
Arya dan Indi sedang bersiap-siap untuk honeymoon ke pulau pribadi yang disewa oleh Arya. Mereka masih di rumah orang tua Arya, belum menempati rumah yang diberikan orang tua Arya sebagai kado pernikahan. Sebenarnya Indi berat meninggalkan Evan lagi. Tapi sekarang Evan juga lebih senang main dengan Nenek dan tantenya, Arini. Jadi Indi merasa lebih tenang.
"Udah selesai beresin kopernya?" tanya Arya pada Indi.
"Udah, ini yang terakhir," jawab Indi menutup resleting koper.
"I love you," kata Arya di telinga Indi, sambil memeluk Indi dari belakang.
"I love you too," balas Indi tersenyum.
"Gak nyangka kita udah jadi suami istri, Sayang," kata Arya.
"Iya aku juga masih 'gak percaya, Yang," kata Indi memanggil Arya dengan sebutan sayang juga.
Arya membalikkan tubuh Indi hingga berhadapan dengannya, lalu menekan tengkuk Indi dan mencium bibir Indi.
"Aku mau meminta jatah sebagai suami kamu boleh?" tanya Arya. Indi hanya mengangguk sambil tersenyum.
Arya lalu mencium Indi lagi dan tangannya mulai aktif kemana-mana. Ciuman Arya semakin dalam dan saat hendak membawa Indi ke atas tempat tidur, ketukan keras terdengar dari luar kamar.
"Mama, Papa," terdengar suara Evan memanggil.
"Evan, sayang," kata Indi tersenyum geli.
"Haaahh," hela nafas Arya kasar.
"Maaf ya," kata Indi, mengusap lengan Arya.
"Gak papa sayang, nanti kan bisa," kata Arya mencium bibir Indi lagi.
"Papa, Mama," teriak Evan lagi dari luar.
Indi dan Arya akhirnya keluar kamar.
"Kenapa sayang?" tanya Indi lembut.
"Mau main sama Papa, sebelum besok ditinggal," kata Evan memeluk pinggang Arya.
"Oke jagoan, mau main apa?" tanya Arya.
"Game aja Pah," kata Evan pada Arya.
"Oke, let's go," kata Arya menggendong Evan.
Indi melihat pemandangan yang benar-benar membuat hatinya hangat dan bahagia. Melihat kedekatan Evan dan Arya membuat Indi merasa bersyukur bisa bertemu dengan Arya.
"Kak Indi dipanggil Mama," kata Arini.
"Iya, Rin, ayo kamu ikut juga kan?" tanya Indi.
"Nanti Arin nyusul Kak," kata Arini bergerak gelisah.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Indi yang melihat gerak gerik Arini.
"Gak pa-pa Kak, udah itu dipanggil Mama," kata Arini lagi.
Akhirnya Indi pergi menemui Mama dan Arini masuk ke dalam kamar Arya dan Indi. Arini sedang merencanakan kejahilan sebagai kado pernikahan untuk Indi dan Arya. Setelah selesai, buru-buru Arini keluar kamar Arya dan menuju tempat keluarganya berkumpul.
Hari ini Indi dan Arya berangkat menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Wijaya.
"Sayang, yang nurut ya sama Nenek, Kakek, dan tante Arin," kata Indi pada Evan.
"Iya Ma. Mama sama Papa hati-hati ya," kata Evan.
"Anak pintar," kata Arya mengacak rambut Evan.
"Mah, Pah, titip Evan ya," kata Indi pada Mama dan Papa.
"Iya Nak, tenang aja, kalian bersenang-senanglah," kata Mama.
"Mah, Pah, kita pergi dulu," pamit Arya, lalu menggandeng tangan Indi menuju pintu masuk.
"Have fun, Kak," teriak Arini dengan senyuman mencurigakan.
"Kamu rencanain apa sih?" tanya Papa penasaran.
"Ada deh, biar pulang bawa ponakan lagi," kata Arini jahil.
"Nanti Evan punya adik ya Tante," tanya Evan polos.
Mama, Papa dan Evan tersenyum. Dan setelah Indi dan Arya masuk, mereka berempat memutuskan untuk berjalan-jalan ke Mall sebelum pulang ke rumah.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya mereka sampai di bandara pulau. Dan untuk menuju ke tempat yang telah Arya sewa, mereka harus menaiki kapal selama 30 menit perjalanan.
