
Sudah bukan hal asing di telinga Indi, kalau dirinya digunjingkan di belakang, oleh karyawan-karyawan lain. Setiap kali Indi mendengar apa yang dikatakan mereka tentang dirinya, Indi pasti akan selalu sakit hati dan menangis. Tapi, Arya selalu bisa membuat Indi kembali baik lagi. Satu kali, dua kali, mungkin masih bisa diabaikan. Tapi kalau terus-terusan mendengar hal-hal seperti itu, Indi merasa lelah.
Setelah satu minggu berlalu, Indi tidak mendengarkan gunjingan tentang dirinya lagi. Namun, pada waktu siang dia pergi ke pantry, dia langsung dilabrak seorang perempuan.
"Hey *****, lo pakai pelet apa sih sampai si Boss deket sama lo. Dan Pak Ardi juga deket sama lo," kata perempuan itu sambil menjambak rambut Indi. Selain Arya yang menjadi idaman para karyawan perempuan, Ardi juga sama.
"Lepasin gue dulu, baru ngomong apa mau lo," kata Indi berusaha tenang.
"Gue pengen lo jangan kegatelan deket-deket sama Pak Boss dan Pak Ardi," kata perempuan itu lagi, masih menjambak rambut Indi.
"Pertama, gue deket sama Pak Arya karena gue sekretarisnya. Kedua, Ardi itu temen gue dari jaman kuliah, jadi wajar kalau deket," Indi masih berusaha tenang, sambil memegang rambutnya agar tidak terlalu sakit.
Perempuan itu semakin keras menjambak rambut Indi.
"Awww, tolong lepasin," Indi berusaha memohon.
"Angel, lo apa-apaan sih. Lepasin Bu Indi," kata seorang perempuan yang datang ke pantry juga.
Perempuan yang bernama Angel itu, akhirnya melepaskan jambakannya dan berlalu pergi dari pantry.
"Bu Indi 'gak apa?" tanya perempuan tadi, yang ternyata bagian HRD.
"Gak apa, makasih ya," Indi mencoba membenarkan rambutnya yang berantakan. Dadanya begitu sakit diperlakukan seperti itu. Setelah dirasa cukup rapi, Indi kelur dari pantry menuju ruangannya.
Sampainya di meja kerjanya, Indi menelungkupkan wajahnya di atas tangannya. Dia mencoba terus mengambil nafas, untuk menenangkan dirinya.
"Indi," suara Dimas memanggil Indi. Tapi, Indi masih tetap dalam posisinya.
"Lo sakit Ndi?" tanya Dimas lagi. Indi mendengar, tapi memilih untuk tetap diam.
Terdengar suara langkah Dimas menjauh. Indi menghela nafas dalam. Rasanya hari ini dia benar-benar lelah.
"Indi," suara yang selalu membuat jantung Indi berdebar, suara Arya.
Indi langsung berdiri dari duduknya. "Iya Pak," Indi langsung merespon Arya.
"Gue yang nanya aja diem," Dimas menggerutu di samping Arya. Indi melemparkan tatapan tajamnya pada Dimas.
"Kamu sakit?" tanya Arya melihat Indi dari atas sampai bawah.
"Eng, engga kok Pak. Saya 'gak sakit," jawab Indi gugup.
"Ke ruangan saya sekarang," kata Arya dingin.
Arya masuk ke ruangannya dan Indi mengikuti.
"Lo pasti yang ngadu sama Arya," Indi menabok lengan Dimas. Dimas hanya nyengir, dan mengaduh karena ditabok.
Indi sudah berada di ruangan Arya. Dan Arya masih sibuk dengan keyboardnya.
__ADS_1
"Pak," panggil Indi lirih. Dia takut untuk memandang Arya.
Arya masih sibuk dengan keyboardnya. Indi menghela nafas lelah.
"Bapak manggil saya ada apa ya, Pak?" Indi berbicara lantang.
Arya menghentikan aktifitasnya, dan menatap Indi.
"Tadi kamu kenapa? Dimas bilang, kamu dipanggil diam saja," Arya bertanya dengan nada serius.
"Saya tidak apa-apa Pak. Hanya sedang tidak ingin bicara saja," kata Indi menundukan kepalanya.
Indi merasa Arya berjalan mendekatinya. Indi mendongak dan bertemu pandang dengan mata Arya.
