My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 30 : Sakit Hati


__ADS_3

Makan malam dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan saling mengenal satu sama lain.


"Jadi, kamu cuma punya Evan selama ini Ndi?" tanya Mama pada Indi.


"Iya Tante, saya cuma punya Evan," kata Indi tersenyum getir. Arya menggenggam tangan Indi, menguatkan.


"Sekarang kamu punya kami, Nak," kata Papa Arya, membuat Indi meneteskan air matanya lagi.


"Terima kasih Om," kata Indi tersenyum hangat.


"Berarti Evan punya kakek sama nenek ya?" tanya Evan senang.


"Iya sayang, sekarang kamu punya Kakek dan Nenek," kata Mama Arya sumringah.


"Makasih Nenek, Kakek," kata Evan, mendekati Mama dan Papa Arya, memeluk mereka.


Obrolan mereka terhenti saat ada seseorang yang menyapa.


"Ternyata benar, ada jeng Elis di sini," kata orang tersebut, yang ternyata Tante Merry, Mamanya Calista.


"Malam Om, Tante," sapa Calista yang berada di belakang Mamanya.


"Malam Lista, hai Jeng, apa kabar?" tanya Mama Arya cipika cipiki dengan Merry dan Calista.


"Ada acara apa nih Jeng?" tanya tante Merry.


"Makan malam keluarga, Jeng. Mau makan malam juga?" tanya Mama Arya.


"Udah selesai kok, ini mau pulang," jawab Merry.


Pandangan Calista terus menatap ke arah Indi dan Arya yang sedang mengobrol berdua.


"Itu siapa Tante?" tanya Calista dengan suara lirih.


"Tunangannya Arya, cuma belum resmi sih," kata Mama tersenyum.


"Indi, kenalin ini temen Mama, tante Merry dan ini Calista anaknya," kata Mama mengenalkan Indi pada Merry dan Calista.


"Indi Tante, dan ini Evan, anak saya," kata Indi mengenalkan dirinya dan Evan.


"Jadi, Arya punya tunangan janda anak satu?" tanya Merry dengan sedikit mengejek.


"Jeng," kata Mama memperingatkan Merry.


"Eh, sorry, bukan gitu maksud saya. Saya hanya syok saja, secara Arya masih muda. Kenapa cari yang statusnya gitu," kata Merry lagi, menatap tidak suka.


"Saya yang memilih Indi, dan saya tidak butuh komentar dari Anda," kata Arya tegas sambil memegang erat tangan Indi.

__ADS_1


"Arya," panggil Papa sambil menggelengkan kepala.


"Kak Arya dulu kan sukanya sama Lista, kenapa sekarang jadi suka sama ibu-ibu?" tanya Calista mengejek.


Indi yang mendengarkan dari tadi hanya bisa menahan rasa sakitnya, dan mencoba menutup telinga Evan dengan tangannya. Indi tidak mau Evan mendengar Mamanya diolok-olok oleh orang lain.


"Itu sih Lo nya yang ganjen, Lo ngikutin kak Arya mulu," kata Arini menimpali.


"Kamu setuju dengan Arya, Jeng?" tanya Merry pada Mama Arya.


"Saya tidak ada alasan untuk menolak, karena Arya yang akan menjalaninya," kata Mama Arya.


"Ya ampun Jeng, kamu kan ibunya, coba dipikir-pikir lagi Jeng," kata-kata Merry semakin menjadi.


"Maaf Om, Tante, saya dan Evan permisi dulu," pamit Indi dan berjalan terburu-buru sambil menggandeng tangan Evan.


"Indi, tunggu." Arya berlari menyusul Indi.


"Tidak sopan," kata Merry mendengus. "Kami permisi dulu, Jeng," pamit Merry dan diikuti Calista.


Seperginya Merry dan Calista, Mama Arya menghela nafas lelah.


"Kamu tidak usah temenan lagi sama Merry," kata Papa Arya tegas, pada istrinya.


"Maaf Mas," kata Mama Arya lirih.


"Sudah, ayo kita pulang. Besok baru dibicarakan lagi sama Indi dan Arya," kata Papa Arya, beranjak dari duduknya.


Pov Indi.


"Indi, tunggu sayang," panggil Arya, sambil mencekal tangan Indi.


"Aku pulang dulu Ar, please," kata Indi menahan air matanya.


"Tapi, Ndi," kata-kata Arya terhenti saat Indi langsung masuk ke taksi bersama Evan.


Arya menyugar kasar rambutnya. "Aarrgghh."


