My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 66 : Siapa Dia Sebenarnya?


__ADS_3

Matahari pagi bersinar cerah di cakrawala. Deburan ombak pantai terdengar indah menyapa telinga. Semilir angin pagi menyentuh kulit menyegarkan pikiran dengan satu tarikan nafas pelan.


"Selamat pagi," teriak Arini sambil meregangkan tubuh di balkon kamarnya.


"Jangan teriak- teriak tante," balas Evan berteriak.


"Kamu aja teriak. Jogging sendirian Van?" tanya Arini mendekati Evan.


"Iya tante, Papa gak bisa dibangunin," jawab Evan sedikit kesal.


"Papamu gak akan bangun kalau kak Indi juga belum bangun," kata Arini menyiratkan sesuatu.


"Kok tante udah bangun duluan, gak 'itu'. Katanya honeymoon," sindir Evan.


"Diam kamu bocah, jangan bahas gituan," pipi Arini memerah.


"Evan udah dewasa tante," ucap Evan mengerling.


"Wah, minta dijewer nih." Arini siap-siap dengan tangannya, tapi Evan keburu kabur.


"Dicari om Dimas tuh," teriak Evan tertawa.


"Dasar ponakan gak ada akhlak," gumam Arini sambil tersenyum lalu kembali ke kamarnya.


Evan berlari-lari kecil di sepanjang pantai. Tidak sengaja dia melihat Jacelyn sedang dikerumuni oleh dua orang pria. Dalam penglihatan Evan sepertinya Jacelyn sedang dalam masalah.


"Hei," teriak Evan mendekat.


"Ada perlu apa?" tanya pria yang berbadan tinggi.


"Itu teman saya, tolong lepaskan," kata Evan melihat lengan Jacelyn dicengkeram.


"Pergi aja Van, gue gak pa-pa," kata Jacelyn meringis kesakitan.


"Tolong lepaskan," mohon Evan lagi.


"Udah disuruh pergi kan, pergi aja," kata pria yang mencengkeram lengan Jacelyn.


Evan berpura-pura berbalik lalu menendang pria yang mencengkeram lengan Jacelyn sampai terlepas cengkeramannya. Seketika itu Evan menarik tangan Jacelyn dan berlari menjauh dari kedua pria tersebut.


"Lo ngapain sih Van?" tanya Jacelyn.


"Selamatin lo lah," jawab Evan menengok ke belakang dan masih dikejar.


"Lo gak perlu terlibat Van," kata Jacelyn mencoba melepaskan genggaman Evan.


"Bentar gue telepon Papa dulu," kata Evan sambil mencoba menelepon Arya.


"Cukup Van, biarin gue sendiri aja. Lo pergi aja," ucap Jacelyn berlari ke arah kedua pria yang mengejarnya.


"Jacelyn, lo gila ya," teriak Evan masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


Jacelyn berlalu dengan kedua ora pria itu tanpa menoleh lagi. Evan sangat kesal dengan perlakuan Jacelyn padanya.


"Terserah deh, udah ditolong juga," gumam Evan sambil menendang pasir.


Sepanjang pagi Evan selalu memikirkan tentang Jacelyn. Sebenarnya ada masalah apa dia dengan dua orang pria itu.


"Van, tadi kamu kenapa telepon Papa?" tanya Arya duduk di samping Evan di beranda.


"Gak pa-pa Pa," jawab Evan tidak fokus.


"Ada masalah?" tanya Arya lagi.


Evan berpikir sesaat akan menceritakan semuanya pada Arya atau tidak.


"Sebenarnya, tadi teman Evan lagi ada masalah dengan dua orang pria Pa," cerita Evan akhirnya.


"Teman yang mana nih?"


"Yang ketemu di pestanya tante Angel." Evan menerawang jauh ke depan.


"Oohh dia, terus ada hubungan apa sama kamu?"


"Tadi Evan lagi jogging, terus lihat dia ditarik paksa oleh dua pria itu. Dan sewaktu Evan mau nolongin, dia menolak lalu pergi dengan dua pria itu." Evan menceritakan detailnya.


"Mungkin dia gak mau kamu terlibat Van," ucapan Arya sama dengan apa yang dikatakan Jacelyn.


Evan termenung memikirkan Jacelyn yang selalu muncul di dekatnya tetapi penuh rahasia. Mereka juga belum berkenalan dengan baik. Hanya tahu nama masing-masing dan mengalir begitu saja.


"Itu...," kata-kata Arya langsung dipotong Evan karena takut Indi mengomel.


