My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 70 : Merasa Bersalah


__ADS_3

Jacelyn merasa sangat nyaman dengan keluarga Evan. Indi yang tadinya kurang suka dengan Jacelyn, jadi lebih dekat sejak mendengar cerita dari Jacelyn sendiri. Dia sedikit iba dengan cerita kehidupan Jacelyn. Walaupun sekarang dia diangkat oleh keluarga Angel, tapi dia tetap merasa kurang nyaman katanya.


"Kak, keluarga kakak beneran baik semua ya," kata Jacelyn sewaktu istirahat di kantin sekolah.


"Iya dong, gue juga baik kan?" Evan tersenyum sombong.


"Hmm, iya deh baik hati dan tidak sombong," ucap Jacelyn menahan tawa.


"Pesen makan sana, nanti gue traktir," kata Evan menyeruput minumannya.


Dari saat Evan dan Jacelyn masuk ke kantin, banyak mata dan bisik-bisik dari semua anak sekolah mereka terutama anak perempuan. Jacelyn merasa risih dengan itu tapi tidak dengan Evan. Evan tidak menghiraukan tanggapan orang lain maupun tatapan penasaran mereka.


"Gue balik kelas aja kak," ucap Jacelyn hendak beranjak dari kursinya.


"Makan dulu," perintah Evan.


"Gue gak lapar kak," ucap Jacelyn lagi semakin mendengar bisikan dari siswa yang ada di kantin.


"Kalau dia gak mau jangan dipaksa dong Van," ucap Maria yang baru datang dengan dua temannya.


Maria mengisyaratkan Jacelyn untuk berdiri dari dudukny tapi ditahan oleh Evan. Jacelyn merasa terjebak dengan tatapan permusuhan dari Maria dan semua perempuan yang ada di kantin.


"Kak, gue ke kelas dulu ya," bisik Jacelyn pada Evan.


"Ayo bareng," ajak Evan menggandeng tangan Jacelyn.


"Kak, lepasin." Jacelyn mencoba melepas pegangan tangan Evan tapi tidak berhasil.


Evan melangkah cuek melewati Maria dan semua orang di kantin. Jacelyn menunduk karena tidak mau bertemu pandang dengan siapapun yang ia lewati. Dia tidak mau mendapat pelototan karena berjalan bersama Evan.


"Kak, jangan bikin gue dimusuhin satu sekolah dong," gerutu Jacelyn yang berhasil membuat Evan tersenyum.


"Jangan senyum doang kak, gimana nasib gue nih." Jacelyn terus merengek sambil terus mencoba melepaskan genggaman tangan Evan.


Sampai di depan kelas Jacelyn, Evan melepaskan genggamannya dan pergi begitu saja. Membuat Jacelyn bersungut kesal.


"Van, Jacelyn gak dibawa ke sini?" tanya Indi saat kumpul di ruang keluarga sebelum makan malam.


"Ngapain?" tanya Evan bingung.


"Main dong Van, pelit amat temannya gak diajak main ke rumah." Indi berkata sambil menggerutu.


"Bukannya Mama yang nyuruh Evan fokus sekolah dulu," kata Evan mengomentari ibunya yang aneh.

__ADS_1


"Mama udah mulai suka sama Jacelyn Van," ucap Arya membuat Indi melotot.


"Mama hubungi aja sendiri," ucap Evan cuek.


"Mama kan gak tahu nomornya," ucap Indi cemberut.


Evan langsung menyodorkan ponselnya pada Indi memperlihatkan nomor Jacelyn. Indi menatap dengan ragu-ragu.


"Gak deh, kamu aja yang ajak ke sini," kata Indi lalu beranjak ke dapur menyiapkan makan malam.


"Mama ribet deh," ucap Vania yang masih asik nonton kartun bersama Vano.


Evan tersenyum melihat kelakuan ibunya. Dia berharap bisa lebih leluasa berteman dengan Jacelyn karena ibunya sudah mengijinkan.


Setelah makan malam, Evan langsung masuk ke kamarnya dan menelepon Jacelyn.


Call on.


"Hai, lagi ngapain?" tanya Evan basa basi.


"Ngerjain tugas aja kak. Tumben telepon, ada apa?" tanya Jacelyn bingung.


"Gak pa-pa, Mama nyariin kamu. Disuruh main ke sini katanya."


