My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 63 : Arini's Wedding


__ADS_3

Setelah persiapan hanya satu bulan, akhirnya hari pernikahan Arini dan Dimas telah tiba. Indi sebagai penanggung jawab atas semuanya, mengecek lagi semua hal agar tidak ada yang terlewat. Acara diadakan di rumah orang tua Arya. Bukan pesta yang mewah dan banyak undangan. Hanya keluarga besar dan teman-teman Arini serta Dimas.


"Evan, tolong Mama," teriak Indi.


"Kenapa Mah?" tanya Evan mendekat.


"Lihatin tante Arin udah selesai make up belum," pinta Indi sambil menata ulang makanan di meja prasmanan.


"Oke Mah."


Evan berlalu menuju tempat rias mempelai wanita. Indi masih saja sibuk ketika Arya datang dan memeluknya dari belakang.


"Kamu ngapain sayang?" tanya Arya lembut.


"Awas dong, aku lagi ngecek semuanya nih," ucap Indi sambil mencoba lepas dari pelukan Arya.


"Semuanya udah ada yang atur, kamu gak perlu repot-repot lagi." Arya memeluk semakin erat.


Belum ada orang yang datang, karena itu Arya berani bermesraan dengan Indi.


"Aku hanya ingin merasakan mempersiapkan sebuah pernikahan, dulu kan kamu yang siapin semua," kata Indi tersenyum.


Arya membalikkan tubuh Indi dan menatap wajah cantik istrinya itu. Indi juga menatap mata Arya dan tersenyum.


"Kamu semakin cantik dari pertama kali kita ketemu," kata-kata Arya berhasil membuat pipi Indi memerah.


"Masih bisa ya ngegombal gitu," ucap Indi malu.


"Ikut aku sebentar," ajak Arya menggandeng tangan Indi menuju kamar.


Setelah mengunci pintu, Arya langsung mencium bibir Indi dan **********. Indi yang awalnya kaget lalu mengikuti permainan Arya. Satu persatu pakaian Indi dilepas oleh Arya sampai tidak ada yang melekat di tubuhnya. Arya membawa Indi berjalan menuju tempat tidur masih dengan berciuman.


"Aku gak kuat lihat kamu hari ini, cantik banget dan bikin na*su," kata Arya tersenyum lembut.


"Tiap hari juga begitu, gak ada yang tahu aja sebenarnya kamu me*um." Indi terkekeh sendiri.


Arya membaringkan Indi di atas tempat tidur dan melepas semua pakaiannya sendiri. Dengan tatapan mata yang sayu dan nafas yang memburu, Arya menciumi setiap inci tubuh Indi. Indi hanya bisa menikmati dan sesekali menahan desa*annya agar tidak keluar dari mulutnya. Dia tidak ingin terdengar orang lain di luar sana.


Sementara itu, Evan sedang mencari keberadaan Indi karena Arini mencarinya.


"Nek, lihat Mama gak?" tanya Evan pada Neneknya yang sedang mengawasi Vania dan Vano bermain.


"Gak lihat dari tadi, coba di kamar mungkin."


Evan langsung menuju kamar orang tuanya. Sampai di depan kamar saat hendak mengetuk pintu, Evan sedikit mendengar suara aneh dari dalam. Dia mencoba menempelkan telinganya di pintu dan menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


"S*it, apa yang mereka lakukan di tengah kesibukan ini?" tanya Evan pada diri sendiri. Dia langsung pergi ke ruang make up Arini, tidak jadi memanggil Indi.


"Mana mama kamu Van?" tanya Arini.


"Lagi sibuk, gak bisa diganggu," jawab Evan sedikit kesal.


"Sebentar aja, tante mau minta saran," kata Arini lagi.


"Mama sama Papa lagi di kamar dan gak bisa diganggu," bisik Evan dengan penuh tekanan di telinga Arini.


"S*it, ngapain mereka di waktu yang sibuk ini?" teriak Arini membuat semua orang di situ kaget.


"Jangan teriak Tante," ucap Evan menutupi telinganya.


"Gedor aja pintunya Van, bentar lagi keluarga Dimas dateng dan gue belum selesai." Arini bersungut kesal.


"Ada apa teriak-teriak?" tanya Mama yang mendengar teriakan Arini dari luar.