Indi dan Evan pulang naik taksi. Evan sedari tadi melihat Mamanya menampilkan aura sedih, tapi Evan tidak mau bertanya. Sebisa mungkin Indi menahan tangisannya di depan Evan. Tapi perasaannya saat ini benar-benar kacau. Teringat kata-kata tante Merry yang membuatnya sakit hati.


Sesampainya di rumah, Indi langsung menyuruh Evan masuk kamar dan mencium sekilas kening Evan. Indi sendiri, langsung luruh di lantai saat dirinya sudah di dalam kamar. Indi menangis sambil menggigit bibirnya. Dia tidak mau Evan mendengar tangisannya.


"Ya Tuhan, apa ini cobaan lagi untukku?" tanya Indi dalam hati.


Indi terus menangis sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


Di depan rumah Indi, Arya mengetuk pintu dengan keras.

__ADS_1


"Indi, buka pintunya sayang," teriak Arya sambil terus mengetuk-ketuk pintu.


Pintu pun akhirnya terbuka, dan Evan muncul.


"Om Arya, masuk Om," kata Evan.


"Makasih sayang, Mama mana?" tanya Arya.


"Mama langsung masuk kamar Om, coba aja ke kamarnya," kata Evan menunjuk kamar Indi.


Tanpa pikir panjang, Arya langsung menuju kamar Indi.


Tok..tok..tok.. Arya mengetuk pintu kamar Indi.


"Indi, buka pintunya. Kita bicara, oke," pinta Arya memohon.


Tidak ada sahutan dari Indi. Arya terus mencoba membujuk Indi.


"Sayang, please. Jangan dengerin kata-kata tante Merry, yang terpenting Papa sama Mama, dan Arin," kata Arya mencoba meyakinkan Indi.


"Aku cinta kamu, Ndi. Aku mau kamu jadi pendamping hidupku, aku mau kamu jadi istriku. Aku terima kamu apa adanya, aku terima Evan dan menganggap Evan anakku sendiri." Arya terus berbicara dengan sedikit menahan rasa sesak di dadanya.


Di dalam kamar, Indi mendengar semua perkataan Arya. Indi tahu, apa yang dikatakan Arya semuanya tulus. Tetapi Indi masih belum bisa menemui Arya. Indi masih malu pada dirinya sendiri, malu karena terlalu mengharapkan Arya tanpa perduli dengan pandangan orang lain. Dan sekarang Indi tahu bagaimana orang memandang hubungan mereka. Walaupun sebelumnya Indi sudah pernah melewati hal seperti ini, tetapi kali ini berbeda. Di depan orang tua Arya, tante Merry menjelekkan namanya. Indi begitu sakit hati dan merasa malu sendiri.


"Om, ada apa sama Mama?" tanya Evan pada Arya.


"Mama salah paham sayang, Mama mungkin marah sama Om," kata Arya membawa Evan duduk di ruang keluarga.


"Kenapa Mama marah sama Om?" tanya Evan lagi.


"Karena Om tidak bisa menjaga Mama kamu," kata Arya menghela nafas berat.


"Evan ngantuk Om, mau tidur. Om mau di sini dulu?" tanya Evan lagi, sambil menguap.


"Ya udah, ayo Om temani kamu tidur," kata Arya membawa Evan ke kamarnya.


Arya menemani Evan tidur, dan setelah Evan terlelap, Arya kembali ke depan pintu kamar Indi. Arya duduk bersandar di depan pintu kamar Indi.


"Sayang, please buka pintunya. Dadaku sakit, kalau kamu begini. Aku minta maaf karena tante Merry begitu. Buka pintunya, Ndi," pinta Arya, tanpa terasa air matanya luruh ke pipi.


"Kamu tahu, aku bahagia banget bisa kenal sama kamu, dan dipertemukan sama kamu dan Evan. Selama ini hidupku monoton, tapi setelah ada kamu dan Evan, rasanya lebih berwarna," kata-kata Arya menggema di telinga Indi.


"Kalaupun semua orang menolak hubungan kita, aku akan tetap memilih kamu. Karena aku yang akan menjalaninya." Arya terus mencoba mengungkapkan semua perasaannya. Dia tahu Indi mendengarkan di dalam kamarnya.


"Aku akan pulang, aku mohon, besok kamu sudah mau bicara sama aku," pinta Arya. "I love you, Ndi."


Arya beranjak keluar rumah Indi. Sedangkan di dalam kamar, Indi sedang menahan tangisannya agar tidak terdengar oleh Arya.

__ADS_1


"I love you too, Arya. Maafin aku," kata Indi, lalu pecah tangisan Indi.


__ADS_2