
Di tengah sirene ambulance yang memecah keheningan tiba-tiba ponsel Angkasa bergetar, Angkasa tanpa banyak bicara langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo ada apa?" tanya Angkasa pada orang yang menghubunginya.
"Gimana sa kabar Cantika, dia baik-baik saja kan?" di seberang telpon Reyhan cemas memikirkan keadaan Cantika yang tadi di larikan ke rumah sakit.
Mereka berempat tak ada yang ikut karena Angkasa tak memperbolehkannya, mereka di sekolahan menunggu dengan tidak tenang.
"Cantika meninggal, aku sama yang lain lagi nganterin dia ke rumah duka" jawab Angkasa.
"APA MENINGGAL!" tersentak kaget Reyhan.
Aryan shock berat kala tau bahwa Cantika menghembuskan nafas terakhirnya, ia memberi bahwa Cantika akan selamat.
"Iya, Cantika menghembuskan nafas saat di perjalanan menuju rumah sakit, nyawanya gak ketolong, aku sama yang lain lagi menuju ke rumah Cantika" sahut Angkasa.
"Share look sa, aku sama yang lain juga akan ke sana" titah Rafael ikutan shock kala mengetahui berita pahit itu.
"Iya, aku tunggu kalian di sana, aku tutup dulu, aku lagi ada di perjalanan" jawab Angkasa.
Mereka semua mengangguk, Angkasa mengeshare lokasi agar mereka juga ikut mendatangi rumah Cantika.
Angkasa menatap jalanan dengan termenung, pikirannya kosong, ia seperti tidak memiliki arah untuk melangkah.
Reyhan menatap mereka semua yang panik di depan gerbang sekolah."Ayo kita ke rumah Cantika, kita harus temui Angkasa di sana"
"Iya ayo, sebentar aku akan cari taksi dulu" Bryan maju paling depan, ia melirik ke kanan dan kirinya mencari taksi agar bisa mengantarnya ke rumah Cantika.
"Pak-pak, berhenti pak!" suruh Bryan kala ada taksi yang akan segera melintas.
Taksi itu berhenti sesuai apa yang Bryan mau, mereka semua langsung masuk ke dalam taksi.
"Anterin kami ke jalan kelinci kompleks B pak" titah Rafael.
"Bak dek" supir taksi itu kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang mereka inginkan.
__ADS_1
Angkasa dan yang lain masih mengikuti ambulance dari belakang, tatapan penuh kesedihan terlihat dengan jelas di mata mereka.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Cantika yang terletak di jalan kelinci.
Aldo keluar dari dalam mobil, ia berusaha untuk tegar, ia tidak boleh terlihat rapuh.
Sari ibunda Cantika merasa heran sekaligus terkejut saat kedatangan ambulance ke rumahnya.
Sari dengan yang perasaan tidak enak menghampiri Aldo yang ia kenali di antara mereka semua.
"Aldo siapa yang meninggal, kenapa ada ambulance datang kemari, perasaan di sini gak ada orang yang meninggal?" dengan wajah panik Sari bertanya pada Aldo.
Pikirannya tiba-tiba berkecamuk, hatinya dag, dig, dug menunggu jawaban Aldo.
Aldo menghela nafas berat, untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sari membuat Aldo merasa tak tega.
"Aldo kenapa kamu diam saja, katakan sama tante siapa yang meninggal" Sari yang sudah greget menggoyangkan tubuh Aldo yang tiba-tiba menjadi diam.
"Tante yang meninggal itu Cantika" jawab Aldo dengan menahan tangisnya, rasanya ia tidak kuasa mengatakan itu semua sama Sari.
Jantung Sari seakan berhenti berdetak, apa yang barusan ia dengar benar-benar membuat dunia terhenti.
"A-apa maksud kamu, kamu jangan mengada-ada Aldo, Cantika baik-baik saja, dia palingan sekarang ada di sekolahan, tante sendiri yang udah anterin dia, tidak mungkin dia yang meninggal" tolak Sari akan berita buruk itu.
