
Clara cemberut karena tak bisa mencakar habis orang yang sudah mengacak-acak rambutnya, amarahnya harus di tahan.
"Iiih habisnya dia ngeselin" pekik Clara rasanya tak terima sebab amarahnya belum menghilang di lubuk hatinya.
"Udah-udah jangan berantem lagi, kita harus fokus sama kasus ini, ini bukan waktunya kita becanda" lerai Rev sebagai penengah di antara mereka.
Aldo tersenyum puas sebab Clara tak bisa berkutik.
Angkasa mengeluarkan buku misterius itu."Nama selanjutnya yang dj jadikan target adalah Gina Ariani, dia yang patut kita lindungi saat ini"
"Di antara kalian ada yang tau informasi tentang Gina?" tanya Steven.
Semua mata langsung terarah pada Aldo."Loh kok aku"
"Iya kan biasa kamu yang tau segalanya" jawab Clara.
"Tapi kali ini aku gak tau apapun tentang Gina, kalian jangan nanya sama aku prihal dia, kalau masalah Cantika, aku memang tau, tapi kali ini aku gak tau sama sekali soal Gina" tolak Aldo.
"Kamu gimana sih, masa beginian aja gak tau, payah memang" omel Clara.
"Hello nona, aku ini manusia, wajar aku gak tau segalanya, kamu jangan nganggep aku itu tau seluk-beluk tentang dunia ini" balas Aldo tak terima.
"Benar-benar gak bisa di andalkan" gerutu Clara menatap jengkel Aldo.
"Udah-udah, kalian jangan berantem lagi, mending kita cari aja Gina, hanya dia satu-satunya orang yang masih hidup di geng monster itu, kita harus selamatkan dia sebelum nyawanya melayang" lerai Rafael.
"Betul itu, ayo kita cari Gina, kita jangan buang-buang waktu lagi, kita harus cepet-cepet temuin Gina, sebelum penjahat itu membunuhnya" setuju Steven.
"Ayo kita cari Gina di kelasnya, aku yakin dia pasti ada di sana" ajak Angkasa.
Mereka semua pun setuju, mereka berlari mendatangi kelas Gina yang berada di lantai 4.
Mereka yang berjumlah 9 orang berlarian di koridor, mereka tidak peduli pandangan orang-orang yang menatap aneh mereka semua.
Dengan secepat mungkin mereka berlari ke kelas Gina, tanpa banyak bicara mereka masuk ke dalam kelas Gina.
"Kalian liat Gina gak?" tanya Rev.
__ADS_1
"Enggak kak, kayaknya Gina masih belum datang" jawab teman wanita yang satu kelas dengan Gina.
"Belum datang ya?" mereka semua mengangguk, mereka sempat terkejut dengan kedatangan mereka semua yang dadakan.
"Makasih ya" ujar Rev.
"Iya kak Rev" sahut mereka.
Mereka semua keluar dari kelas Gina kala tak menemukan Gina di sana.
"Gina belum datang, apa yang harus kita lakuin ini, kita harus bergerak secepat mungkin biar gak kecolongan lagi" cemas Rev.
"Kita mau lakuin apa, orang yang mau kita lindungi aja belum datang, kita gak bisa apa-apa selain nungguin dia datang" sahut Aldo.
Mereka semua tampak gelisah, mereka tak ingin Gina menjadi korban selanjutnya.
"Eh itu layak Gina deh" ujar Angkasa.
"Mana?" penasaran mereka semua.
"Iya itu beneran Gina, tapi ngapain dia ada di sana, itu kan gedung anak IPA, dia kan IPS" terkejut sekaligus heran Steven.
"Apapun alasannya itu gak penting, sekarang ayo kita ke sana, kita harus temui dia sebelum penjahat itu ngapa-ngapain Gina" ajak Clara yang di balas anggukan oleh mereka semua.
Mereka berlari mendatangi gedung sebelah tempat yang saat ini di injak oleh Gina.
Setelah sampai di gedung dan lantai tempat mereka melihat Gina, kini mereka di hadang dengan satu kesulitan.
