
Sejak saat malam resepsi pernikahan Angel, Evan masih penasaran dengan anak satu sekolahnya. Tapi dia tidak pernah bertemu dengan anak itu. Di sekolah, Evan bukan termasuk anak yang suka bergaul dengan teman-temannya. Dia lebih suka menyendiri sambil belajar dan mendengarkan musik. Walaupun dia terkenal di kalangan para murid perempuan, tapi dia tidak disukai oleh murid laki-laki.
"Gimana, udah ketemu?" tanya Arya pada Evan di saat makan malam.
Evan memberikan tatapan tajam pada Arya. Dia tidak mau ibunya tahu tentang ini.
"Ketemu, apanya?" tanya Indi penasaran.
"Enggak ada Mah, bukan apa-apa," jawab Evan sedikit gugup.
"Dia ketemu teman sekolahnya di acaranya Angel, perempuan," kata Arya santai sambil tersenyum.
"Pah," geram Evan pada Arya.
"Evan?" tanya Indi sambil menatap mata Evan.
"Penasaran aja Mah, gak ada yang lain. Hehehe," ucap Evan merasa malu.
"Sekolah dulu yang bener sayang, kamu udah kelas tiga loh. Bentar lagi lulus dan harus kuliah," nasehat Indi langsung memenuhi telinga Evan.
"Gak pa-pa kalau berteman," kata Arya yang langsung mendapat tatapan tajam Indi.
"Dia udah remaja sayang," ucap Arya lagi dengan tatapan menggoda.
"Gak ada jatah kalau kamu belain Evan terus," kata Indi akhirnya membuat Arya bungkam.
Evan yang tadinya sedikit tertekan karena nasehat dari Indi, menjadi menahan tawa mendengar ancaman Indi untuk Arya.
"Jangan ketawa kamu, gak Papa belain lagi loh," bisik Arya pada Evan. Evan langsung memasang muka datar.
"Selesai makan malam, masuk kamar semuanya. Vania jangan lupa PR sekolahnya," pinta Indi.
"Mama lagi PMS kali ya," bisik Vania.
Evan dan Vania pamit masuk ke kamar masing-masing setelah mencium pipi Indi dan Vano. Tidak lupa Vania mencium pipi Arya juga yang terkadang iri minta dicium.
"Hati-hati Pah, Mama lagi PMS kayanya," bisik Vania di telinga Arya.
Arya hanya tersenyum menanggapi ucapan putrinya.
Di sekolah, Evan sedang duduk di bawah pohon seperti biasanya ketika ada seorang siswi yang memanggilnya.
"Evan," panggil seorang siswi mendekat.
"Kenapa?" tanya Evan dingin.
"Apa benar kamu dekat sama Jacelyn anak kelas dua?" tanya siswi yang bernama Maria, terlihat dari nametag yang dia pakai.
"Jacelyn?" Evan tidak pernah mendengar nama itu.
"Iya, dia anak kelas dua. Baru pindah satu bulan lalu," kata Maria menjelaskan.
__ADS_1
"Gue gak tahu siapa dia," ucap Evan dingin.
"Berarti kamu gak deket kan sama dia, kenapa pada bikin gosip gak jelas sih," gerutu Maria sambil pergi meninggalkan Evan.
"Gak jelas banget," gumam Evan lalu beranjak menuju kelasnya.
Evan berjalan dengan santai menuju kelasnya. Tapi belum sampai di kelasnya, dia melihat ada kerumunan di depan kelas dua. Evan melihat anak perempuan yang mengaku ponakannya Angel. Sepertinya anak itu sedang dalam masalah. Evan mencoba melihat keadaan dulu sebelum bertindak
"Gue gak pernah bilang kalau gue deket sama tuh cowok ya. Siapa sih yang bikin gosip gak jelas," anak perempuan itu berkata sambil emosi.
"Kalau bukan lo sendiri yang ngaku-ngaku, siapa lagi. Tadi gue udah nanya langsung sama Evan. Dia gak kenal lo," teriak Maria, anak yang tadi menemui Evan.
Merasa namanya dibawa-bawa, Evan mencoba menerobos ke kerumunan itu. Semua siswi yang melihatnya langsung minggir memberi jalan.
"Evan," teriak siswi yang nge-fans berat dengan Evan.
"Ada apa ini?" tanya Evan dengan nada datar.
"Nih Van, dia Jacelyn yang ngaku dekat sama lo," tunjuk Maria di depan muka Jacelyn.
"Nama lo Jacelyn?" tanya Evan dengan tersenyum miring.