Sampai di tempat yang dituju, Indi dan Arya turun dari kapal kecil dan langsung terpana dengan pemandangan yang disuguhkan di depan mata.
"Wooaahh ini indah banget, sayang," kata Indi kagum.
"Kamu suka?" tanya Arya.
"Suka banget, makasih ya," kata Indi lalu mencium bibir Arya sekilas.
Arya langsung mengangkat tubuh Indi ala bridal style. Indi yang kaget langsung mengalungkan tangannya ke leher Arya.
"Bagaimana dengan bawaan kita sayang?" tanya Indi.
"Nanti ada yang bawain, tenang aja," kata Arya lembut.
Arya membawa Indi ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh pelayan, dihias sedemikian rupa sehingga memberikan kesan romantis dan mewah. Arya membaringkan tubuh Indi pelan-pelan ke atas tempat tidur. Membelai wajah Indi yang terlihat semakin cantik ketika tersenyum.
"Sayang, gimana kalau bersih-bersih dulu," kata Indi sedikit gugup.
"Sebentar aja, aku udah 'gak tahan," kata Arya dengan suara serak.
__ADS_1
Arya langsung mencium bibir Indi dengan lembut dan lama-kelamaan menjadi luma*an. Tidak menunggu lagi Arya langsung melakukan hal yang sudah lama dia tunggu. Meminta haknya sebagai seorang suami.
Setelah pergulatan di atas tempat tidur yang panjang, Indi tertidur karena lelah. Entah berapa kali Arya melakukannya, yang jelas tubuh Indi benar-benar merasa lelah.
"Maaf ya sayang, aku 'gak bisa kontrol," kata Arya mengelus pucuk rambut Indi sambil tersenyum.
Arya bangun menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Selesai bersih-bersih, Arya keluar dan melihat Indi sudah bangun dari tidurnya, sedang menerima telepon.
Call on.
"Iya sayang, Mama sama Papa udaha sampai dengan selamat kok, tadi Mama ketiduran jadi belum sempat ngabarin kamu," kata Indi pada orang yang telepon, yang pasti itu Evan.
"Ya udah, Mama sama Papa bersenang-senanglah. Evan juga senang sama Nenek dan Kakek," kata Evan.
"Iya, kamu jangan nakal ya," kata Indi pada Evan. Lalu telepon dimatikan.
Call off.
"Evan?" tanya Arya jongkok di samping tempat tidur Indi.
"Iya, dia tanya kenapa belum ngabarin kalau udah sampai," kata Indi tersenyum malu.
"Karena lagi bikin adik buat Evan," kata Arya polos.
"Iiisshh 'gak gitu juga jawabnya," kata Indi menutup wajahnya, malu.
"Kenapa, malu? Sama suami sendiri malu," kata Arya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Indi.
"Sayang," teriak Indi lalu menutup sebagian tubuhnya dengan tangan.
"Aku udah lihat semuanya sayang, 'gak usah ditutupin lagi," kata Arya tersenyum jahil.
"Ini pertama kalinya setelah lama sendiri, jadi rasanya aneh dan malu," kata Indi lirih.
"Kalau begitu, ayo lakukan lagi. Biar malunya ilang," kata Arya, menaikturunkan alisnya.
"Nanti ya sayang, aku mau bersih-bersih dulu. Lengket semua badan aku," kata Indi memelas.
Arya langsung menggendong Indi ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi. Arya telah menyiapkan air di bathtub untuk berendam Indi.
"Makasih sayang," kata Indi mencium bibir Arya.
"Sama-sama, maaf tadi 'gak kekontrol mainnya," kata Arya sedikit malu.
"Bisa malu juga ternyata," kata Indi membelai pipi Arya.
"Jangan mancing sayang, kalau engga aku bisa pakai kamu di kamar mandi sekarang juga," kata Arya menggeram menahan hasratnya.
"Hehehe, iya deh, aku mandi aja. Kamu keluar dulu sana," kata Indi mengusir Arya.
Arya mencium sekilas bibir Indi lalu keluar kamar mandi, sebelum dia berubah pikiran akan menerkam istrinya itu di sana.
__ADS_1