
Mobil terus melaju dengan kencang, tak lama dari itu mereka sampai di rumah, mereka semua langsung masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.
Angkasa dengan letih masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua, ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah berganti pakaian, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
Pandangan Angkasa menatap langit-langit kamarnya dengan memikirkan kejadian yang terjadi tadi di dalam mobil yang berhasil membuat separuh nafasnya berhenti.
"Mereka mau ikut juga ke dalam masalah ini, gimana ini, aku takut mereka kenapa-napa, kalau ada apa-apa yang terjadi sama mereka gimana?" gelisah Angkasa yang khawatir berat pada teman-temannya.
Angkasa tidak memikirkan dirinya sama sekali, ia terus memikirkan keadaan teman-temannya yang menjadi tanggung jawabnya saat ini.
"Gimana caranya aku hentiin mereka, mereka itu keras kepala, mereka akan sulit buat aku hentiin, aku harus gunain cara apa buat hentikan mereka, mereka gak boleh ikut campur dalam masalah ini, cukup aku aja yang terjerumus, jangan mereka juga" Angkasa semakin kebingungan, ia semakin gelisah harus apa, ia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada teman-temannya.
Angkasa mengacak rambutnya dengan kasar, ia benar-benar sangat frustasi, Angkasa yang mulai tidak tenang keluar dari dalam kamarnya, ia berdiam diri di balkon untuk menenangkan pikirannya yang mulai kacau.
Hembusan angin yang menerpa wajah Angkasa berhasil membuatnya sedikit merasa tenang, dalam keadaan kacau seperti ini hanya tempat seperti ini yang ia cari-cari.
"Aku harus yakinkan mereka agar mereka tidak jadi menyelidiki kasus ini bersama ku, aku gak bisa ngambil resiko bawa mereka juga ke dalam kasus besar ini!" Angkasa sudah mengambil keputusan, gimana pun caranya ia harus bisa menghentikan mereka.
"Iya, aku harus hentikan mereka, besok aku akan coba buat hentikan mereka lagi" ujar Angkasa.
Angkasa masih diam di tempat, ia enggan untuk berpindah, dari atas balkon Angkasa melihat ke sekitarnya yang banyak sekali rumah warga, lampu-lampu yang menyinari itu berhasil melegakan perasaannya.
Setelah puas berada di sana, Angkasa bangkit dari duduk, ia masuk ke dalam kamar kembali lalu mengambil jaket dan keluar dari dalam kamarnya.
Angkasa keluar dari rumah, ia berniat akan pergi mencari makan di luar, perutnya mulai keroncongan, ia ingin membeli makanan di luar saja.
__ADS_1
Dengan pelan-pelan Angkasa berjalan menjauhi rumahnya, di depan kompleks rumah Angkasa terdapat Alfamart yang cukup besar dan letaknya tak begitu jauh, hanya tinggal berjalan kaki saja.
Angkasa masuk ke dalam, ia membeli snake yang ia suka, habis itu keluar dari dalam Alfamart setelah membayarnya, Angkasa tidak langsung pulang ke rumah, ia masih mampir ke kedai jualan bakso yang sangat ramai, jaraknya tak jauh dari letak Alfamart itu berada.
Angkasa menunggu pesanannya siap, ia melirik ke kanan dan kiri untuk melihat situasi, Angkasa menunduk saat ada 3 orang perempuan yang mendekati tempat yang sama dengannya.
"Semoga mereka gak ngenalin aku" batin Angkasa yang was-was, ia khawatir mereka ada yang sadar bahwa di sampingnya adalah dirinya.
Berdekatan dengan mereka membuat hati Angkasa berdegup kencang, kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya, namun ia tidak bisa pergi agar tidak menimbulkan kecurigaan yang mendalam di hati mereka.
"Ini mas pesanannya" ujar Abang bakso itu dengan memberikan pesanan Angkasa.
Angkasa langsung menerimanya, lalu memberikan uang pas kemudian pergi dari sana.
"Huft untung aja mereka gak ada yang ngenalin aku, rasanya aku lega banget karena bisa keluar tanpa ketahuan sama siapapun" lega Angkasa yang berhasil selamat malam ini.
Dengan langkah santai Angkasa berjalan pulang ke rumahnya yang tak terlalu jauh juga.
Angkasa menoleh ke sebelah timur, alangkah kagetnya ia saat melihat seseorang yang sangat ia kenali.
"I-itu bukannya gadis yang tadi aku temui di dekat perpustakaan, dia juga yang nunjukin bahwa di belakang sekolah ada rambut seseorang yang masih di katakan misterius" tunjuk Angkasa ke arah gadis misterius itu.
Gadis misterius itu berdiri di dekat pohon dengan wajah pucat dan sangat seriusnya.
"Mau ngapain dia di sini, aku harus samperin dia" Angkasa berlari mendekati gadis itu yang terbilang cukup misterius.
__ADS_1
"Kamu orang yang tadi kan, kenapa kamu ada di sini, apa rumah kamu ada di sekitar sini juga?" Angkasa langsung mengajukan pertanyaan, ia penasaran mengapa tiba-tiba gadis itu mendatanginya.
"Tidak, aku tidak tinggal di sini, aku datang ke sini hanya karena ingin memperingati kamu aja" sahut gadis itu dengan tatapan kosongnya.
Angkasa mengerutkan alis."Maksud mu apa, peringatan apa yang ingin kamu bilang sehingga kamu datang menemui ku lagi?"
Angkasa tidak mengerti maksud kedatangan gadis itu.
"Lihatlah, di dekat tembok itu ada seseorang yang terus menerus ikutin kamu sejak kamu tinggal di kota ini" tunjuk gadis itu pada sebuah tembok rumah warga yang tak jauh dari sana.
Angkasa melihat tembok yang gadis itu tunjuk, ternyata benar di sana terdapat seseorang laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam, dia menguping pembicaraan mereka sejak tadi.
"Siapa dia, kenapa kamu bilang dia terus ikutin aku?" tercekat Angkasa, ia benar-benar tidak menyadari bahwa ada orang yang mengikutinya dari belakang selama ini.
Angkasa mengira bahwa dia aman-aman aja selama ini, namun siapa sangka musuh sudah bergerak terlebih dahulu, saking rapihnya Angkasa tidak menyadari pergerakannya sama sekali.
"Dia orang yang kamu cari-cari, dia orang ingin kamu tangkap, dia selama ini berusaha mencari tau tentang mu, dia selalu mengikuti mu kemana pun, kamu saja yang tidak menyadari keberadaannya" jelas gadis itu menatap sinis ke arah pria yang masih diam di tempat.
Angkasa shock berat, belum apa-apa saja musuh sudah bergerak sejauh ini untuk mengamati gerak-gerik tentang dirinya, dia masih belum terjun terlalu lama dalam kasus ini namun bahaya sudah sebesar ini.
"Kenapa aku gak sadar kalau selama ini ada orang yang ikutin aku, aku udah mastiin bahwa gak akan ada orang yang bakal ikutin aku, kenapa bisa kebobolan juga" Angkasa merasa gagal menebak situasi sehingga sang dalang telah tau segalanya tentang dirinya.
"Kamu tidak sepintar dia, dia itu licik, saking liciknya gak ada yang bisa menebak pikirannya" tutur gadis itu dengan tatapan mautnya.
Gadis itu tidak pernah menunjukkan wajah cerianya sama sekali, selama ini yang Angkasa liat wajahnya terus saja pucat, sinis, dan galak.
__ADS_1