My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 78 : Kecurigaan Indi


__ADS_3

Indi selalu mencoba mencari tahu siapa yang telah mengganggu hidupnya. Selama ini dia bertanya pada Arya tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban yang dia mau. Indi merasa Arya menyembunyikan sesuatu. Indi harus mencari tahu itu sendiri.


"Dim, apa lo tahu siapa yang nyulik Evan?" tanya Indi pada Dimas.


"Eng, gak tahu kak, waktu itu gak ada siapa-siapa di tempat Evan disekap," jawab Dimas gugup.


"Kalau lo tahu tapi nutupin dari gue, awas aja lo," ancam Indi.


"Gak kak, ampun. Tanya sama kak Arya aja sana," ucap Dimas melemparkan masalahnya pada Arya.


"Dia juga bilang belum tahu." Indi menerawang memikirkan sesuatu.


"Tunggu aja kabar dari kak Arya, kak. Nanti pasti diceritain semuanya," ucap Dimas mencoba membuat Indi tenang.


Indi tidak lagi menanggapi perihal obrolannya dengan Dimas. Dia sudah berkutat pada pikirannya sendiri. Dia merasa semua yang terjadi akhir-akhir ini ada hubungannya juga dengan Calista.


"Apa dia ingin membalas dendam pada keluarga gue? Tapi kenapa? Gue gak merebut Arya dari dia," batin Indi.


"Gue harus mastiin sendiri," gumam Indi, belum sadar kalau masih ada Dimas di situ.


"Mastiin apa kak?" tanya Dimas bingung.


"Mastiin kecurigaan gue." Indi berlalu meninggalkan Dimas.


Indi menuju ruangan Arya. Di depan pintu ruangan, Indi mendengar suara Arya sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Karena Indi tidak mendengar suara orang lain di dalam.


"Bagaimana dia, apa masih sering ke RS Jiwa menemui ibunya?" terdengar suara Arya bertanya.


"...."


"Untuk masalah penculikan Evan, apa kamu sudah menemukan bukti?"


"...."


"Coba kamu masuk ke rumahnya dan cari bukti itu, pada saat dia keluar nanti."


"...."


"Oke, saya tunggu."


Arya menutup tekeponnya dan mengusap kasar wajahnya. Indi membuka perlahan pintu ruangan Arya dan terlihat wajah serius Arya yang sedang melihat sesuatu dari dalam sebuah map.


"Sayang," panggil Indi lirih namun membuat Arya menoleh.


"Hei, ada apa?" tanya Arya sambil memasukkan lagi sesuatu itu ke dalam map.


"Apa itu?" tanya Indi mencoba menguji kejujuran Arya.


"Bukan apa-apa sayang, cuma berkas biasa," kata Arya lalu mendekati Indi dan memeluknya.


"Kamu gak nyembunyiin sesuatu dari aku kan?" tanya Indi dengan tekanan di setiap kata-katanya.


"Nyembunyiin apa sayang. Gak ada yang aku sembunyiin." Arya tahu maksud omongan Indi. Tapi dia belum mau menceritakan semuanya pada Indi.

__ADS_1


"Awas aja kalau aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu dari aku," ancam Indi.


"Sekarang suka ngancam ya," ucap Arya lalu mencium bibir Indi gemas.


"Sukanya me*um kamu aahh." Indi mencubit pinggan Arya.


"Kok kamu de*ah sayang, kan aku jadi pengen," ledek Arya sambil menciumi pipi dan bibir Indi.


"Udah, aku mau kerja lagi dulu. Bye sayang." Indi mencium bibir Arya dengan cepat dan berlari keluar ruangan Arya.


"Maaf sayang, aku belum bisa jujur semuanya sama kamu," batin Arya.


"Kamu nyembunyiin sesuatu dariku Ar," batin Indi, merasakan ada sesuatu yang tidak enak.


"Gimana keadaan lo?" tanya Jacelyn pada Evan saat di sekolah. Evan sudah mulai masuk sekolah lagi.


"Gue baik-baik aja, Jace," jawab Evan sambil tersenyum.


"Maafin gue," ucap Jacelyn sambil menunduk.


"Kok lo yang minta maaf, kenapa?"


"Gue tahu lo diculik, tapi gue gak bisa bantuin apa-apa." Jacelyn berjongkok menyembunyikan air matanya yang mengalir.


"Its oke Jace, gue gak pa-pa kan. Dan itu bukan salah lo."