"Maafin aku Van, aku harus gimana?" batin Jacelyn.


Evan terus memanggil Jacelyn karena tidak ada suara begitu lama. Jacelyn melamun dan Evan tidak tahu itu.


"Eh kenapa kak? Sorry gue sedikit ngelamun, hehehe," kata Jacelyn terkekeh.


"Gue kan udah lagi telepon Jace, ngapain masih dilamunin." Evan tersenyum percaya diri.


"PD sekali dirimu kak."


Jacelyn tertawa dibarengi oleh Evan. Setelah mengobrol ke sana kemari gak jelas, akhirnya Evan mengakhiri panggilannya.


"Gimana perkembangannya?" tanya seorang di tempat yang sedikit pencahayaan.


"Mereka orang baik, gue mundur aja deh," Jacelyn tengah berbicara dengan orang itu.


"Lo gak berhak nentuin mau lanjut atau mundur tanpa ijin dari gue," teriak orang itu sambil menggebrak meja.


"Gue gak mau ngancurin keluarga yang baik kaya mereka. Sebenarnya apa salah mereka?" tanya Jacelyn tidak mau kalah.

__ADS_1


"Lo gak perlu tahu. Yang terpenting lo harus ikutin semua perintah gue."


"Gue gak mau, jangan paksa gue." Jacelyn berteriak mencoba memberontak.


"Lo emang harus diingetin ya, udah banyak tingkah sekarang." Orang itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa Jacelyn dengan paksa.


"Lepasin gue, gue gak mau nyakitin mereka," teriak Jacelyn, dibawa paksa oleh dua orang pria.


Di kantor, Arya, Indi dan Dimas sedang membicarakan tentang acara hari ini, ketika Evan bergegas masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa Nak, kamu masuk sampai gak ketuk pintu dulu?" tanya Arya yang melihat kepanikan di wajah Evan.


"Pah tolong Evan," ucap Evan tersendat karena nafasnya belum beraturan.


"Kamu kenapa sih Van?" tanya Indi mulai was-was.


"Tolong cari keberadaan Jacelyn. Udah dua hari dia gak kelihatan. Ponselnya juga gak bisa di hubungi," kata Evan menceritakan permasalahannya.


"Mungkin dia sakit kali Van," tebak Dimas.


"Di kost gak ada Om. Evan udah ke sana tapi kosong."


"Tenang dulu, kamu gak perlu khawatir dan berpikir macam-macam. Mungkin Jacelyn sedang pulang ke rumah Angel atau sedang sakit bener kata om Dimas." Arya mencoba menenangkan Evan.


Indi mendekati Evan dan mengusap punggung anaknya agar sedikit lebih tenang. Evan duduk di sofa dan menhela nafas panjang untuk menenangkan diri.


"Coba kamu cari tahu Dim, tanya Angel atau tanya ayahnya," perintah Arya pada Dimas.


"Oke, aku permisi dulu."


Dimas keluar ruangan Arya dan langsung menghubungi Angel.


Di sisi lain, Jacelyn sedang meringkuk di ruangan yang gelap. Tidak ada suara apapun kecuali suara sesenggukan yang berasal dari Jacelyn sendiri.


"Gue harus gimana Van? Gue gak mau nyakitin kalian, tapi gue juga ga bisa kaya gini terus." Jacelyn membatin.


"Maafin gue, lo harus terima maaf gue suatu saat nanti."


Pintu ruangan terbuka dan Jacelyn dibawa paksa lagi oleh dua orang pria. Lalu dipulangkan ke rumah kost-nya. Selama perjalanan, Jacelyn hanya diam dan menatap kosong jalanan. Di sebelahnya ada seseorang yang selalu memerintah Jacelyn.


"Jangan macam-macam lagi, gue gak mau terus-terusan nyakitin lo," kata orang itu tegas.


Jacelyn memilih diam dan air matanya kembali tumpah. Rasa sakit di sekujur tubuh tidak dirasakan karena hatinya lebih sakit. Merasa bersalah pada keluarga yang benar-benar tulus menerimanya tanpa tahu siapa dia sebenarnya.

__ADS_1


"Udah gak usah nangis. Lo belum tahu gimana mereka aslinya. Jangan terbawa emosi sesaat," kata orang itu lagi ketika mendengar tangis Jacelyn pecah.


__ADS_2