My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Ekstra Part 01


__ADS_3

Brukk....


Evan sedang terburu-buru berjalan menuju kelasnya karena dia sudah terlambat beberapa menit. Tidak sengaja dia menabrak seorang gadis dan meminta maaf sebelum dirinya melanjutkan perjalanan ke kelasnya.


"Wait!" teriak gadis itu dan membuat Evan menghentikan langkahnya.


"I'm so sorry. Aku udah minta maaf dan maaf juga, aku sedang terburu-buru," ucap Evan dalam bahasa inggris, tidak memperdulikan gadis itu. Dia sudah berjalan jauh dan gadis itu hanya menatap buku yang tadi dia pungut dari tanah. Buku milik Evan yang terjatuh saat bertabrakan tadi.


"Nanti aja gue balikin," ucap gadis itu.


Sudah dua tahun Evan mengenyam pendidikan di Universitas Cambridge London. Dia tinggal di apartment yang Arya beli di dekat kampusnya bersama Kakek dan Neneknya. Evan juga diberikan fasilitas mobil untuk kendaraan saat ingin berjalan-jalan dengan Kakek dan Neneknya. Berharap mau bisa mandiri, tetapi tidak bisa karena dia hidup bersama dengan Kakek dan Neneknya.


Setiap enam bulan sekali, keluarga Indi datang ke London untuk menemui Evan dan orang tua Arya. Terkadang Arini, Dimas dan Kayla yang sekarang sudah berumur dua tahun juga datang menjenguk Evan. Kuliah Evan selama ini juga berjalan dengan lancar. Semua aktivitasnya selalu terpantau oleh Indi dan Arya. Tidak ada yang terlewat satu pun karena Kakek dan Neneknya juga mengawasi Evan.


"Evan pulang!" teriak Evan saat masuk ke apartment mewah dekat dari kampus Evan.


"Nggak usah teriak dong sayang, telinga Nenek masih sehat ini loh," ucap Nenek Ellis. Evan langsung mencium pipi Neneknya.


"Kakek mana?" tanya Evan saat tak melihat Kakeknya di rumah.


"Pergi jalan-jalan di sekitar sini katanya, dia bosan sepertinya," ucap Ellis tersenyum.


"Nanti kalau Evan nggak ada kuliah, kita jalan-jalan deh."


Evan lalu masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya sambil membuka ponselnya. Ada pesan dari Indi dan juga Kanaya.


**Mama : Gimana kuliahnya hari ini Van?

__ADS_1


Evan hanya tersenyum melihat pesan dari ibunya. Pesan yang sama setiap harinya, yang dikirim oleh Indi untuk Evan.


**Kanaya : Jangan lupa buku yang aku recomend dibaca ya Kak.


Melihat pesan Kanaya, Evan jadi ingat dengan buku yang tadi dia pinjam di perpustakaan kampus. Evan mencarinya di dalam tas dan tidak menemukannya. Padahal dia yakin bukunya sudah dia masukkan ke dalam tas.


"Atau jangan-jangan jatuh waktu tadi gue tabrakan sama tuh cewek. Aduuhh." Evan mengacak rambutnya kasar. Dia tidak tahu persis bagaimana wajah cewek yang bertabrakan dengannya, bagaimana caranya Evan menanyakan soal bukunya.


"Gue pasti bakal kena denda kalau bukunya nggak ketemu," gumam Evan.


Paginya, Evan mencari-cari di sekitar tempat tabrakan kemarin. Dia berharap masih ada di sana bukunya, atau bertemu lagi dengan gadis yang kemarin dia tabrak.


"Dimana gue harus nyari buku itu?" gumam Evan menghela nafas lelah.


"Hai," sapa seorang gadis sambil menepuk pelan bahu Evan. Sedikit terkejut, Evan lalu tersenyum ramah.


"Hai, what can i do for you?" Evan mencoba menanyakan apa yang diinginkan gadis di depannya.


"Ya, itu punya gue. Thank's ya, sorry lo dari Indo juga?" tanya Evan penasaran karena bahasa gadis itu yang terdengar fasih.


"Yup, gue asli Indo," jawab gadis itu santai.


"Kenalin, gue Evan," kata Evan mengulurkan tangannya.


"Gue Emily, panggil aja Mily," ucap gadis itu menerima uluran tangan Evan.


"Kuliah angkatan tahun berapa lo?" tanya Evan mencoba mengakrabkan diri.

__ADS_1


"Gue angkatan baru. Lo semester berapa?"


"Semester lima. Senang berkenalan sama orang Indo asli di sini." Evan menunjukkan ketertarikannya pada Emily. Dia senang bisa berkenalan dengan orang dari negaranya dan orangnya ramah seperti Emily.


"Gue duluan ya, Kak. Mau ada kelas," pamit Emily pada Evan.


"Sekali lagi makasih ya." Evan tersenyum saat melihat Emily melambaikan tangannya.


.


.


.


NOTE :


Mampir juga ke karya author yang baru ya dears. Ceritanya sedikit beda dari yang ini. Semoga suka dears 🤗


"KETIKA HUJAN MEMBUKA MATA BATINMU"


Kamu tidak bisa memilih bagaimana kamu terlahir, dan takdir apa yang kamu jalani.


Reina Fredella, yang sejak kecil sudah yatim piatu dan tinggal di Panti Asuhan Miracle. Setelah lulus sekolah, Reina memutuskan untuk keluar dari panti asuhan dan hidup mandiri.


Saat kecil, Reina sama sekali tidak menyukai hujan. Di usianya yang belia, dimana anak-anak seumurannya asyik bermain hujan dengan gembira. Dia memilih meringkuk sendirian di kamarnya.


Reina memiliki penglihatan yang berbeda dari orang lain pada umumnya. Di saat hujan turun, seakan dunianya menyatu dengan dunia lain. Jadi, Reina memilih untuk bersembunyi daripada melihat apa yang tidak ingin dia lihat.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan cerita Reina? Apakah Reina akan menerima kemampuannya saat dia dewasa?



__ADS_2