My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 108 : Ijin Ibu Negara


__ADS_3

Kebahagiaan selalu tampak di wajah Arini dan Dimas karena telah menjadi orang tua baru. Walaupun kelelahan karena harus begadang menjaga putri kecilnya, Arini dan Dimas tidak pernah mengeluh. Mereka menikmatinya karena itu memang tugas mereka.


Setelah satu Minggu berada di rumah sakit, akhirnya Arini dan Kayla diperbolehkan pulang ke rumah. Semua anggota keluarga menyambut kedatangan Arini dan juga Kayla. Vania dan Vano yang paling heboh karena adanya bayi kecil yang lucu.


"Vania mau punya adik perempuan juga," ucap Vania membuat semua orang tertawa.


"Tuh Kak, Vania minta adik lagi," ledek Arini tersenyum.


"Nggak ada, udah nggak bisa." Indi menggeleng cepat.


"Yaahh, Mama pelit," ucap Vania merengek.


Evan hanya bisa tersenyum melihat kehebohan Vania yang terus merengek meminta adik. Evan sudah cukup mempunyai adik seperti Vania dan Vano. Dia tidak akan mengijinkan Mamanya untuk hamil lagi.


Setelah menyambut Arini dan Kayla di rumah orang tua Arya, Indi, Arya dan ketiga anaknya pulang ke rumah. Mereka berlima membahas lagi tentang Vania yang meminta adik.


"Mama kasih Vania adik dong," rengek Vania.


"Itu Vano sayang, dia adik kamu kan," jawab Indi.


"Pengen adik kaya Dek Kayla, Mah," ucap Vania lagi.

__ADS_1


"Ya udah, Dek Kayla kan juga adik Vania." Indi selalu menolak.


"Dek, Mama udah capek urus kita bertiga, jadi buat adik lagi pasti akan sulit buat Mama. Kamu kan udah punya Vano, dia juga adik yang baik." Evan mencoba membujuk Vania.


"Kalau mau adik perempuan, main aja sama Dek Kayla sayang. Tapi inget, jangan lupa ajak Vano juga," ucap Arya memberikan nasehatnya.


Vania akhirnya mengerti dan tidak meminta adik lagi pada Indi. Vania lebih banyak bermain dengan Vano setelah mendengarkan ucapan Arya dan Evan. Indi merasa bersyukur mempunyai Arya dan Evan di hidupnya. Karena disaat dirinya buntu tidak tahu harus bagaimana, mereka berdua selalu berhasil mengeluarkannya dari masalah.


"Makasih ya para pria tampanku," bisik Indi lalu tersenyum. Evan dan Arya saling memandang menyiratkan sesuatu.


Setelah makan malam, keluarga Indi berkumpul di ruang keluarga. Vania dan Vano sedang bermain game, sedangkan Evan bermain dengan ponselnya.


"Mah," panggil Evan saat selesai dengan ponsel miliknya.


"Soal Evan kuliah di luar negeri bagaimana?" tanya Evan gugup.


Indi menatap tajam ke arah Evan, bukan karena marah tapi karena sedang memikirkan baik-baik untuk memutuskan.


"Udah dikasih ijin aja Mah, Evan pasti bisa jaga diri dan belajar yang rajin." Arya mencoba ikut membujuk.


Indi memikirkan lagi ucapan Arya dan Evan. Tidak ada salahnya membiarkan Evan mencari pengalamannya di luar sana.

__ADS_1


"Oke, Mama ijinin kamu kuliah di luar negeri, tapi dengan satu syarat." Indi mencoba bernegosiasi.


"Apa itu Mah?" tanya Evan penasaran.


"Kamu harus fokus belajar, nggak boleh pacaran. Biar cepat selesai kuliahnya dan harus bisa jaga diri lagi," ucap Indi memberitahukan syaratnya.


"Kalau cuma itu Evan pasti siap Mah," kata Evan dengan tegas dan tersenyum lebar.


"Evan cuma mau sama satu orang, dan orang itu masih ada di sini," ucap Evan dalam hati.


"Nanti aku coba bujuk Mama sama Papa untuk nemenin Evan di sana sayang. Sekalian mereka refreshing," kata Arya pada Indi.


"Tapi kan Arini baru aja melahirkan, dia pasti tidak mau ditinggal." Indi menerawang jauh.


"Arini dan Dimas ada keluarga Dimas di rumah. Jadi kita tidak perlu khawatir sayang."


"Baiklah, semoga semuanya mengijinkan ya Van," ucap Indi tersenyum.


"Makasih Mah, Pah." Evan memeluk kedua orang tuanya. Vania dan Vano yang melihatnya, ikut serta memeluk Indi dan Arya.


Akhirnya, Evan mendapatkan ijin kuliah di luar negeri dari ibu negara. Karena dengan begitu, Evan bisa tenang belajar dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ijin dan kerelaan seorang ibu, akan membawa serta kedamaian dan kebahagiaan dalam setiap langkah seorang anak. Doa dan harapan dari seorang ibu akan membawa seorang anak pada kesuksesannya.


__ADS_2