
"Aku akan nunggu Kakak sampai Kak Evan selesai menempuh pendidikan di London," bisik Kanaya.
Evan terkejut dengan perkataan Kanaya yang selama ini dia tunggu-tunggu. Evan langsung tersenyum dan membawa Kanaya ke taman belakang untuk menghindari semua orang sebentar.
"Mau kemana kalian!" teriak Indi yang tahu bagaimana bahagianya Evan mendengar jawaban dari Kanaya. Indi sempat mendengar sedikit apa yang dibisikkan oleh Kanaya pada Evan.
"Bentar Mah, sebentar aja kok!" Evan ikut berteriak.
Evan mendudukkan Kanaya di bangku taman dan dia sendiri berlutut di depan Kanaya. Senyuman terpancar di wajah tampan Evan dan Kanaya dengan malu-malu menatap wajah Evan di depannya.
"Makasih ya, makasih udah kasih jawaban dan mau menungguku," ucap Evan dengan tatapan yang dalam.
"Iya Kak, aku akan nunggu Kak Evan karena nggak ada lagi yang lain di hati aku." Kanaya tersenyum manis dan tersipu malu.
"Aku juga akan berusaha menjaga perasaanku untuk kamu. Aku akan berjuang, agar cepat selesai pendidikanku dan segera pulang ke sini."
"Semoga aja ya Kak, kamu nggak kecantol bule cantik di sana," sindir Kanaya.
"Nggak akan Nay, percaya sama aku."
"Ya, ya, Naya percaya Kak." Kanaya menahan tawanya karena berhasil membuat Evan tersindir.
"Aku lagi ngomong serius malah kamu bercanda." Evan sedikit kesal dan cemberut. Kanaya hanya tertawa membalas kekesalan Evan.
"Ayo balik ke dalam Kak, nanti Tante Indi nyusul ke sini," ajak Kanaya yang langsung beranjak dari bangkunya tetapi ditahan oleh Evan. Dengan cepat Evan menyambar bibir tipis Kanaya dan menciumnya dengan lembut.
"Ekhem." Suara deheman membuat Evan langsung melepaskan ciumannya dan refleks memberi jarak antar dirinya dan Kanaya.
"Untung aja Tante yang mergokin Van, kalau Mama kamu, bisa dijewer tuh kuping," ucap Arini yang telah memergoki Evan sedang mencium Kanaya. Evan langsung memohon pada tantenya agar tidak memberitahukan kejadian tadi pada Indi, mamanya. Kanaya langsung berlari masuk ke dalam rumah karena malu.
Acara makan malam untuk merayakan kelulusan Evan berakhir dengan sukses dan lancar. Semua orang memberikan selamat lagi pada Evan dan mendoakan yang terbaik untuk masa depan Evan. Selain merayakan kelulusan Evan, acara tersebut juga untuk memberitahu dan meminta ijin pada semua keluarga karena Evan akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Kakek dan Neneknya berinisiatif untuk ikut Evan tinggal di London.
__ADS_1
"Boleh tidak Kakek dan Nenek ikut?" tanya Kakek Wijaya pada Evan. Semua orang langsung menatap ke arah Papa Arya.
"Papa serius dengan permintaan Papa?" tanya Arya sedikit tidak percaya.
"Serius Ar, Papa dan Mama pengen menikmati hidup dan jalan-jalan ke luar negeri. Merasakan hidup di negara orang, sekali seumur hidup," ucap Pak Wijaya, papa Arya.
"Terus Arin bagaimana Mah?" tanya Indi yang masih belum percaya dengan keinginan mertuanya itu.
"Arini bisa menjaga Kayla sendiri. Selama ini dia juga melakukan semuanya sendiri, mama cuma bantu jagain aja sebentar kalau Arini sedang di kamar mandi. Dia bisa merawat Kayla sendiri," ucap Mama memberitahu. Arini mengangguk menjawab semua tatapan keluarganya yang mengarah padanya.
"Kalau Kakek sama Nenek ikut, Evan jadi ada yang jagain dong," ucap Evan senang.
"Vania ikut juga dong," protes Vania.
"Vania sayang, kamu nanti ya kalau udah mau kuliah kaya' Kak Evan, nanti kamu bisa kuliah di sana juga." Arya menasihati anak perempuannya.
