My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 96 : Kembali Pulang


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari ini Evan sudah diijinkan pulang oleh Dokter. Dengan syarat, setiap minggunya Evan harus menjalani pemeriksaan sebagai kontrol lanjutan.


"Akhirnya pulang juga," ucap Evan senang.


"Jaga selalu diri kamu boy. Jangan sampai gini lagi. Kasihan mama kamu," nasehat Arya untuk anaknya.


"Iya Pah, maafin Evan udah buat kalian semua khawatir."


Arya yang menjemput pulang Evan, membiarkan Indi istirahat dan menunggu di rumah. Di sepanjang perjalanan, Evan menceritakan tentang pertemuannya kembali dengan Kanaya. Bagaimana Kanaya menceritakan awal mula mereka saling kenal dulu.


"Pertama kali lihat dia aja, kamu udah penasaran gitu boy. Kamu senang sekali saat tahu namanya." Arya juga mencoba menceritakan semua yang dia tahu.


"Menurut Papa, kenapa Evan bisa melupakan Kanaya?"


Indi selalu menceritakan perkembangan Evan pada Arya selama di rumah sakit. Selama Arya bekerja dan tak bisa menjaga Evan. Tak terkecuali tentang Jacelyn yang sudah merubah namanya menjadi Kanaya.


"Ada satu hal yang mungkin membuat kamu merasa benar-benar sakit hati terhadapnya dan kamu memendam semuanya. Jadi, saat kamu mengalami kecelakaan itu dan Dokter mendiagnosis kamu bisa saja mengalami gegar otak karena benturan di kepala kamu, secara bawah sadar kamu menekan kenangan buruk itu. Akhirnya gak ingat deh sama Kanaya."


"Apa yang dulu pernah Kanaya lakuin sama Evan, Pah?"


"Kalau itu biar nanti kamu dan Kanaya yang menyelesaikannya sendiri."


Arya menepuk pelan pundak Evan dan tersenyum menyemangati.


Sampainya di rumah, semua anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul dan menunggu kepulangan Evan. Arya mendorong kursi roda Evan masuk ke dalam rumah dan memberitahu kepulangannya dengan berteriak.


"Evan pulang."


Indi langsung mendekati Evan dan memeluk anaknya itu. Semua orang tersenyum lega melihat Evan sudah bisa berkumpul lagi dengan keluarga.


"Kak Evan," teriak Vania dan Vano berbarengan lalu berlari memeluk Evan.


"Akhirnya kakak pulang. Vania kangen banget, Kak. Vania dan Vano gak boleh sering-sering jenguk kak Evan di rumah sakit. Jadi kangen deh." Vania mengadu sambil menggerutu.

__ADS_1


"Iya cantik, rumah sakit gak bagus buat anak kecil kaya kamu dan Vano." Evan mencubit pelan pipi Vania.


"Vania udah besar tahu," cibir Vania menjulurkan lidahnya meledek.


"Udah ayo, kak Evan harus istirahat dulu biar cepat pulih," ucap Nenek Ellis mendekat dan memeluk Evan juga.


"Gak pa-pa Nek, Evan bosan istirahat terus di rumah sakit. Evan kangen masakan Nenek." Evan tersenyum lebar.


"Oke, nanti Nenek masakin makanan kesukaan kamu."


"Makasih, Nek."


Satu per satu anggota keluarga menyambut kepulangan Evan dari rumah sakit. Evan menghampiri Arini yang terlihat seperti akan menangis.


"Kenapa Tante? Evan udah pulang nih, udah sehat," ucap Evan memegang tangan Arini.


"Jangan masuk rumah sakit lagi ya, anak ganteng! Tante terlalu takut kehilangan kamu." Arini membungkuk dan memeluk Evan erat lalu menangis.


Semua orang hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Arini memang sangat sayang dengan Evan.


Makan malam pun tiba, semua anggota keluarga berkumpul untuk menikmati makan malam bersama. Arini masih saja memasang wajah sedihnya.


"Udah dong Beb, Evan kan udah pulang. Dia udah sembuh tuh," tunjuk Dimas ke arah Evan.


"Evan ponakan aku yang paling aku sayang, Beb." Arini sangat melebih-lebihkan kesedihannya.


"Oohh, jadi Vania bukan ponakan tersayang nih," protes Vania memasang wajah cemberut.


"Kamu juga ponakan tersayang tante, Vania." Arini langsung mendekati Vania dan mencium pipinya.


"Vano enggak?" tanya Vano juga ikut serta.


Arini tersenyum dan mencium Vano juga. Semuanya tertawa melihat tingkah Arini dan kedua ponakan kecilnya itu, Vania dan Vano.

__ADS_1


Makan malam yang begitu hangat dan meriah karena disertai canda tawa sesama anggota keluarga.


Setelah selesai makan malam, Arya ijin masuk ke dalam ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan.


Call on.


"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Arya pada David lewat sambungan telepon.


"Semuanya baik-baik saja, Pak. Saya sudah persiapkan semuanya untuk terbang ke luar negeri besok pagi."


"Bagus, biarkan dia dan ibunya menjalani sisa hidupnya di sana. Jangan biarkan dia menghancurkan lagi keluarga saya. Cukup sampai di sini saja."


"Baik, Pak. Akan saya pantau selalu dan saya jamin mereka tidak akan mengusik keluarga Bapak lagi."


"Terima kasih David."


Call off.


Arya telah menyiapkan semuanya untuk Calista dan ibunya. Dia ingin sekali memenjarakannya, tapi Indi wanita yang begitu baik hati ingin membiarkannya. Tetapi dengan satu syarat, Calista harus diasingkan ke luar negeri dan jangan sampai dia kembali lagi. Arya menyiapkan semuanya untuk memenuhi keinginan sang istri tercinta.


"Sayang, mau kopi?" Indi masuk ruang kerja Arya membawa secangkir kopi.


Dengan cepat Arya menarik Indi ke dalam pelukannya setelah Indi meletakkan cangkir kopinya. Arya mencium bibir Indi dengan memburu. Dia sudah lupa kapan terakhir kalinya mereka bermesraan.


"Aku menginginkanmu malam ini, sayang," bisik Arya di telinga Indi menggodanya.


.


.


NOTE :


Maaf author gantung dulu, lanjut di bab selanjutnya ya 🤭😘. jangan lupa tinggalkan jejak dears. love love love ❤🥰

__ADS_1


__ADS_2