak bernyawa, dewan guru mengikuti pihak kepolisian yang akan membawa Dyera ke kediamannya.


Anak-anak berhamburan, mereka tak ada satupun yang masuk ke dalam kelas, mereka masih shock dengan berita ini.

__ADS_1


"Sekali lagi dia sudah membuat nyawa seseorang melayang, apa tujuannya sebenarnya, kenapa dia suka sekali membunuh orang-orang" mulai geram Angkasa dengan tindakan sang monster.


"Pasti dia memiliki tujuan tertentu, hanya saja kita yang masih belum tau" jawab Steven.


Angkasa melihat darah Dyera yang tertinggal di lapangan, ia bergidik ngeri melihat darah yang sebanyak itu di sana.


"Ayo sa kita cari Clara, Rev dan Aldo, mereka harus tau hal ini" Angkasa setuju, keduanya bergerak mencari mereka bertiga yang tak tau ada di mana.


"Di mana mereka, apa mereka belum pada dateng, tapi ini udah jam 8, masa jam segini mereka gak dateng juga" Angkasa celingukan mencari keberadaan mereka di tengah padatnya area sekolahan karena di penuhi oleh anak-anak.


Steven mencari-cari Clara dan yang lain, begitu sulit untuk ia menemukan mereka semua.


"Eh liat itu mereka" tunjuk Steven ke arah Rev dan Clara yang tak jauh dari posisinya berdiri.


"Mana mereka?" penasaran Angkasa.


"Itu mereka di sana, ayo cepat kita ke sana"


Mereka berdua berlari mendekati Rev dan Clara yang malah berdiam diri di dekat pos satpam.


"Akhirnya kita nemuin kamu juga, kamu dari mana aja Clara, kenapa datangnya siang banget, biasanya kan kamu datang paling awal!" setelah sekian lama mencari akhirnya Steven dapat berjumpa dengan Clara.


"Aku bareng Rev soalnya" jawab Clara.


"Pantesan siang, orang bareng ketua OSIS yang biasanya berangkat jam 8" Steven mewajarkan mengapa Clara bisa datang terlambat.


"Mulai dari sekarang Clara akan bareng aku terus, baik itu berangkat maupun pulangnya, karena kemarin itu kami di kasih peringatan sama dalang utamanya" sahut Rev.


"PERINGATAN?" kaget keduanya yang sama-sama tercekat dengan penuturan Rev.


"Iya, kemarin kami di kirim kotak misterius yang isinya boneka serem yang penuh dengan darah dan surat peringatan, aku yakin kalau itu semua dari dalang utamanya" jawab Rev.


"Kemarin pas aku pulang dari makam Jia ada orang yang ikutin aku dari belakang, aku yakin itu dia, cuman aku gak sadar aja" tambah Clara.

__ADS_1


"J-jadi dalang utamanya udah tau dong apa yang kita lakukan selama ini" terkesiap Steven.


Keduanya mengangguk, mereka juga tidak pernah menyangka bahwa apa yang ingin mereka sembunyikan bisa di ketahui dengan sangat cepat.


__ADS_2