"Tante Cantika meninggal karena bunuh diri, dia menjatuhkan tubuhnya dari lantai 3, dia meninggal saat di larikan ke rumah sakit" jelas Aldo.
Sari tertegun, tubuhnya terguncang hebat, anak yang dia sayang di kabarkan telah tiada, ia selama ini berjuang agar Cantika bisa hidup dengan layak, namun segala perjuangannya sia-sia.
"Cantikaaaa" teriak Sari dengan menangis histeris, ia langsung berlari mendekati tubuh putrinya yang di keluarkan oleh petugas rumah sakit.
"Cantika kamu kenapa nak, apa yang sudah terjadi sama kamu, kenapa kamu ninggalin mama hiks hiks hiks" isakan tangis Sari menyayat hati, ia menumpahkan air matanya, ia tak kuasa menahan tangisnya kala mengetahui bahwa putrinya sudah meninggal dunia.
Aldo menjauhi keramaian, dadanya terasa sesak, hari ini segala pertahanan Aldo runtuh, hanya hari ini segalanya bisa runtuh dan membuatnya hancur sedalam samudera.
Teriakan dan tangisan Sari terdengar keras, warga-warga sekitar dengan terkejut mendatangi rumah Sari, mereka yang mendengar bahwa Cantika telah meninggal shock berat.
__ADS_1
Kesedihan menyelimuti keluarga Cantika, tangisan masih sesekali terdengar, prosesi pemakaman Cantika mulai di lakukan, warga-warga berdatangan dan bahu membahu membantu keluarga Sari yang tengah berduka.
Angkasa duduk termenung di depan rumah Cantika, ia menatap jalanan yang banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang dengan pikiran kosong.
"Angkasa" panggilan itu membuyarkan lamunan Angkasa.
Angkasa dengan terkejut menatap ke arah empat orang yang menghampirinya."Akhirnya kalian sampai di sini juga"
"Di mana Cantika?" dengan wajah panik Bryan bertanya pada Angkasa.
"Dia ada di dalam, kayaknya dia lagi di mandiin, habis ini dia pasti akan di sholatkan, kita semua harus ikut ke pemakamannya" ujar Angkasa.
"Itu pasti sa" jawab Rafael.
"Ngapain kamu di sini sendirian, mana yang lain, kenapa kamu gak gabung sama mereka?" heran Aryan.
"Mereka ada di dalam, aku sengaja nunggu kalian di sini, ayo kita ke dalam temui mereka" ajak Angkasa yang di balas anggukan oleh mereka.
Mereka semua melangkah masuk ke area rumah Cantika yang tidak terlalu besar namun designnya elegan dan menawan.
Mereka semua melihat betapa hancurnya hati Sari ibu Cantika kala mendengar berita duka ini.
Angkasa menatap ibu Cantika yang begitu kehilangan Cantika."Tante, tante tenanglah, aku akan pastikan bahwa kelak kami akan menemukan orang yang sudah membuat mental anak mu hancur sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, aku tidak akan pernah berhenti tante, sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhenti sebelum dia di tangkap" batin Angkasa.
Angkasa membulatkan tekad, ia tidak akan pernah berhenti, sudah ada banyak nyawa yang melayang gara-gara dalangnya.
Cantika sudah selesai di kafani, para kaum adam menyolati Cantika terlebih dahulu, baru setelah itu mereka berangkat mengantar Cantika ke pengistirahatan terakhirnya.
Saat akan di antar menuju pemakaman umum Sari, ibu Cantika langsung jatuh pingsan, warga-warga yang ada di sana langsung membawa Sari masuk ke dalam rumah.
Rata-rata yang ikut ke pemakaman adalah laki-laki, ustadz di sana melarang seorang perempuan untuk ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman lantaran akan menimbulkan syahwat dan lain-lain.
Ketika ambulance sudah sampai di pemakaman umum, warga-warga dan para teman-teman serta family Cantika mengangkat keranda dan berjalan menuju liang lahat.
"Laa ilaha illallah muhammadur rasullulah" kalimat itu di ucapkan sepanjang perjalanan menuju liang kubur.
__ADS_1