My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 24 : Rindu yang Jauh


__ADS_3

Pov Indira.


Pulang dari kantor, Indi ketiduran di kamar tanpa mengganti baju kerjanya. Entah kenapa, Indi merasa dirinya begitu lelah. Indi masuk ke kamar mandi dan membersihkan badannya. Setelah mandi, Indi keluar dari kamar dan mencari Evan.


"Evan, sayang, kamu dimana?" panggil Indi.


"Di kamar Mah," Evan menjawab dari dalam kamar.


Indi masuk ke kamar anaknya. "Maaf sayang, Mama ketiduran," kata Indi mendekati Evan yang sedang mewarnai di meja belajarnya.


"Gak apa Mah, Mama pasti capek," kata Evan fokus mewarnai.


"Kamu udah makan belum, Nak?" Indi mengusap kepala Evan.


"Udah Mah, sama kak Nina tadi," Evan menyelesaikan gambarnya.


"Mama bahagia punya kamu sayang. Makasih ya, udah jadi anak Mama yang pengertian," Indi mengecup pipi Evan.


Evan menatap Indi dengan tatapan sayang. "Mama kenapa?" tanya Evan, memeluk Indi.


"Mama 'gak kenapa-napa sayang," Indi memeluk erat Evan. Ingin rasanya menumpahkan semua rasa lelahnya pada Evan. Tapi, Evan hanya seorang anak kecil yang tidak pantas menerima keluh kesahnya. Evan hanya harus bahagia.


"Evan udah besar Mah, Mama bisa cerita sama Evan," seakan tahu apa yang dipikirkan Indi, Evan mengeratkan pelukannya.


"Iya sayang, kamu udah besar. Udah bisa jagain Mama ya, gantiin Papa kamu," tidak terasa air mata mengalir di pipi Indi. "Papa pasti bangga sama kamu, Nak," Indi mengusap air matanya.


"Mama mau ketemu Papa besok? Evan temenin Mah," kata Evan, menguraikan pelukannya dengan Indi.


"Boleh, besok kita ke makam Papa ya," Indi mencium kening Evan, "Sekarang Evan tidur ya," Indi membereskan meja belajar Evan.


"Evan sayang Mama," Evan bersiap untuk tidur.


"Mama juga sayang Evan," Indi mengecup lagi kening Evan, lalu keluar kamar Evan.


Flasback On.


Tit..tit..tit.. Suara mesin terdengar jelas di telinga Indi. Seorang yang dicintainya, terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Mama, apan Papa angun. Pan au ain ama Papa," Evan kecil, yang saat itu berusia dua tahun bertanya pada Indi.


"Nanti ya sayang, kalau Papa udah sembuh, pasti bisa main lagi sama Evan," kata Indi dengan sekuat tenaga menahan air matanya.


Evan langsung duduk di sofa panjang sambil sibuk dengan mainannya. Indi sudah tidak punya siapa-siapa lagi, begitu juga dengan suaminya, Adam.


"Ndi," panggil Adam lemah, tapi tetap menampakkan senyumnya.


"Iya mas, mau apa hmm?" Indi memegang tangan suaminya.


"Makasih ya, sudah berjuang bersama selama ini. Maaf, kalau aku tidak bisa menemani kamu sampai Evan dewasa nanti," Adam berbicara dengan lirih, tapi Indi masih bisa mendengarnya jelas.


"Mas, jangan bicara yang aneh-aneh. Mas pasti sembuh, mas kuat," Indi menggigit bibirnya agar tidak menangis.

__ADS_1


"Kalau kamu sudah siap, kamu bisa mencari Papa yang baik buat Evan, dan suami yang baik juga buat kamu," Adam tersenyum dan air mata jatuh ke pipinya.


"Indi 'gak mau Mas, jangan tinggalin Indi," Indi menciumi tangan suaminya, air matany sudah jatuh bercucuran. Indi tidak mau kalau hari ini adalah saatnya.


"I love you, sayang. Tolong jaga Evan ya, dan jaga diri kamu, maafin aku," kata-kata terakhir yang membuat tangis Indi pecah mengisi ruang rawat Adam.


"Mas Adam," Indi mengguncang tubuh suaminya, tapi tidak ada respon dari Adam.


Flasback off.


"Indi kangen Mas," Indi mengusap air matanya, mengingat saat terakhir dia mendengar suara Adam. Indi masuk ke kamarnya dan mengecek ponselnya. Ada 15 panggilan tak terjawab, dan dua pesan masuk. Semuanya dari Arya.


