My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 44. Dua Garis Biru


__ADS_3

Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan dan kelakuan Arya yang aneh, Indi akhirnya sampai di rumah.


"Mama, Papa," teriak Evan menyambut.


"Anak Mama udah di rumah, dianter siapa?" tanya Indi mengelus rambut Evan.


Setiap hari, saat Indi dan Arya kerja, Evan akan berangkat sekolah diantar Neneknya. Dan bermain di rumah orang tua Arya sampai Arya menjemputnya.


"Diantar Nenek, Mah," kata Evan menunjuk Mama Arya di dapur.


"Anak pintar, 'gak bandel kan?" tanya Arya menggendong Evan menuju dapur.


"Engga dong Pah, Evan anak penurut," kata Evan bangga.


"Udah pada pulang?" tanya Mama pada Indi dan Arya.


"Udah Mah," jawab Indi lalu mencium pipi Mama, "Makasih ya udah jagain Evan Mah."


"Mama senang sayang, ada temen di rumah," kata Mama tersenyum senang.


"Mah masakin makan malam dong, Arya pengen masakan Mama," kata Arya pada Mamanya.


"Tumben banget," kata Mama bingung.


"Aku ke kamar dulu, tolong ya Mah," kata Arya mencium pipi Mamanya.


Indi hanya menatap suaminya yang berjalan masuk ke kamar. Mama mulai sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Evan sedang bermain game di ipad, di meja makan.


"Mah, Indi keluar bentar ya ke minimarket, mau beli camilan dan snack buat Evan," kata Indi.


"Gak nunggu Arya aja?" tanya Mama.


"Gak usah Mah, bentar aja kok," kata Indi lalu berjalan keluar rumah.


Indi mencoba mencari alasan untuk membeli barang yang dia butuhkan. Indi ingin membuktikan sesuatu.


Tidak lama Indi sudah sampai di rumah lagi. Dia membawa banyak snack untuk Evan dan juga untuk persediaan. Indi meletakkan belanjaannya di lemari persediaan makanan.


"Dari mana sayang?" tanya Arya yang baru keluar dari kamarnya.


"Dari minimarket, beli snack buat Evan dan persediaan," jawab Indi.


"Kenapa 'gak tunggu aku?" tanya Arya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Indi.


"Gak pa-pa sayang, deket juga minimarketnya," kata Indi, lalu hendak beranjak ke kamar.

__ADS_1


"Mama, Evan mau susu," kata Evan.


"Papa yang bikin ya, Mama mau bersih-bersih dulu," kata Arya mendekat ke arah Evan. Evan hanya mengangguk.


Indi langsung masuk ke kamarnya setelah mencium pipi Evan. Dia hendak memastikan sesuatu dengan barang yang telah dia beli tadi.


Indi berkaca-kaca saat melihat hasil yang ditunjukkan oleh alat yang dibeli tadi. Indi mempercepat bersih-bersihnya, dan tidak sabar menunjukkan hasilnya pada Arya dan Evan serta keluarga yang lain. Setelah selesai bersih-bersih, Indi keluar kamar dan menuju ruang makan. Semuanya sudah menunggu di ruang makan, hendak makan malam. Ada Papa dan juga Arini.


"Udah, ayo makan dulu," kata Papa pada kita semua.


Indi masih menyimpan alatnya, dia akan menunjukkannya nanti setelah makan malam. Semuanya makan dengan nyaman, dan sesekali terdengar obrolan dari Arya dan Papa.


Selesai makan malam, Mama, Papa dan Evan duduk di ruang keluarga. Arini mendapat bagian mencuci piring. Di rumah Indi memang tidak ada asisten rumah tangga, karena Indi masih bisa mengerjakan semuanya sendiri.


Setelah semuanya berkumpul, Indi mencoba untuk memberikan pengumuman.


"Ehem, semuanya, aku mau bilang sesuatu," kata Indi gugup.


"Bilang apa sayang?" tanya Arya lembut sambil memegang tangan Indi.


"Mama kenapa?" tanya Evan juga.


"Mama 'gak apa-apa sayang, Mama mau kasih lihat ini," kata Indi sambil memberikan alat itu pada Arya yang berada di sebelahnya.