Semua siswi yang melihat senyuman Evan langsung teriak-teriak seperti orang gila. Itu hal yang sangat langka dari seorang Evan saat di sekolah. Tersenyum.
"Bukan urusan lo, urus tuh fans lo yang gak masuk akal. Siapa juga yang mau dekat sama lo." Jacelyn langsung pergi setelah mengomel pada Evan.
"Woi, gila lo ya. Sama kakak kelas kaya gitu," teriak Maria hendak menyusul Jacelyn.
Semua siswi yang tahu kejadian itu langsung bertanya-tanya. Seorang Evan yang biasanya cuek dengan anak perempuan, sekarang mau meladeni adik kelasnya yang tidak menghormatinya. Ada hubungan apa diantara mereka?
"Kak Indi, gimana persiapan pernikahan aku?" tanya Arini di ruang kerja Indi.
"Tenang aja, udah hampir beres. Tinggal kamu dan Dimas fitting baju besok ya," kata Indi tersenyum senang.
"Makasih ya Kak, udah bantu semuanya." Arini memeluk erat Indi.
"Sama-sama Dek, yang penting kamu bahagia."
"Aku bahagia kok Kak, sangat bahagia."
Senyuman bahagia terpancar di wajah Arini. Dengan drama yang panjang selama tujuh tahun ini, akhirnya dia akan menikah. Indi turut bahagia untuk Arini dan Dimas.
"Ada apa nih?" tanya Dimas melongokkan kepalanya di pintu ruangan Indi.
"Gak ada apa-apa, lagi tanya soal persiapan pernikahan kita," jawab Arini dengan tersenyum.
"Yaelah, senyum mulu deh," ledek Indi yang melihat senyuman Arini.
"Bahagia banget kayanya dia?" ledek Dimas juga.
"Bahagia dong, udah mau nikah," kata Arini memeluk lengan Dimas.
__ADS_1
"Udah sana pergi, jangan mesra-mesraan depan gue," usir Indi.
"Biasanya juga gue yang lihat lo mesra-mesraan sama Arya." Dimas tidak terima diusir oleh Indi. Dia semakin mengumbar kemesraannya di depan Indi.
"Sengaja lo ya, gue ke ruangan Arya deh," sungut Indi berjalan cepat ke ruangan Arya.
Dimas dan Arini hanya tertawa melihat kepergian Indi.
"Anak-anak, Mama Papa pulang nih," teriak Indi saat memasuki rumah.
"Mama kebiasaan deh, sukanya teriak," ucap Vania keluar dari kamarnya.
"Biar anak-anak Mama menyambut kehadiran Mama sama Papa, hehehe."
"Mama gak jelas," gumam Vania.
"Mana Kak Evan?" tanya Indi.
"Gak tahu Mah," jawab Vania cuek.
"Di kamar mungkin sayang. Kita bersih-bersih dulu yuk, lalu makan malam," ajak Arya menggandeng tangan Indi ke kamar.
"Mama mana Kak?" tanya Vano yang baru keluar kamar dengan Mba Uli.
"Di kamar, sini sama Kakak dulu. Mba Uli mau nyiapin makan malam." Vania mengajak Vano duduk di depan TV.
Tidak lama Indi dan Arya keluar dari kamarnya, tapi Evan belum juga kelihatan.
"Mana kak Evan?" tanya Mama lagi.
"Biar aku aja yang panggil," usul Arya lalu menuju kamar Evan.
Di dalam kamar, Evan sedang asyik mendengarkan musik sambil chatting lewat media sosial dengan Jacelyn. Tetapi Jacelyn belum tahu kalau itu adalah Evan.
"Ehem," deheman Arya membuat Evan menoleh.
"Pah, udah pulang?" tanya Evan gugup.
"Dicari Mama tuh, jangan sampai dia ke sini sendiri. Nanti roh singanya keluar," kata Papa terkekeh.
Evan tidak menanggapi ucapan Arya. Dia diam karena Indi sudah berada di belakang Arya.
"Siapa yang singa?" tanya Indi dengan penekanan.
Arya langsung menoleh dan tersenyum semanis mungkin. Evan langsung kabur keluar kamar.
"Eh Mama yang cantik, ayo kita makan. Evan udah keluar tuh," tunjuk Arya ke luar kamar.
"Awas ya kamu," ancam Indi.
Arya langsung memeluk dan menciumi Indi. Karena geli, Indi jadi tertawa dan tidak kesal lagi pada Arya.
__ADS_1
"Singanya udah jinak," bisik Evan pada Vania yang menonton di depan pintu kamar Evan.