
Setelah tahu Evan baik-baik saja walaupun telah mengalami kecelakaan, Kanaya memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya di luar kota. Dia merasa terpukul karena Evan tidak mengingatnya dan hanya dirinya yang Evan lupakan. Itu membuat hatinya merasa lebih sakit. Tapi dia tidak bisa egois, karena semua itu terjadi atas kesalahannya sendiri. Yang telah memberikan kenangan pahit pada Evan dan harus dilupakan.
"Kamu baik-baik aja sayang?" tanya Dion melihat Kanaya termenung di taman.
"Naya baik-baik aja Pah," katanya tersenyum.
"Mau papa antar ke rumah sakit gak?"
"Gak usah Pah, biarkan Evan sembuh tanpa harus terbebani ingatan tentang Naya."
"Papa dengar, ingatan yang hilang itu bisa kembali lagi. Yang terpenting kita bisa membantunya mengembalikan ingatan itu, dengan cara mengingatkannya pada hal-hal yang dulu pernah terjadi."
Kanaya terdiam sejenak lalu tersenyum dipaksakan.
"Biar aja Pah, kalau suatu saat dia ingat Naya lagi, semoga Naya bisa membuatnya bahagia."
"Apa kamu sangat menyukainya?"
"Dia orang pertama yang mau berteman dengan Naya Pah. Dia juga yang selalu bersama Naya walaupun Naya telah melakukan kesalahan terhadapnya. Keluarganya juga baik terhadap Naya."
Tanpa terasa air mata mengalir dari pelupuk mata indah Kanaya. Dion membawa Kanaya ke dalam pelukannya. Menenangkan Kanaya yang sebenarnya begitu terpukul dengan kejadian ini.
" Mah," panggil Evan pada mamanya yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Kenapa Van?"
"Kok yang namanya Jacelyn itu gak ke sini lagi?" tanya Evan dengan sungkan.
"Mungkin sibuk Van, dia kan juga masih sekolah."
"Apa hubunganku dan dia selama ini Mah?"
Indi menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Evan.
"Apa kamu penasaran?" Indi memancing Evan.
"Iya Mah, seperti ada yang mengganjal gitu," ucap Evan jujur.
"Nanti mama minta papa untuk mencari dimana anak itu tinggal sekarang. Kamu bisa mencoba perlahan mengingatnya," ucap Indi ingin membantu anaknya menemukan kembali ingatannya.
"Makasih Mah." Evan tersenyum senang.
__ADS_1
Entah bagaimana, perasaan Evan sangat mengganjal saat bertemu dan melihat Jacelyn pada waktu itu. Walaupun dia tidak mengingatnya, tapi ada rasa lega dan bersyukur yang tidak bisa dia jabarkan. Evan tidak tahu dia merasa lega karena apa.
"Mama kenapa gak ke kantor aja sih?"
"Mama bisa kerjain pekerjaan dari sini sayang. Si boss gak akan marah." Indi mengerling pada Evan.
"Ya kali marah, nanti gak dapat jatah dari mama." Evan tertawa setelah bicara seperti itu.
"Jangan ngeledek mama deh."
Dokter yang menangani Evan datang berkunjung untuk pemeriksaan rutin serta penggantian perban. Indi dengan sabar melihat bagaimana cara para perawat mengganti perban Evan.
"Sakit gak Van?" tanya Indi meringis melihat luka Evan.
"Udah gak terlalu sakit Mah. Evan kan anak yang kuat," ucap Evan sambil memberikan senyuman terbaiknya.
Setelah selesai mengganti perban, para perawat mohon diri untuk kembali ke aktifitasnya.
"Jangan bikin mama khawatir lagi sayang, dunia mama seakan berhenti lihat kamu seperti ini." Indi memeluk Evan dari samping.
"Maafin Evan, Mah. Evan janji akan jaga diri lagi," ucap Evan bersungguh-sungguh.
