
Indi dan Arya saling pandang, lalu dengan cepat memanggil dokter kembali untuk memeriksa Evan. Kanaya begitu syok mengetahui Evan tidak mengenali dirinya. Dia berlari keluar ruangan Evan dan mendapati Dion sedang menunggunya di depan.
Dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Evan. Indi dan Arya menunggu dengan cemas.
"Bagaimana Dok?" tanya Arya langsung saat dokter selesai memeriksa Evan.
"Sepertinya anak bapak mengalami amnesia disosiatif, Pak. Kondisi dimana seseorang tidak dapat mengingat informasi pribadi yang penting, umumnya melibatkan pengalaman traumatis atau yang memicu stres," ucap sang Dokter menjelaskan.
"Apa ini karena benturan di kepalanya, Dok?" tanya Arya lagi.
"Iya Pak, salah satu penyebabnya karena itu. Tapi, anak bapak masih bisa mengingat namanya dan semua keluarganya. Jadi mungkin ada hal yang tidak mau dia ingat dari orang yang dia lupakan itu, Pak. Alam bawah sadarnya secara aktif menekan ingatan itu untuk sementara waktu."
"Apa ingatannya yang hilang bisa kembali lagi, Dok?" Indi bertanya karena merasa kasihan saat melihat raut wajah Jacelyn saat Evan tidak mengenalinya.
"Ingatan yang hilang pada amnesia disosiatif dapat dikembalikan, Bu. Meskipun amnesia disosiatif ini bisa berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bahkan beberapa tahun. Jadi kita bisa menunggu atau membawanya ke suatu tempat yang akan mengingatkannya pada ingatan tersebut."
"Terima kasih atas penjelasannya Dok. Kami harap dokter dapat memberikan perawatan yang terbaik untuk anak kami," pinta Arya tulus.
"Saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa, Pak. Kalau begitu saya permisi."
"Terima kasih, Dok."
Seperginya Dokter dari ruangan Evan, Indi langsung mendekati Evan yang sedang melakukan video call dengan Vania dan Vano.
"Kak Evan udah sembuh?" tanya Vania.
"Udah dong, buktinya kakak udah bangun dan telepon kamu." Evan memberikan senyuman terbaiknya.
"Vania mau ke sana ketemu kakak. Boleh gak Pah?" Vania bertanya pada Arya yang ikut nongol di layar ponsel.
"Iya boleh, nanti ke sini sama semuanya ya. Bilang sama Om Dimas," jawab Arya.
"Udah, matiin dulu video callnya. Kak Evan mau istirahat sayang." Indi mengambil alih ponsel Evan yang baru diganti, karena yang lama rusak akibat kecelakaan itu.
__ADS_1
Indi mematikan sambungan video call Evan dan Vania.
"Mah, cewek yang tadi sebenarnya siapa?" tanya Evan penasaran.
"Itu, hhmm adik kelas kamu di sekolah sayang. Apa kamu gak inget sama dia?" Indi mencoba mencari tahu kenapa Evan melupakannya.
"Kenapa Evan lupa sama dia Mah?"
"Itu yang mama mau tahu Van. Kenapa kamu yang jadi tanya sama mama."
Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir memperlihatkan deretan giginya.
"Udah, udah, nanti juga inget sendiri. Jangan dipaksakan ya Van. Pelan-pelan aja," ucap Arya mengingatkan Evan.
"Iya Pah. Evan gak akan maksain kok."
"Tapi gue penasaran siapa sebenarnya cewek itu," batin Evan.
Di depan ruangan Evan, Kanaya sedang menangis dalam pelukan Dion. Dia tadi mendengar semua yang dikatakan oleh dokter. Evan mengalami amnesia. Tapi, hanya ingatan tentang dirinya yang telah terlupakan oleh Evan. Kanaya merasa, semua itu karena dia telah meninggalkan Evan tanpa pemberitahuan. Dan memberikan sakit serta trauma tersendiri.
"Apa kamu yakin Naya? Kita gak akan ke sini lagi dalam waktu dekat." Dion menanyakan untuk terakhir kali pada Kanaya.
"Naya yakin Pah. Yang penting Evan sudah siuman dan Naya tahu keadaan Evan sekarang."
"Kalau begitu, ayo kita pulang. Kamu juga butuh istirahat. Suatu saat pasti Evan akan ingat sama kamu dan mencari kamu."
Kanaya mengangguk sambil tersenyum singkat. Dia hanya berharap Evan selalu baik-baik saja. Dan dia juga akan berusaha menjalani kehidupannya dengan baik.
"Kak Evan," teriak Vania dan Vano berbarengan.
Mereka berdua langsung meneluk Evan.
"Vania kangen sama kakak," ucap Vania.
__ADS_1
"Vano juga."
Evan tersenyum mendengar kata-kata itu dari kedua adiknya.
"Kakak juga kangen kalian."
Semua keluarga berkumpul di ruangan rawat Evan yang terbilang luas karena termasuk ruangan VVIP. Mereka merasa senang dan bersyukur melihat Evan sudah sadar dan berangsur pulih.
"Evan hilang ingatan Dim, dia gak ingat siapa Jacelyn," bisik Arya di telinga Dimas.
"Kok bisa?" Dimas ikutan berbisik.
"Kita bicara di depan saja."
Arya dan Dimas meminta ijin untuk mengobrol di depan ruangan Evan.
"Jadi Evan mengalami amnesia disosiatif. Intinya hanya ingatan yang membuat dia stress atau trauma yang hilang sesaat Dim. Bisa kembali seiring berjalannya waktu." Arya menjelaskan pada Dimas secara singkat.
"Sebentar, berarti tadi Jacelyn datang ke sini? Bagaimana dia tahu Evan di sini?"
"Dia tadi ke sini dengan seseorang yang bernama Dion. Dan katanya dia yang menolong Jacelyn dari tangan Calista. Sepertinya dia yang mencari tahu tentang Evan, jadi Jacelyn tahu Evan di sini. Aku lihat Dion bukan orang sembarangan."
"Bagaimana dengan Jacelyn saat Evan tidak mengingatnya?"
"Sepertinya dia terpukul karena Evan tak mengingatnya. Dia dimana ya, apa sudah pergi?" Arya celingak-celinguk mencari keberadaan Jacelyn.
"Semoga aja dia gak kabur lagi." Dimas berharap.
.
.
NOTE :
__ADS_1
Author bukan seorang dokter ya dears. Maafkan author kalau ada salah tentang penjelasan di atas mengenai amnesia. Author hanya tanya mbah google 🤭🙏