"Yeaayy asyiikk, makasih Pah." Vania langsung mencium pipi Arya.
Suara tawa terdengar indah saat semuanya tertawa dalam kebersamaan.
"Evan, ingat selalu kata-kata Mama ya. Sekolah yang benar, jangan macam-macam di sana biar cepat selesai pendidikannya dan kembali ke sini." Indi mulai dengan nasehatnya.
"Kalau kita ada waktu liburan, kita akan mengunjungi kamu di sana. Karena ada Kakek dan Nenek, Papa dan Mama sedikit lega melepas kamu, Nak," ucap Arya juga.
"Jangan lama-lama di sana ya Van, nanti Tante nggak ada teman main lagi." Arini tidak bisa menahan air matanya, membuat yang lain ikut merasakan sedih.
"Jangan nangis Tante, sekarang Tante punya Kayla dan Om Dimas untuk diajak main." Evan memeluk Arini untuk menenangkannya.
"Jaga diri selalu, Van. Jangan kecewakan Papa dan Mama kamu," ucap Dimas singkat tapi menyiratkan makna yang berharga.
Semua orang, satu per satu memeluk Evan dan memberi semangat pada Evan. Indi dan Arya saling merangkul melihat kebahagiaan yang terpampang di hadapan mereka. Semua orang sedang bercanda dan tertawa setelah selesai acara perpisahannya dengan Evan.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia?" tanya Arya tiba-tiba. Indi menatap suaminya sebentar, lalu tersenyum lebar.
"Aku sangat bahagia, Sayang. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan ini untuk aku," ucap Indi semakin mempererat rangkulannya di pinggang Arya.
"Aku beruntung memiliki kamu, Sayang. Kehidupanku berubah menjadi berwarna sejak aku mengenalmu."
"Aku lebih beruntung, Ar. Kenal sama kamu, menjadi istri kamu dan diterima oleh keluarga kamu, itu semua adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk aku dan Evan. Kalian memberikan banyak kebahagiaan di dalam hidupku. Makasih sayang, i love you." Indi menyandarkan kepalanya di dada bidang Arya.
"I love you too, Indi."
Indi tersenyum dan terharu mendengar ucapan Arya yang setiap hari dia ucapkan pada Indi. Tidak ada satu hari pun terlewatkan oleh Arya. Dia selalu mengucapkan kata cintanya untuk Indi.
"Terima kasih Tuhan, Kau telah memberikan kebahagiaan di dalam hidupku dan juga Evan. Semoga kebahagiaan dan kehangatan ini akan berlangsung selamanya." Indi berdoa dalam hati.
Kehidupan Indi yang awalnya terpuruk karena ditinggal oleh suaminya untuk selama-lamanya dan mencari pekerjaan kemana-mana untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya Evan, berakhir bahagia setelah bertemu dengan Arya yang dulunya adalah seorang Boss berondong yang super dingin. Takdir telah mempertemukan dan menyatukan mereka dalam ikatan jodoh yang memberikan kebahagiaan pada keduanya.
Teruslah berharap dan berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan, karena takdir manusia tidak ada yang pernah tahu akan kemana dan bagaimana. Sekuat apapun kalian menolaknya, dan seberapa pun banyaknya orang yang menentangnya, kalau sudah takdirnya dan jodohnya tidak akan pernah bisa terpisahkan.
Indi tersenyum bahagia saat mengingat kembali semuanya saat dulu dan melihat keadaan sekarang. Dia bersyukur telah bertemu dengan Arya, boss berondongnya yang dingin itu dan sekarang menjadi sumber kebahagiaannya.
"Terima kasih Arya, terima kasih untuk kehidupan yang membahagiakan ini."
...****************...
...END...
...****************...
NOTE :
Terima kasih dears telah mengikuti cerita Indi dan Arya selama ini. Semoga kalian suka dan bisa memetik setiap makna yang tersirat dalam cerita ini. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini dan maafkan author kalau masih banyak kekurangan. Author akan kasih ekstra part, di bab selanjutnya ya dears. Sampai jumpa di cerita author selanjutnya. Love love love kalian dears 😘😘😘
__ADS_1