Chat Arya : 'kamu marah sama aku Ndi? Maafin aku kalau aku ada salah'


Chat Arya : 'tadi aku ke rumah kamu, tapi kata Evan kamu tidur. met istirahat'


Indi menutup ponselnya, dan menghela nafas lelah.


Drrtt..ddrrtt.. Ponsel Indi berdering. Tanpa Indi melihatnyapun, dia sudah tahu siapa yang menelepon.


Call on.


"Hallo," sapa Indi.


"Malam Ndi, aku ganggu 'gak?" tanya si penelepon, yang pasti adalah Arya.


"Gak Ar, sorry tadi ketiduran," kata Indi menggaruk tengkuknya.


Indi melihat jam di atas meja samping tempat tidur, jam 9 malam.


"Boleh Ar, bentar aku bukain pintu ya," Indi mematikan teleponnya, lalu berjalan keluar.


Call off.


"Malam sayang," Arya menyapa Indi sambil tersenyum manis. Indi tersihir dengan senyuman Arya.


"Masuk Ar," Indi jadi salah tingkah sendiri.


Arya duduk di sofa panjang, dan Indi duduk di sampingnya.


"Evan udah tidur Ndi?" tanya Arya, tidak melihat Evan.


"Udah barusan," jawab Indi, lalu pergi ke dapur mengambil minuman.


"Makasih Ndi," Arya meminum setengah gelas.


Arya menatap Indi, dan dia sadar mata Indi sedikit bengkak.


"Kamu habis nangis sayang?" tanya Arya lembut, "Kenapa, hmm?" Arya memegang tangan Indi.


"Gak apa Ar," Indi bingung mau cerita atau tidak. Indi takut Arya cemburu.

__ADS_1


"Gak mau cerita?" tanya Arya dingin. Indi langsung menggeleng cepat.


"Bukannya gitu, aku takut kamu marah," Indi menundukkan kepalanya.


Arya memegang dagu Indi dan mendongakkan kepala Indi, menatap Arya.


"Belum juga cerita, tahu dari mana aku marah, hmm," Arya merasa gemas dengan Indi.


"Tadi nangis gara-gara inget Mas Adam," kata Indi lirih. Arya langsung melepaskan genggaman tangannya.


"Siapa Adam? Kamu punya cowo lain?" suara Arya begitu dingin dan menakutkan.


Indi, antara takut dan juga senang, karena Arya sedang mode cemburu.


"Mas Adam, mantan suamiku yang udah meninggal," kata Indi sambil tersenyum sendu.


Arya langsung memeluk Indi.


"Maafin aku sayang, aku 'gak tahu. Aku cemburu, kamu sebut nama cowo lain," Arya mengeratkan pelukannya.


"Dasar bocah," Indi tertawa dalam pelukan Arya.


"Kamu ngatain aku bocah?" Arya menatap dalam Indi.


"Iya bocah, yang bisa bikin bocah," Indi tersenyum malu.


"Kamu mau cobain sayang?" Arya menaikturunkan alisnya.


"Iisshh, mesum Arya," Indi memukul pelan bahu Arya.


Arya menangkap tangan Indi, dan mengikis jarak diantara mereka. Arya mencium bibir Indi, Indi menutup matanya menikmati ciuman Arya. Setelah kekurangan oksigen, Arya melepaskan ciumannya. Dan mengusap pipi Indi lembut.


"Sekarang ada aku, aku yang akan jaga kamu dan Evan," Arya berbicara dengan tulus, membuat Indi merasakan panas di matanya.


"Aku akan membuat kalian bahagia," Arya membawa Indi ke dalam pelukannya. Air mata Indi tumpah begitu saja. Arya mengusap punggung Indi untuk menenangkannya.


"Makasih Arya," kata Indi disela tangisannya.


Beberapa jam yang lalu, Indi sempat kesal dengan Arya karena masalah Angel. Sekarang, Indi mencoba untuk percaya pada Arya. Karena dia sudah bisa mengambil hati Evan dan juga Indi.


"Udah jangan nangis lagi, jelek tahu," Arya menggoda Indi.


"Kalau jelek, kenapa suka?" tanya Indi manyun.


"Karena aku suka," Arya menjawab sambil tersenyum


"Iisshh, 'gak jelas," Indi tersenyum melihat Arya.


Indi berharap, kebahagiaan ini bisa selamanya.


"Mas, aku udah nemuin Papa yang baik buat Evan," kata Indi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2