
Angkasa menatap punggung mereka yang semakin lama semakin menjauh dan tak terlihat lagi.
Setelah memastikan mereka telah benar-benar pergi Angkasa berlari mendekati pohon besar yang berada di tengah-tengah taman yang tak jauh dari posisinya berada.
Angkasa berhenti tepat di pohon yang sebesar itu."Kamu siapa, kenapa kamu nyuruh aku kemari?"
Angkasa menatap seorang siswi yang duduk di balik pohon besar itu, wajahnya pucat dan banyak darah yang memenuhi bajunya.
Wajah gadis itu mendongak menatap Angkasa dengan tatapan kosongnya.
"Ikuti aku" ajak gadis itu bangkit dari duduk dan berjalan lurus ke sebelah selatan.
"Mau kemana?" Angkasa masih diam di tempat, ia ingin memastikan terlebih dahulu gadis itu akan membawanya kemana.
Gadis itu menghentikan langkah lalu berbalik menatap ke arah Angkasa yang mengernyitkan dahi.
"Ikuti saja" ajaknya kembali lalu kembali berjalan tanpa henti.
Angkasa yang penasaran mau mengikuti gadis itu, ia ingin tau gadis itu akan membawanya kemana.
"Kemana dia akan membawa ku pergi, sebenarnya siapa dia, apa dia yang tadi pagi baru meninggal, tapi kayaknya bukan deh, yang tadi pagi meninggal kan wajahnya penuh dengan darah, tapi dia tidak, ku rasa dia orang yang berbeda" batin Angkasa masih penasaran pada sosok yang tak tau akan membawanya kemana.
Kaki Angkasa hanya bisa mengikuti kemana gadis itu akan membawanya pergi, sepanjang perjalanan yang ada di pikirannya hanyalah dugaan-dugaan saja yang masih tidak tau kebenarannya.
Gadis itu membawa Angkasa ke tempat kejadian di mana Dyera menghembus nafas terakhirnya.
Angkasa semakin bingung apa yang akan gadis itu lakukan di sana padahal tidak ada apapun yang menarik di sana.
__ADS_1
"Kenapa kamu bawa aku kemari, apa yang mau kamu lakukan?" heran Angkasa.
Gadis tak menjawab, ia terus berjalan sampai langkahnya terhenti di sebuah batu besar yang terletak di sebelah barat pinggir paving.
"Dia ada di sini" tunjuk gadis itu ke arah batu besar itu.
Angkasa mengerutkan dahi, ia tak mengerti apa yang di maksud gadis itu, ia pelan-pelan mendekatinya lalu menatapnya dengan terkejut.
"Apa maksud mu, ada apa dengan batu ini, ini cuman batu biasa, tidak ada yang menarik di sini" ujar Angkasa yang semakin heran apa yang ingin gadis itu tunjukkan sebenarnya.
"Balik batu ini" titah gadis itu dengan wajah yang serius.
Angkasa menurutinya, ia penasaran ada apa di balik batu itu, ia pun membalik batu yang berukuran lumayan besar itu dengan sekuat tenaganya.
Mulut Angkasa ternganga, ia tercekat dengan apa yang ia lihat saat ini, benda yang terdapat di balik batu itu mampu membuatnya tercengang.
"P-pisau, mengapa di sini ada pisau!" terkesiap Angkasa benar-benar sangat-sangat terkejut dengan penemuan pisau yang masih berlumuran darah di balik batu besar itu.
"Pisau itu milik orang yang selama ini kamu cari-cari, dia menyimpan pisaunya di sini, tujuannya baik, jangan hentikan dia" ujar gadis itu.
Bertapa kagetnya Angkasa dengan penuturan gadis itu yang sangat-sangat tak masuk akal.
"BAIK? kamu bilang tujuannya baik, dia itu sudah membunuh 3 orang dalam waktu yang berdekatan, tapi kamu masih bilang tujuannya baik, baik dari mananya!" heran Angkasa dengan jalan pikiran gadis itu.