"Ada masalah apa lagi?" Arya bertanya menuntut.
"Gak ada masalah apa-apa," Indi masih menjawab santai.
"Harus aku cari tahu sendiri?" tanya Arya dingin.
Indi menggelengkan kepalanya cepat. Indi menundukan kepalanya lagi, dan satu bulir air matanya lolos begitu saja.
Arya menangkup pipi Indi, dan melihat air mata menggenang di pelupuk mata Indi. Arya melepaskan tangkupannya, dan menghembuskan nafas kasar. Haaahhh.
Indi terus menundukkan kepalanya, dan tangan kekar Arya membawa Indi bersandar di dadanya. Indi menggigit bibirnya agar tidak menangis.
"Nangis aja, 'gak usah ditahan," Arya mengelus rambut Indi. Seketika, suara isakan tertahan menggema di ruangan Arya. Arya merasakan dadanya sesak mendengar tangisan Indi.
Setelah beberapa menit menangis, menumpahkan perasaannya, Indi akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Siapa yang lakuin itu ke kamu?" Arya bertanya dengan menahan amarah.
"Tadi aku denger namanya Angel," Indi berkata lirih.
"Sakit 'gak?" Arya mengelus rambut Indi yang tadi dijambak oleh Angel.
Indi menggeleng cepat. "Sekarang udah 'gak sakit."
"Kita umumin aja hubungan kita ya?" tanya Arya pada Indi.
"Aku 'gak mau semakin dikira manfaatin kamu Ar," kata Indi.
"Punya pacar Boss mau dimanfaatin juga boleh," kata Arya mengerling.
"Jangan macam-macam kamu," Indi sedikit menjauh, gugup.
"Satu macem aja sayang," Arya mengerling lagi.
"Arya iihh," Indi menabok lengan Arya.
__ADS_1
"Hahaha, kamu lucu banget kalau lagi gugup gitu," Arya menarik tangan Indi untuk mendekat, lalu memeluknya.
"Maaf ya, kamu jadi terus-terusan di bully sama penggemarku," kata Arya percaya diri.
"Ge Er amat kamu," Indi mencubit pinggang Arya.
"Awww, sayang sakit," Arya memanyunkan bibirnya dan memasang wajah imut.
"Isshhh, gemesin banget loh," Indi mencubit pipi Arya, membuat Arya semakin manyun.
"Kamu jahat," Arya menghentakkan kakinya meninggalkan Indi hendak ke luar ruangan. Indi langsung mencegat Arya dan mencium sekilas bibir Arya. Lalu Indi keluar ruangan Arya sambil tersenyum.
Meskipun merasa lelah dengan semua perlakuan dan perkataan orang-orang yang tidak suka dengannya, tapi Indi masih punya kekuatan untuk menghadapi semua itu. Indi punya Arya sebagai kekuatannya.
Pov Arya.
"Arin, Mama mana?" tanya Arya pada Arini yang sedang asyik nonton TV.
"Baru pulang juga, udah nyariin Mama," kata Arini tetap fokus ke layar TV.
"Mama dimana?" tanya Arya lagi.
"Pergi sama Papa tadi," Arini menengok ke arah Arya. Arya duduk di sebelah Arini.
"Kusut amat wajahnya Kak?" tanya Arini melihat Arya yang lemas.
Arya hanya menghela nafas lelah.
"Berantem sama kak Indi?" tanya Arini lagi,
Arya hanya menggeleng.
"Kerjaan banyak, dan gak selesai-selesai?"
Arya menggeleng lagi.
"Isshh, ditanyain cuma galang geleng doang," Arini kesal sudah bertanya pada kakaknya.
"Menurut kamu, hubungan Kakak sama kak Indi ada yang salah gak? Secara, kita atasan dan bawahan di kantor," akhirnya Arya bertanya pada Arini.
"Gak ada," Arini menjawab singkat.
Arya memandang wajah adiknya seperti menuntut jawaban lebih. Arini yang merasa dipandangi, langsung membuka mulut.
"Kenapa Kak?" tanya Arini.
"Gitu aja jawaban lo?" tanya Arya penasaran.
"Iya Kak, emang apa lagi," Arini menjawab dengan polos.
__ADS_1
Arya langsung beranjak pergi ke kamarnya. Dia merasa lebih lelah setelah berhadapan dengan adiknya yang super lemot.