"Tapi gue ...," belum selesai Jacelyn bicara, Evan menyerobot.


Evan tahu apa yang akan Jacelyn bicarakan. Dia gak mau mendengar apapun dari mulutnya. Karena yang pasti dia tetap ingin berteman dengan Jacelyn.


"Evan," teriak Maria dan beberapa anak perempuan lainnya.


"Kamu sakit apa beberapa hari gak sekolah?" tanya Maria dengan gaya khasnya, sok centil di depan Evan.


"Bukan apa-apa, udah sembuh kok," jawab Evan mencoba ramah.


"Ada yang bilang kamu diculik, apa benar?" tanya seorang siswi.


"Gosip dari mana itu." Evan menggeleng tidak


membenarkan.


"Dari sumber yang dapat dipercaya kak, katanya gara-gara Jacelyn," satu siswi lagi berbicara.


Jacelyn langsung menatap ke arah siswi yang tadi bicara. Dan mendapatkan seringaian jahat.


"Kalau kalian berani nuduh Jacelyn tanpa bukti, gue juga bisa nuduh kalian yang berusaha nyulik gue," ucap Evan emosi.


"Jadi bener lo diculik Van?" tanya Maria dengan muka prihatin yang dibuat-buat.


"Sial gue terjebak sendiri," batin Evan.


"Engga, gue kecelakaan motor. Sekarang lo lihat kan, gue gak pernah naik motor lagi," ucap Evan mencari alasan.

__ADS_1


Setelah penculikan itu, Evan memang tidak pernah pergi naik motor sendiri ke sekolah. Dia dan Vania diantar jemput oleh sopir Arya.


"Gue akan terus cari cara biar Jacelyn jelek di mata lo Van," batin Maria.


"Syukurlah kalau sekarang kamu baik-baik aja Van, gue berdoa supaya kamu dijauhkan dari bahaya," ucap Maria sambil melirik ke arah Jacelyn.


Jacelyn yang dari tadi diam langsung berjalan meninggalkan kerumunan di sekeliling Evan. Evan langsung mengikuti Jacelyn dan mendapat teriakan tidak suka dari para siswi tadi


"Mau kemana?" tanya Evan mensejajari langkah Jacelyn.


"Kelas," jawab Jacelyn singkat.


"Lo marah karena tuduhan sembarangan mereka?" tanya Evan menahan bahu Jacelyn untuk menghentikan langkahnya.


"Mereka gak nuduh sembarangan kak, semua itu be.. mmhhh." Jacelyn tidak menyelesaikan kalimatnya karena bibirnya tiba-tiba dicium oleh Evan.


"Lo ngapain?" tanya Jacelyn dengan wajah memerah entah malu atau marah.


"Sorry, gue gak bermaksud," ucap Evan terbata.


"Jangan ikutin gue," ucap Jacelyn lalu berlari menuju kelasnya.


Evan mematung sesaat melihat kepergian Jacelyn, lalu tersenyum sumringah karena dapat merasakan bibir manis Jacelyn.


"Sialan, apa-apaan mereka," gumam Maria kesal yang tidak sengaja melihat kejadian tadi.


Arya mengantarkan Indi pulang ke rumah terlebih dahulu karena dia bilang ada pekerjaan sebentar di luar kantor dengan Dimas. Karena rasa curiganya, Indi berusaha membuntuti Arya kemana dia pergi. Dengan memesan taksi online, Indi mengikuti Arya. Dan sampailah Arya di RS Jiwa tempat ibunya Calista dirawat.


"Mau apa Arya ke sini?" tanya Indi pada diri sendiri.


Indi keluar mengikuti Arya dan betapa kagetnya dia melihat Arya ternyata menemui Calista. Banyak pertanyaan muncul di kepala Indi. Banyak pikiran jelek yang tiba-tiba saja masuk ke kepalanya. Dia harus menahannya dengan rasa sesak yang juga mendera dadanya saat ini.


"Apa yang sebenarnya kamu lakuin Ar? Kenapa gak mau jujur semuanya sama aku," gumam Indi memegang dadanya yang terasa sesak karena menahan air matanya.


.


.


NOTE :


Hai dears, baca juga karya temen aku di bawah ini ya. Ketik judulnya atau cari nama penanya di pencarian, dijamin ceritanya bagus dan menarik.


Judul : Maafkan Aku, Istriku


Napen : nazwa talita


Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali cinta Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.


Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.


Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.


__ADS_1


__ADS_2