"Aku bilang tujuannya baik, dia orang baik yang terluka, dia melakukan ini karena ada sesuatu hal yang tersembunyi, walaupun dia telah melenyapkan 3 orang siswi, tapi ketahuilah 3 orang siswi yang dia bunuh itu lebih kejam dari seorang pembunuh!" sebut gadis itu dengan tegas dan kejamnya.
Angkasa semakin tidak mengerti, orang yang telah berbuat kriminalitas di sebut baik oleh gadis yang menunjukkan senjata tajam yang selama ini di gunakan oleh dalang utamanya untuk membunuh orang-orang.
__ADS_1
"Maksud mu apa, kenapa kamu bilang gitu, aku memang mengakui kalau Dyera jahat, tapi Kayla dan Jia itu gak jahat" Angkasa membela keduanya, ia merasa keduanya tidak jahat seperti Dyera.
Tatapan tajam dan kosong milik gadis itu menatap ke arah Angkasa yang berdiri di sampingnya.
"Kamu hanya mendengar kebaikan mereka berdua saja, kamu tidak dengar kejahatan apa yang sudah mereka perbuat, jika kamu tau, kamu tidak akan pernah menyebut malam itu gelap" ujar gadis itu dengan penuh penekanan kemudian menghilang secara tiba-tiba.
"Yaaah...kok dia pergi sih, aku kan belum selesai ngomong, kenapa dia main pergi aja, aku belum nanya banyak hal sama dia, aku rasa dia tau segalanya, aku juga yakin kalau dia tau siapa orang yang sudah bunuh mereka bertiga" yakin Angkasa.
"Kemana lagi aku harus cari dia, kalaupun aku cari dia di seluruh sekolahan ini dia gak akan nampakin dirinya" raut wajah Angkasa berubah saat gadis misterius itu pergi meninggalkannya begitu saja.
Angkasa patah semangat setelah di tinggal pergi oleh gadis itu, tiba-tiba pandangannya kembali jatuh pada pisau yang tertempel darah namun darahnya sudah mengering.
Angkasa mengambil pisau itu, ia menyimpan pisau di dalam tasnya, tidak mungkin pisau itu ia biarkan berada di sana, bisa-bisa pelakunya akan kembali melakukan aksinya yakni membunuh orang.
"Aku akan simpan baik-baik pisau ini, aku tidak akan membuangnya, akan aku kumpulkan satu persatu bukti yang tertinggal, aku yakin aku pasti bisa temukan dia, cepat atau lambat aku akan bisa temukan titik terang dari kasus ini" penuh keyakinan Angkasa.
"Oh iya di mana teman-teman ku, tadi aku gak berangkat bareng sama mereka, aku harus cari mereka, aku harus pastikan mereka aman" Angkasa teringat pada personil band Amanda yang juga berada di sekolahan ini bersamanya.
Angkasa berlari meninggalkan taman, ia mencari keberadaan teman-temannya, ia berharap bisa menemukan mereka.
Sambil mencari Angkasa sambil menghubungi salah satu di antara mereka, wajahnya tampak panik, ia khawatir di antara mereka ketahuan dan akan membuatnya terseret, lagi pula saat ini ada artikel yang menyebutkan bahwa mereka berada di kota ini dan itu semakin membuat personil band Amanda merasa tercekik.
"Kamu di mana, kamu ada di sekolahan ini juga bukan?" penasaran Angkasa saat panggilan terhubung.
"Iya, aku sama yang lain ada di sekolahan, kami ada di lapangan, kamu ke sini aja" suruh Aryan.
"Ngapain kalian ada di sana, kurang kerjaan banget" ujar Angkasa.
__ADS_1
"Kami lihat anak-anak tanding basket, udah kamu ke sini aja, di sini aman kok, gak akan ada yang curiga" perintah Aryan.
Angkasa membalas dengan dehaman, ia mematikan sambungan telpon dan berlari menuju lapangan yang tak begitu jauh juga.