My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 34 : Tumbang


__ADS_3

Sakit hati Indi telah berada di puncaknya. Pikirannya bekerja terlalu keras sehingga badannya lelah dan tumbang. Indi sakit.


"Mama 'gak mau ke dokter aja?" tanya Evan.


"Gak usah nak, bentar lagi juga sembuh," jawab Indi dengan suara lemah.


"Tante makan bubur dulu ya, terus minum obat baru istirahat," kata Nina meletakkan bubur di meja sebelah tempat tidur.


"Makasih ya Nin, maaf Tante ngerepotin," kata Indi pada Nina.


"Gak kok Tante, yang penting Tante cepat sembuh," kata Nina menyerahkan bubur pada Indi, setelah Indi duduk bersandar.


Ponsel Indi bergetar lama, tanda ada telepon masuk. Evan mengambilnya dan mengangkat telepon.


Call on.


"Hallo, Om Arya," sapa Evan.


"Hallo Van, Mama ada?" tanya Arya di telepon.


"Mama sakit Om, badannya panas," kata Evan, memberitahu Arya.


"Oke, Om ke sana sekarang ya, Nak," kata Arya langsung mematikan telepon.


Call off.


Pov Arya.


Setelah memecat Angel, Arya langsung pergi mencari Indi di ruangan Andin.


"Mana Indi?" tanya Arya pada Andin, yang sedang fokus pada layar komputernya.


"Loh bukannya tadi sudah balik ke ruangan Pak?" tanya Andin bingung.


Tanpa bicara lagi, Arya langsung pergi meninggalkan ruangan Andin.


"Boss mah bebas," kata Andin.


Arya sudah mencari Indi dimanapun, tetapi tidak juga menemukannya. Arya menelepon ponsel Indi, dan yang mengangkat Evan.


"Mama sakit Om, badannya panas," kata Evan, memberitahu Arya.


Seketika itu juga, dunia Arya seraya berhenti. Arya langsung mematikan teleponnya dan menuju rumah Indi.


Sampai di rumah Indi, Arya langsung masuk dan menuju kamar Indi.


"Sayang," panggil Arya lembut. Dadanya terasa sesak melihat Indi terbaring lemah dan pucat di tempat tidur.


"Aku 'gak apa Ar, istirahat sebentar juga sembuh," kata Indi pelan.


"Kamu udah makan dan minum obat?" tanya Arya, membelai lembut rambut Indi.


"Udah, tadi dibeliin bubur sama Nina," kata Indi.


"Ya udah, kamu istirahat ya. Evan biar aku yang jagain," kata Arya, mengecup kening Indi.


Setelah memastikan Indi tertidur, Arya keluar dan menghampiri Evan dan Nina.


"Mama udah tidur, Om?" tanya Evan.

__ADS_1


"Udah sayang, kamu sama Nina udah makan?" tanya Arya.


"Udah kok Om," jawab Nina.


"Nina mau pulang atau di sini aja nemenin Evan?" tanya Arya pada Nina.


"Nina tidur di sini Om, kasihan Tante Indi," kata Nina


"Oke kalau begitu, makasih ya Nin," ucap Arya. "Sekarang siapa yang mau pizza?"


"Evan mau Om," jawab Evan cepat.


"Hehehe, oke, Om pesan dulu ya," kata Arya, mengusap kepala Evan.


Indi benar-benar beruntung mempunyai anak seperti Evan. Dan Arya merasa beruntung juga dipertemukan dengan mereka.


Tidak lama setelah menikmati pizza, Evan meminta ijin untuk tidur. Arya menemani Evan, dan memastikan dia terlelap. Setelah Arya melihat Indi sekali lagi, dia pamit pulang pada Nina.


"Om pulang ya, Nin," pamit Arya. "Kalau ada apa-apa langsung telepon."


"Iya Om, hati-hati di jalan," kata Nina.


Arya melajukan mobilnya perlahan. Sebenarnya dia ingin berada di sana untuk menemani Indi, tetapi mereka belum sah menjadi suami istri. Memikirkan itu, membuat Arya ingin cepat-cepat menikahi Indi.


"Baru pulang Ar?" tanya Mama, di ruang keluarga. "Kenapa kamu?"


"Indi sakit Ma," kata Arya lesu.


"Sakit apa?" tanya Mama lagi.


"Badannya panas Ma, kebanyakan pikiran," jawab Arya, duduk di sebelah Mamanya.