"Mah tolong kasih pelajaran sama kak Arya, bisa-bisanya dia lagi sibuk kaya gini." Arini sangat kesal mengingat kelakuan kakaknya.


"Memangnya kenapa Arya?" tanya Mama lagi.


"Dia sama kak Indi lagi mesra-mesraan di kamar Mah," teriak Arini lagi. Evan terus menutupi telinganya, tidak mau mendengar teriakan Arini.


"Ya ampun itu anak, gak bisa lihat situasi." Mama langsung berjalan cepat menuju kamar Arya.


"Aduh Mah, kenapa sih? Lepas Mah, sakit," ucap Arya sambil memegang tangan Mama.


Indi tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak tahu apa masalahnya.


"Kelakuan ya, gak lihat itu adik kamu daritadi nyariin. Sebentar lagi keluarga Dimas datang," kata Mama masih menjewer telinga Arya.


"Lepas dulu Mah, Arya mau ke Arini," pinta Arya menahan sakit.


"Indi cepat temui Arini," perintah Mama.


"I..iya Mah," jawab Indi gugup, dia tahu Mama marah karena apa. Dan dia juga merasa bersalah.


Indi masuk ke ruangan Arini dan ditatap tajam oleh Arini dan Evan.


"Ada apa Dek?" tanya Indi mencoba santai.


"Huaaa, kalian jahat. Malah seneng-seneng sendiri, ini aku belum selesai dan sebentar lagi keluarga Dimas datang." Arini mengeluarkan ocehannya.


"Sorry, kakakmu tuh yang ngajakin," ucap Indi tersenyum kuda.

__ADS_1


"Dasar gak peka," teriak Arini lagi.


"Haahh, berisik amat sih," teriak Evan juga.


"Kamu kenapa ikut teriak?" tanya Arini.


"Telingaku terkontaminasi Tante," ucap Evan cemberut.


"Gak pa-pa buat pelajaran, hahaha," sindir Arini.


"Sstt, ada ratu singa," bisik Evan di telinga Arini.


Arini dan Evan langsung tertawa. Indi yang tidak tahu sedang membicarakan apa, hanya bingung mendengarkan.


"Apaan nih?" tanya Indi.


"Bukan apa-apa Mah, cerah banget ya wajahnya," kata Evan sambil berlalu meninggalkan ruangan.


"Apaan sih Dek?" tanya Indi pada Arini.


"Evan denger kalian '***-***' di kamar," jawab Arini sambil mengerling nakal.


"Ya ampun, malunya." Indi menutupi wajahnya dengan tangan.


"Makanya, lihat waktu dan tempat dong," teriak Arini lagi.


"Udah jangan teriak-teriak terus, nanti jadi jelek make up-nya."


"Kak Arya mana, Kak?"


"Lagi sama Mama, dikasih wejangan." Indi tertawa mengingat Arya yang kesakitan dijewer oleh Mama.


"Biar tahu rasa tuh orang, bisa-bisanya di waktu yang sibuk kaya gini," ucap Arini masih kesal.


Indi hanya tersenyum karena merasa bersalah juga. Indi membantu Arini menyelesaikan make up dan berpakaian. Setelah selesai, Indi keluar untuk menyambut keluarga Dimas yang datang. Arini masih berada di dalam kamar pengantin.


Acara pun dimulai. Dimas mengucapkan kalimat ijab qobul dengan satu tarikan nafas. Para saksi dengan lantang mengatakan kata "SAH" bersama. Raut wajah Dimas yang semula tegang, menjadi sedikit tenang. Semua orang tersenyum bahagia karena Arini dan Dimas telah menjadi sepasang suami istri.


Setelah sah, Indi membawa Arini keluar dari kamar pengantin untuk bertemu dengan Dimas pertama kalinya setelah dipingit.


"Hai istriku," sapa Dimas pada Arini, langsung mendapat sorakan dari semua keluarga.


"Ciee udah nikah nih ye," ledek Ardi lalu bersiul.


Arini dan Dimas bertukar cincin lalu menandatangani surat akta nikah.

__ADS_1


"Akhirnya aku nikah," teriak Arini memamerkan buku nikah dan cincinnya.


__ADS_2