"Kamu hamil?" tanya Arya meyakinkan apa yang dilihatnya.


"Iya, aku positif hamil," kata Indi memandang satu persatu anggota keluarganya.


"Waahh, selamat Nak," kata Mama langsung memeluk Evan gemas, "Kamu mau punya adik sayang," kata Mama pada Evan.


"Beneran Mah?" tanya Evan berbinar.


"Iya sayang, kamu mau punya adik," kata Indi tersenyum bahagia.


"Yeaayy, Evan mau punya adik," seru Evan sambil loncat-loncat kegirangan.


"Selamat ya buat kalian berdua," kata Papa turut berbahagia.


"Yeaayy, punya ponakan lagi," teriak Arini, tak kalah heboh dengan Evan.


"Iiisshh, berisik lo," seru Arya melempar bantal pada Arini.


"Kak Arya jahat, huuuaaa Mama," rengek Arini pada Mama.


"Tante Arin 'gak malu sama Evan? Udah besar masih ngadu sama Nenek," kata Evan polos.

__ADS_1


Semua yang ada di situ langsung menertawakan Arini. Arini hanya meringkuk malu sambil menutupi wajahnya pakai bantal.


"Kamu harus jaga kandungan kamu Indi, masih awal masa kehamilan, biasanya lebih rentan," kata Mama memberi nasihat.


"Iya Mah, Indi bakal jaga ini," kata Indi sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Mama jadi inget, berarti daritadi kelakuan Arya itu karena ngidam ya," kata Mama teringat Arya, yang meminta dimasakin makan malam oleh Mamanya.


"Sepertinya gitu Mah, di kantor aja dia aneh. Minta dibelikan rujak yang pedas sama Dimas," kata Indi seraya tersenyum geli.


"Arya 'gak tahu tiba-tiba aja pengen banget," kata Arya, menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


"Dulu Papa juga gitu waktu hamil Arini, Papa yang muntah-muntah," kata Papa menceritakan pengalamannya.


"Semoga aja Arya 'gak sampai begitu Pah," kata Arya.


"Ya berdoa saja," kata Mama tersenyum dengan menyiratkan sesuatu.


Baru saja semuanya diam, Arya langsung beranjak dari duduknya dan berlari ke arah kamar mandi. Dia muntah-muntah tapi tidak mengeluarkan apa-apa.


"Baru saja didoakan," kata Mama tertawa. Papa dan Arini juga ikut tertawa.


Arya duduk lagi di ruang keluarga dengan muka pucat.


"Mama buatin teh hangat ya, biar enakan perutnya," kata Mama, beranjak ke dapur.


"Kamu 'gak pa-pa sayang?" tanya Indi sedikit khawatir.


"Gak pa-pa sayang, kalau kamu yang kaya gini aku yang 'gak akan tega," kata Arya sambil menutup matanya.


"Sabar aja, 'gak akan lama kok. Paling tiga bulanan," kata Papa tersenyum geli. Melihat Arya seperti itu, dia teringat dirinya dulu.


"Yang penting Indi dan bayinya baik-baik aja Pah, biar Arya aja yang mengalami ini," kata Arya, lalu menutup mulutnya lagi. Arya merasa akan muntah lagi, dia langsung berlari ke kamar mandi. Setelah selesai Arya kembali duduk di ruang keluarga dengan lemas.


"Nih diminum dulu Ar, nanti enakan," kata Mama memberikan teh hangat lemon untuk Arya.


"Papa sakit?" tanya Evan yang sedari tadi melihat Arya bolak balik kamar mandi.


"Engga sayang, Papa cuma 'gak enak badan aja," kata Arya.


"Evan pijitin ya Pah," kata Evan mendekat ke arah Arya, lalu memijit kakinya.


"Makasih sayang," kata Arya, lalu memejamkan matanya.


Indi merasa bersyukur diberikan kesempatan lagi untuk hamil. Dia bisa membahagiakan Arya dan juga Evan, serta seluruh keluarga Arya. Walaupun mereka tidak pernah menuntut keturunan langsung dari Arya, tapi Indi merasa sangat senang bisa memberikan cucu lagi untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2