"Di mana dia, tadi dia ada di mari, kemana dia, apa dia udah turun" gelisah Aryan karena tak menemukan batang hidung Gina.
"Gak mungkin, dia pasti masih ada di sini, gak mungkin dia pergi secepat ini, ayo kita cari saja dulu dia di sekitar sini" saran Clara.
Mereka dengan wajah tegang dan panik mulai mencari kebenaran Gina, mereka sungguh takut kehilangan jejak Gina.
"Gina kamu di mana sebenarnya, kenapa dia ngilang dengan waktu yang singkat banget, dia gak mikir apa kalau dia itu lagi dalam bahaya" panik Rev kala tak kunjung menemukan keberadaan Gina.
"Kita pasti akan temuin Gina kok, dia pasti bisa kita selamatkan dari penjahat itu" sahut Steven.
__ADS_1
"Eh stop dulu" Angkasa menghentikan langkah mereka.
"Ada apa?" mereka semua mengerutkan alis dan menatap ke arah Angkasa.
"Itu bukannya Gina" tunjuk Angkasa pada seorang gadis berjalan tanpa arah di koridor yang sepi.
Mereka melihat orang yang Angkasa tunjuk dan benar saja ada gadis yang berjalan lurus ke depan.
"Iya itu beneran dia, ayo kita samperin dia" ajak Clara semangat.
Dengan cepat mereka berlari mengejar Clara yang lari duluan.
"Gina, Gina kamu mau kemana, kenapa kamu ada di sini, apa yang kamu cari di sini, kamu kan jurusan IPS, kenapa malah ada di IPA" Clara bingung sehingga ia bertanya langsung pada orang yang bersangkutan.
"Aku takut berada di sana, aku takut dia bunuh aku seperti dia membunuh teman-teman ku" jawab Gina dengan wajah pucat, mata sembab, terlihat bahwa dirinya benar-benar ketakutan.
"Gina kamu jangan khawatir, ada kami yang akan lindungin kamu" sahut Steven.
"Iya Gina, kami akan lindungin kamu, dia gak akan bisa ngapa-ngapain kamu, kamu jangan takut, ada kami di sini" tambah Bryan.
Gina berhenti melangkah, bola mata sembabnya menatap ke arah mereka semua.
"Gak bisa, aku gak bisa tenang, dia itu penjahat, dia bisa saja bunuh aku, aku takut banget sama dia, aku gak nyangka kalau dia bunuh satu persatu teman-teman aku" Gina trauma melihat keempat temannya telah meninggal dunia dengan cara yang benar-benar sadis.
"Gina kamu jangan takut, ada kami di sini, kami yang akan lindungi kamu" Rev menenangkan Gina yang bergetar karena takut.
Wajah Gina pucat, matanya sembab karena terus menerus menangis semalaman.
"Kami akan pastikan bahwa kamu akan baik-baik saja, tapi sebelumnya apakah kamu tau siapa orang yang sudah membunuh teman-teman kamu?" Clara nekat bertanya pada Gina yang terus ketakutan.
Gina menggeleng."Aku gak tau, aku gak tau siapa dia"
Gina menoleh ke arah lain kala menjawab pertanyaan yang Clara ajukan.
"Enggak mungkin, kamu pasti tau siapa dia, karena kamu juga terlibat dalam masalah ini, aku yakin kamu tau siapa dia" Clara curiga bahwa Gina sengaja menyembunyikan siapa dalang yang telah meresahkan warga sekolah.
"Oke aku akui kalau aku tau siapa dia, tapi aku gak bisa bilang sama kalian, karena selain aku, nyawa orang-orang terdekat ku akan terancam, apalagi kalian, dia pasti akan bunuh kalian, aku gak bisa bilang sama kalian, aku gak mau ngambil resiko" untuk menyelamatkan semua orang Gina rela tutup mulut, ia takut terjadi apa-apa pada orang terdekatnya yang ia sayangi dan sangat ia cintai.
__ADS_1