"Engga Ma, tadi dia ribut sama Angel. Sampai jambak-jambakan gitu," kata Arya, menghela nafas lelah.


"APA?" kata Mama dengan suara tinggi.


"Aduh Ma, budeg telinga Arya," kata Arya menutup telinganya.


"Kenapa bisa gitu Ar?" tanya Mama.


"Si Angel cari masalah Ma, sama kaya tante Merry," kata Arya, menjelaskan.


"Mama kenapa teriak?" tanya Arini tiba-tiba keluar kamar.


"Hehehe, sorry. Mama kaget, Indi berantem sama Angel," kata Mama, malu.


"APA?" teriak Arini.


"Haaiisshh, kenapa harus teriak sih?" Arya langsung pergi ke kamarnya.


"Sorry, Kak," kata Arini nyengir kuda. "Kak Indi kenapa Ma?"


"Kata Arya, Indi berantem sama Angel sampai jambak-jambakan," kata Mama.


"What? Kok bisa gitu Ma?" tanya Arini penasaran.


"Si Angel cari masalah duluan katanya, ngatain Indi kaya waktu tante Merry," jelas Mama.


"Wah minta disekolahin tuh mulutnya kak Angel," kata Arini kesal.

__ADS_1


"Dan sekarang Indi lagi sakit, Dek," kata Mama, menghela nafas lelah.


"Kasihan kak Indi, besok Arin ke sana deh. Nemenin Evan," kata Arini, lalu beranjak menuju kamarnya.


Pov Indira.


Pagi ini, Indi sudah sedikit baikan. Badannya tidak sepanas kemarin. Indi mencoba bangun dari tempat tidurnya dan menyiapkan sarapan untuk anaknya.


"Tante, udah baikan?" tanya Nina, semalam Nina tidur di kamar Evan.


"Loh, kamu nginep di sini Nin?" tanya Indi, yang tidak mengetahui kalau ternyata Nina menginap.


"Iya, Tante, Om Arya minta Nina jagain Tante dan Evan," kata Nina, lalu menuju dapur. Membuat susu dan cereal untuk Evan.


"Mama udah sehat?" tanya Evan, keluar kamar sudah rapi mau ke sekolah.


"Udah sayang, kamu sarapan dulu," kata Indi.


"Tante istirahat aja, biar Nina yang urus Evan," kata Nina meletakkan sarapan Evan.


"Makasih ya Nin, Evan dengerin kak Nina ya, Mama ke kamar dulu," kata Indi, berlalu ke kamarnya.


Drrtt.. Ddrrrtt..


Chat Arya : 'gimana kabar kamu sayang?'


Indi langsung tersenyum walaupun wajahnya masih pucat.


Chat Indi : 'udah enakan,nanti juga sembuh.'


Chat Arya : 'ya udah istirahat ya,makan dan minum obat. maaf belum bisa ke rumah lagi, ada rapat di kantor.'


Indi tahu, hari ini ada rapat dengan semua kepala bagian.


Chat Indi : 'iya, kamu sibuk aja. ke rumah kalau udah pulang kerja.'


Tidak ada balasan lagi dari Arya. Indi merebahkan dirinya dan memejamkan mata.


Tok..tok..tok..


"Mah, Evan mau berangkat sekolah," pamit Evan, masuk ke kamar dan mendekati Indi.


Indi duduk di ranjang dan tersenyum pada Evan.


"Hati-hati ya Nak, nurut sama kak Nina ya," kata Indi menasihati.


"Iya Ma." Evan mencium punggung tangan dan pipi Indi. Indi mencium kening Evan.


Seperginya Evan dan Nina, Indi mencoba menutup matanya lagi. Tapi tidak disangka, kata-kata Angel terngiang kembali di telinga Indi. Selama ini dia merasa kuat dan tidak menghiraukan perkataan orang lain, tapi tidak sekarang. Atau mungkin karena untuk kesekian kalinya dia dihujat, hati Indi cape dan akhirnya rapuh. Indi menghela nafas dalam, untuk menenangkan diri.


Call on.


"Hallo sayang, ada apa?" tanya Arya di seberang telepon.


"Ar, bisa ke sini 'gak?" tanya Indi dengan suara terbata.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Arya khawatir.


Tuuttt..Call off.

__ADS_1


Telepon mati, sebelum Arya mendengar perkataan Indi.


__ADS_2