Evan adalah anak pertama Indi yang selalu berada di samping Indi, di saat dirinya berada di titik terendahnya. Hanya Evan yang dia punya sebelum bertemu dengan Arya.
"Makanlah!" perintah David meletakkan sepiring nasi dengan lauk seadanya.
Dengan cepat Calista melahap semua makanan itu tanpa sisa. Dia sudah kelaparan dan merasa lelah karena tubuhnya yang lemah sehabis diberi sedikit pelajaran oleh anak buah David.
"Kamu bisa hidup dengan baik kalau saja tidak melakukan hal yang sangat jahat terhadap keluarga Pak Arya." David berceramah.
"Lo gak usah sok perduli sama gue," ucap Calista masih tidak mau berubah.
"Terserah, kamu tunggu saja hukumanmu berikutnya." David pergi meninggalkan Calista dan mengurungnya lagi.
"Gue kangen sama lo Van. Tapi gue takut akan membuat lo lebih sakit lagi," ucap Kanaya dalam hati.
Walaupun Kanaya bilang dia baik-baik saja, sebenarnya dia tidak terlalu baik. Dia ingin menemui Evan, tapi dia takut membuatnya lebih sakit.
"Hai," suara seseorang menyapa yang tidak asing di telinga Kanaya.
Kanaya menengok dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Kak, kak Evan," panggil Kanaya mendapati Evan berada di rumahnya.
"Kenapa kamu gak nengokin aku lagi? Aku nunggu kamu, Jace."
"Kak Evan apa udah sembuh? Kenapa ke sini?" Banyak pertanyaan muncul di kepala Kanaya tapi tidak bisa dia ucapkan.
Sedikit demi sedikit bayangan Evan memudar. Kanaya berteriak memanggil nama Evan, namun tidak ada yang mendengarnya.
"Evan," teriak Kanaya dengan keringat bercucuran di dahinya.
Dia baru saja bermimpi dan terasa nyata. Evan yang datang ke rumahnya dan meminta Kanaya untuk menjenguknya di rumah sakit.
"Papa," teriak Kanaya mencari keberadaan Dion.
"Kenapa teriak sayang?" Dion langsung mendekat mendengar teriakan Kanaya.
"Naya mau jenguk Evan, Pah. Temenin Naya ke rumah sakit," ucap Kanaya tegas dan mendesak Dion.
"Kamu beneran gak pa-pa?" Dion khawatir dengan Kanaya.
"Gak pa-pa Pah. Naya siap-siap dulu terus kita ke rumah sakit ya Pah." Kanaya berlari masuk ke kamarnya. Dion yang melihat semua itu hanya bisa tersenyum lega.
.
.
NOTE :
Sambil nunggu author up, mampir juga ke karya teman author dears.
Judul : PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Author : Neng syantik
Zivanya, Janda muda beranak dua. Yang menjadi idaman setiap kaum Adam. Dari kalangan Berondong, Duda, bahkan sampai suami orang.
Wajah cantik, juga penampilan sexy dan menggodanya itu, kerap kali mengundang bencana dalam rumah tangga orang lain. Meski begitu, ia sama sekali tidak pernah berniat untuk menggoda pria. Hanya saja, sikap ramahnya dan murah senyum, membuat banyak pria terpesona dan membuat para istri dari pria yang sudah menikah itu memandang rendah dan benci padanya.
Awalnya, Zivanya tidak pernah ambil pusing dengan semua hinaan dan cacian para ibu-ibu yang ada di lingkungannya. Tapi semua itu berubah, setelah ia dan tunangannya putus. Tunangannya memutuskan hubungan dengan alasan yang tidak jelas, tunangannya mengatakan bahwa, ia adalah Janda genit dan juga sering menggoda pria. Dari situlah Zivanya berubah, ia benar-benar merubah hidupnya. Hinaan dan juga tuduhan yang di lontarkan padanya, benar-bebar ia wujudkan dan lalukan.
Bagaimana kisahnya? (Pesona Janda Anak Dua)
__ADS_1