"Itu Ma, tadi Evan ngajakin Papa jogging tapi belum bangun," jawab Evan cepat.


Evan mencoba mengkode Arya untuk tidak membahas apa yang tadi dibicarakan.


"Papa kamu kecape'an Nak, jadi bangun kesiangan," ucap Indi.


"Vania sama Vano mana Ma?" tanya Evan mengalihkan pembicaraan.


"Di dalam, lagi main sama om Dimas."


"Evan masuk ya, mau main juga sama Vania n Vano," pamit Evan pada Indi dan Arya.


Sepeninggal Evan, Indi langsung menatap tajam Arya. Ditatap seperi itu, Arya menjadi salah tingkah dan tidak berani menatap Indi.


"Apa yang kalian rahasiakan dari aku?" tanya Indi tegas.


"Gak ada sayang," jawab Arya mencoba setenang mungkin.


"Kalau gak jawab, gak bakal ada jatah sampai kita pulang dari sini," ancaman Indi seperti biasanya.


"Jangan gitu dong sayang, aku gak akan kuat," rengek Arya.

__ADS_1


"Makanya ceritain dong," pinta Indi mendesak.


Dengan terpaksa, Arya menceritakan semuanya yang tadi dibicarakan dengan Evan. Tentang Jacelyn yang terlibat masalah dengan dua orang pria dan tidak mau ditolong oleh Evan.


"Kenapa harus ikut campur kalau dia juga gak mau?" tanya Indi sedikit kesal.


"Kamu kan tahu Evan bagaimana sayang, dia gak mungkin ninggalin orang yang lagi kesusahan," kata Arya mengingatkan Indi.


"Tapi, aku gak mau Evan kenapa-napa."


Indi menyandarkan kepalanya ke bahu Arya. Dengan lembut, Arya mengusap rambut Indi dan menenangkannya.


"Evan itu anak pertama kita yang udah bisa mandiri dari kecil. Dia banyak belajar dari kamu, ketegaran, kekuatan dan kemandiriannya. Dia adalah anak yang bisa membuat aku jatuh cinta sama kamu sayang." Arya mengecup pelan kening Indi.


Indi menghela nafas panjang dan menatap suaminya.


"Makasih ya," ucap Indi sambil tersenyum.


Arya langsung membawa Indi ke dalam pelukannya. Wanita berharga yang akan dia jaga seumur hidupnya.


Evan berjalan menyusuri pantai dan melihat satu persatu villa yang ada di sekitar pantai itu. Tapi tidak melihat keberadaan Jacelyn. Dia sedikit khawatir karena dia belum melihatnya lagi semenjak kejadian tadi pagi.


"Kemana kamu sebenarnya? Siapa kamu sebenarnya?" Evan bertanya pada diri sendiri.


"Perasaan gue gak bisa buat acuh sama lo Jace, gue harus gimana?" teriak Evan membuang keresahan hatinya.


Evan kembali menyusuri pantai dan mendekati satu persatu villa yang ada. Dia berharap ada Jacelyn di salah satu villa tersebut.


Sementara itu di sebuah ruangan yang temaram, Jacelyn duduk di sebuah kursi dan di hadapannya ada seseorang yang menatap tajam padanya.


"Gimana perkembangannya?" tanya orang tersebut.


"Masih tahap pendekatan, dia bukan orang yang ramah terhadap perempuan kecuali keluarganya. Gue harus susah payah deketin dia," jawa Jacelyn mencoba untuk tenang.


"Bukannya tadi dia yang mau nolongin lo?" tanya orang itu lagi.


"Iya, tapi bukan karena kita udah dekat. Itu karena dia memang orangnya baik," kata Jacelyn beralasan.


"Terserah, yang terpenting adalah lo harus bisa dekat sama dia dan masuk ke keluarganya. Jangan harap lo bisa bebas kalau belum selesai tugas lo," ancam orang itu.


"Kenapa lo harus usik keluarga Wijaya? Mereka bukan orang sembarangan dan orang-orangnya baik menurut gue."


"Lo gak usah puji mereka seperti itu di depan gue. Lo gak tahu apa-apa," teriak orang itu di depan wajah Jacelyn.


Jacelyn mencoba tenang menghadapi orang di hadapannya. Dia tidak mau terkena imbas karena emosi orang itu tidak bisa dikontrol.


"Pergi sana lo," usir orang itu pada Jacelyn.


Jacelyn berpamitan dan langsung pergi meninggalkannya.


"Keluarga Wijaya, lihat saja nanti," ucap orang itu, lalu tertawa keras dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2