
Evan berusaha keras untuk mencoba mengingat lagi. Kanaya membawa Evan ke bawah pohon yang sering dia tempati saat sedang istirahat. Evan ingat semuanya, tetapi tidak ingat tentang Kanaya. Sebenarnya apa yang terjadi sampai dirinya harus melupakan ingatan itu?
"Aku ingat, aku selalu duduk di tempat ini," ucap Evan tersenyum.
"Di sini juga pertama kali kita bertemu Kak. Saat itu aku disuruh Bu Janet untuk manggil Kakak. Karena aku gak tahu nama kakak, aku jadi panggil 'woi' aja." Kanaya tersenyum lebar mengingat saat pertama kali dia bertemu dengan Evan.
Sesaat Evan hanya terdiam dan mulai memegangi kepalanya. Kanaya melihat Evan kesakitan dan langsung memberikan pelukannya.
"Pelan-pelan aja Kak, jangan dipaksakan," ucap Kanaya merasa khawatir pada Evan.
"Hai Van, lo udah masuk sekolah lagi?" tanya Maria yang tiba-tiba datang.
"Iya nih Mar, gue harus sekolah lagi. Sebentar lagi kan ujian." Evan tersenyum simpul.
Kanaya melihat senyuman Evan dan merasa dia benar-benar kehilangan Evan yang dulu. Evan yang dingin terhadap perempuan lain kecuali yang sudah dekat dengannya.
"Boleh gue bawa Evan ke kelas?" tanya Maria pada Kanaya.
"Iya Kak, boleh. Kak Evan, nanti lagi ya. Aku juga ke kelas dulu." Kanaya langsung berjalan tanpa menunggu jawaban Evan. Rasa sesak tiba-tiba datang begitu saja manakala dia mengingat senyuman Evan untuk Maria.
Saat pulang sekolah, Evan mencoba datang lagi ke taman belakang sekolah untuk melihat-lihat. Ada sekelebat bayangan muncul di pikiran Evan. Saat Kanaya sedang menangis dan dia menenangkannya.
"Ingatan apa sebenarnya yang harus aku ingat lagi," gumam Evan.
Dia mendorong kursi rodanya menuju parkiran, sudah ada supir keluarga yang menjemputnya. Kanaya tidak terlihat sedari tadi setelah meninggalkannya bersama Maria.
"Gimana Den sekolahnya hari ini?" tanya sang sopir.
"Lancar Pak," jawab Evan tersenyum senang.
Evan senang bisa menunjukkan pada ibunya bahwa dia bersekolah dengan baik walaupun masih memakai kursi roda.
Arini dan Vania sudah menunggu Evan di rumah. Mereka berdua cemas dan takut Evan terkena masalah.
"Kak Evan kok gak sampai-sampai, Tante?" tanya Vania.
"Sabar, bentar lagi pasti sampai kok. Kan udah dijemput supir."
__ADS_1
Akhirnya Evan sampai di rumah dan langsung disambut oleh Vania.
"Kak Evan baik-baik aja?" tanya Vania cemas.
"Kakak baik-baik aja Dek. Lihat aja sendiri nih." Evan meregangkan tangannya memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.
"Gimana tadi di sekolah?" tanya Arini juga.
"Lancar Tante, biasa aja sih." Evan masuk ke kamarnya dibantu oleh Arini.
"Apa udah ada perkembangan tentang ingatan kamu?" tanya Arini hati-hati.
"Belum Tante. Apa itu ingatan yang menyakitkan?" Evan bertanya sambil menatap Arini.
"Hhmm Tante gak tahu itu ingatan yang menyakitkan atau engga. Karena cuma kamu yang bisa merasakannya. Tapi setahu tante, kamu jadi berubah saat kamu kehilangan Kanaya waktu itu."
"Coba ceritakan semuanya sama Evan, Tante."
Arini berpikir sejenak. Dia tidak ingin Evan memaksakan diri untuk mengingat semuanya tentang Kanaya.Namun karena desakan dari Evan, akhirnya Arini menceritakan semuanya secara detail. Betapa sedihnya dia saat Kanaya menghilang. Harapan yang selalu dia tanamkan pada dirinya sendiri seakan membohonginya karena Kanaya tidak pernah ditemukan. Pada suatu saat Evan berubah menjadi pribadi yang dingin dan cuek, tetapi tidak lama dia kembali dengan sifat yang lebih ramah pada perempuan lain. Keluarga Evan mengetahui kalau semua itu adalah cara Evan untuk menyembunyikan perasaan aslinya.
"Sangat sangat kehilangan, kami semua tahu itu. Tapi kamu menutupinya dengan baik."
Evan mulai memegangi kepalanya. Banyak sekelebatan ingatan yang masuk satu per satu ke dalam otak Evan dan membuatnya merasakan pusing. Arini yang melihat tingkah Evan, langsung memanggil supir untuk membawanya ke rumah sakit.
"Aaarrggghhhh!" teriak Evan untuk menyingkirkan rasa sakit yang teramat sangat pada kepalanya.
"Van, sadar sayang. Maafin Tante, Evan." Arini mencoba menenangkan Evan.
"Vania, cepat panggil supirnya suruh ke sini!" teriak Arini.
Tidak lama, supir datang bersama Vania. Evan dibawa ke rumah sakit dan Arini dengan cepat menghubungi Indi dan Arya. Evan terus saja berteriak sambil memegangi kepalanya.
"Evan sayang, sadar Van. Tante Arin minta maaf kalau salah ngomong." Arini menangis melihat keadaan Evan seperti itu.
"Tante jangan nangis dong, Vania jadi ikutan sedih." Vania ikut serta ke rumah sakit untuk menemani Arini.
Sampai di rumah sakit, Evan langsung dibawa masuk ke ruangannya dan diperiksa oleh Dokter.
__ADS_1
"Gimana Evan?" tanya Indi saat sampai di rumah sakit dengan raut wajah khawatir.
"Maafin Arin, Kak. Arin gak bermaksud bikin Evan kaya gitu." Arini menangis lagi semakin keras. Dimas mencoba menenangkannya.
"Udah gak pa-pa, Evan pasti baik-baik aja. Kita bahas nanti." Arya mengatakan hal yang dapat membuat Arini tenang.
Indi mengeluarkan air matanya saat menunggu Evan yang sedang diperiksa oleh dokter.
"Kamu kuat Nak, kamu anak yang kuat." Rapalan doa Indi dalam hatinya.
.
.
NOTE :
Bab selanjutnya seperti biasa ya dears jam 15.10.
Sambil nunggu up, intip dulu yuk karya teman author nih.
Judul : Kembali Ke Masa SMA
Author : Tita Dewahasta
Madya gagal dalam rumah tangganya. Mantan suaminya kemudian menikah dengan mantan baby sitter yang bertahun-tahun bekerja padanya.
Dia pun frustasi dan berandai kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Dalam sebuah perjalanan, kepala Madya terantuk setir mobil.
Beberapa saat setelahnya, dia kembali ke 18 tahun silam.
Dapatkah Madya memperbaiki hidupnya?
Dan bisakah Madya kembali ke masa sekarang, atau dia akan terjebak selamanya di kehidupan baru masa mudanya?
Ikuti kisahnya dalam novel 'KEMBALI KE MASA SMA'
__ADS_1