Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Berhamburan keluar


__ADS_3

Matahari dengan perlahan-lahan mulai terbit, segala aktivitas manusia kembali di mulai, begitu pula dengan seorang aktis sekaligus penyanyi terkenal yang tak lain adalah Angkasa Dirgantara.


Pria bermanik coklat itu bangun pagi-pagi sekali, pukul setengah 5 ia berangkat ke sekolahan, ia sudah berjanji akan sampai di sekolahan jam 6.


Mobil yang membawa Angkasa berhenti di tempat biasa, Angkasa berjalan menuju sekolahannya yang sudah tak terlalu jauh.


"Mana Clara, kenapa jam segini belum datang juga, apa mungkin Clara lupa sama janjinya sendiri" Angkasa bolak balik menatap jam yang melingkar di tangannya.


Angkasa menunggu Clara di depan gerbang dengan tidak tenang.


"Angkasa" teriak seseorang berlari mendekati Angkasa.


Angkasa menatap seorang wanita yang matanya sembab karena semalaman menangis.


"Akhirnya kamu datang juga, ayo kita mulai cari tau mumpung masih pagi" Clara menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Ayo, tapi sebelumnya aku dapat informasi baru dari Jia terkait orang yang sudah bunuh dia" wajah Angkasa terkejut sekaligus senang karena sedikit demi sedikit informasi baru berdatangan.


"Informasi apa yang kamu dapat dari Jia, apa dia bilang siapa yang sudah bunuh dia?" Angkasa tak sabaran mendengar jawaban Clara, ia juga ingin tau siapa orang yang berada di balik misteri ini.


"Jia bilang kalau kita mau tau siapa yang sudah bunuh dia, kita harus cari tau dulu alasan mengapa dia jadi anak introvert" Angkasa langsung mengerutkan alis, jawaban Clara benar-benar tak memuaskan.


"Kenapa kita harus cari tau alasan itu, apa itu ada hubungannya?"


"Jelas ada hubungannya sa, Jia jadi anak introvert itu karena ada hubungannya dengan pelaku yang sudah bunuh dia" yakin Clara, semakin ke sini ia semakin yakin bahwa dulu sahabatnya pernah menjalani kehidupan layaknya anak biasa pada umumnya, namun karena ada suatu persoalan yang menyebabkan Jia berubah draktis.


"Kita mau cari alasan tau di mana, aku yakin yang tau hanya Jia seorang, anak-anak di sekolahan ini jelas gak akan ada yang tau" Angkasa menganggap persoalan ini semakin bertambah rumit dan banyak sekali teka-teki yang harus di pecahkan.

__ADS_1


"Kita cari tau pelan-pelan sa, aku yakin kita pasti nemuin alasan itu, oh ya kemarin aku ke rumah Jia, aku di kasih buku harian Jia sama neneknya, aku coba cari informasi tentang Jia dari buku itu"


"Coba lihat buku itu, aku ingin tau" Clara mengambil buku itu dari tasnya.


"Ini bukunya, tadi malam aku udah baca, tapi masih belum sampai pada bab di mana masalah ini terjadi" karena membaca buku itu Clara tidur dalam balutan air mata, ia menangis tersedu-sedu membaca tiap bait kata yang menguras air mata.


Angkasa menatap buku itu dengan seksama."Begini saja Clara, sebelum kita selidiki satpam di sekolahan ini, kita baca dulu sampai habis isi buku ini, kalau ternyata gak ada apapun yang kita cari di buku ini, baru kita bergerak menyelidiki satu-persatu orang-orang yang patut di curigai"


"Iya, ayo kita ke perpustakaan aja, aku mau baca buku ini di sana" Angkasa mengangguk setuju, di sana adalah tempat yang paling aman untuk mereka berdiam diri dan membicarakan tentang kasus ini.


Angkasa dan Clara berlari menuju perpustakaan, suasana sekolahan masih sepi, anak-anak yang datang hanya seperempat saja, yang lain masih belum pada datang karena ini masih pagi.


Langkah keduanya berhenti tepat di depan perpustakaan, Clara membuka pintu perpustakaan.


Makhluk halus yang menghuni perpustakaan berhamburan keluar, Clara dan Angkasa di kagetkan oleh tindakan mereka.


"Mereka kayaknya gak suka di lihat sama kita, ayo kita masuk aja, biarkan saja mereka" Angkasa mengangguk, ia merasa merinding melihat banyak makhluk halus yang mulai menghilang satu persatu dari perpustakaan itu.


Clara mengambil duduk di sana, ia dengan seksama membaca buku harian Jia yang berhasil membuatnya penasaran.


Sementara Angkasa menatap sekelilingnya yang terdapat banyak makhluk halus yang masih belum pergi.


Di pojokan terdapat seorang laki-laki yang tubuhnya di bungkus oleh kain kafan, kulitnya berwarna hitam legam, matanya melotot tajam.


Angkasa membuang muka, lama-lama menatap seramnya pocong itu membuatnya tak nafsu makan.


Mata Angkasa menyorot seorang wanita berpakaian putih dan panjang berdiri di dekat rak buku, rambut wanita itu amat panjang, sebagian wajahnya di tutupi oleh rambut, wajah wanita itu hancur lebur.

__ADS_1


Angkasa mengusap wajahnya."Kenapa di sini banyak sekali penampakan, kemarin memang banyak, tapi gak seseram ini" batin Angkasa.


Angkasa dengan takut menatap mereka bergantian, ia langsung bergidik ngeri namun ia tidak mau menunjukkannya.


Untuk menghilangkan rasa takut Angkasa mengeluarkan buku misterius yang belum selesai ia baca, halaman buku itu amat banyak, Angkasa masih berada di halaman 12.


Mereka berdua terus membaca buku dengan fokus, satunya ingin mencari bukti satunya lagi hanya penasaran dengan isi buku tersebut.


Teeet


"Yah dah bel, aku masih belum selesai baca buku ini" ujar Clara yang tak rela menutup buku itu untuk sesaat.


"Kamu udah baca sampai pertengahan?" Clara menggeleng cepat.


"Pertengahan? seperempat aja masih belum, buku ini panjang dan tebal, lama untuk bisa baca tuntas buku ini" celetuk Clara menatap lembaran demi lembaran buku yang super duper banyak.


"Kita sambung nanti aja bacanya, ini udah masuk, kita harus balik ke kelas, nanti kita di sangka telat" saran Angkasa.


"Kita mau tarok buku ini di mana, kalau menurut aku buku ini tarok di sini saja, gak akan ada orang yang tau kok, lagian perpustakaan ini jarang ada orang yang masuk ke dalam" Clara menatap seluruh penjuru perpustakaan, ia mencari tempat yang aman untuk menyimpan buku itu.


"Kamu cari aja di sekitar sini tempat yang aman, habis itu kita balik ke kelas" Clara mengangguk, ia berjalan mendekati rak buku paling pojok yang di rasa tempat paling aman untuk menyembunyikan buku tersebut.


"Kayaknya di sini tempat yang aman, aku tarok aja buku ini di sini, lagian gak akan ada orang yang tau prihal buku ini" Clara meletakkan buku itu di rak nomor 3 dari atas, habis itu ia kembali mendekati Angkasa yang menunggunya.


"Ayo kita ke kelas" Angkasa mengangguk setuju, kaki mereka melangkah keluar dari dalam perpustakaan.


Clara tak lupa menutup pintu perpustakaan agar tidak ada orang yang masuk ke dalam, lalu lanjut berjalan menuju kelas yang tak begitu jauh dari sana.

__ADS_1


__ADS_2