
Satu minggu sudah keluarga Wijaya berlibur di pulau dewata. Semuanya kembali beraktifitas seperti biasanya. Arya dan Indi mempunyai banyak pekerjaan yang harus dikerjakan karena tertunda sewaktu liburan. Begitu juga dengan Arini dan Dimas.
"Hari ini kita akan rapat dengan client baru pukul satu siang Pak," kata Dimas memberitahu jadwal Arya.
"Ini berkas yang harus ditandatangani Bapak," ucap Indi meletakkan tumpukan berkas di meja Arya.
"Lain kali gak usah pergi liburan bareng deh," gerutu Arya.
"Gak pa-pa sayang, kan asik liburan sama-sama," ucap Indi mengusap pelan bahu Arya sambil tersenyum.
"Kita bantu kok," ucap Dimas juga.
"Hahh, ayo semangat." Arya menyemangati diri sendiri dan Indi serta Dimas.
Mereka bertiga tertawa lalu kembali ke pekerjaan masing-masing.
"Evan," panggil Jacelyn saat Evan sedang duduk di bawah pohon.
"Hai, ngapain?" tanya Evan menyapa.
"Nyariin lo," jawab Jacelyn lalu duduk di sebelah Evan.
"Lo gak ada kegiatan?" tanya Evan penasaran.
Jam istirahat sebentar lagi selesai, dan Jacelyn malah memilih duduk dengan Evan. Padahal Evan juga sebentar lagi akan beranjak ke kelas.
"Habis ini mata pelajaran yang gak gue suka. Males banget rasanya," jawab Jacelyn.
"Tinggal tidur aja di kelas, beres," usul Evan.
"Gurunya killer kali," gerutu Jacelyn.
"Ya udah sabar aja. Gue gak bisa kabur karena gue udah kelas tiga," kata Evan tersenyum.
"Gak asik lo," ucap Jacelyn sedikit kesal tapi tersenyum juga.
"Makasih ya, udah mau jadi teman gue," uca Jacelyn lagi.
"Hati-hati aja dan sabar ngadepin fans gue, hahaha." Evan tertawa lebar setelah memperingatkan Jacelyn.
"Astaga, gue lupa soal itu." Jacelyn menepuk jidatnya sendiri.
"Gue ke kelas dulu ya, kalau mau kabur ke klinik aja jangan di sini," perintah Evan.
"Di klinik pasti ditanya sama Ibu Jihan."
"Gue antar ayo," ajak Evan hendak memapah Jacelyn.
"Gue bisa jalan sendiri, gak sakit juga." Jacelyn langsung berdiri dan berjalan menuju klinik diikuti Evan.
Sepanjang perjalanan, banyak anak yang menatap tak suka dengan pemandangan tersebut. Seorang Evan, berjalan di belakang perempuan yang notabene selalu bertengkar kalau mereka bertemu.
"Evan," panggil Maria mendekat.
"Kenapa?" tanya Evan dingin.
Jacelyn terus berjalan tanpa menunggu Evan. Dia tidak mau jadi bulan-bulanan fans garis keras Evan.
__ADS_1
"Lo ngapain jalan ngikutin Jacelyn?" tanya Maria memandang Evan tak percaya.
"Bukan urusan lo," kata Evan lalu pergi meninggalkan Maria.
"Tunggu Van." Maria mengikuti Evan ke klinik sekolah.
Sampai di klinik, Evan tidak mendapati Jacelyn di sana. Dia bertanya dengan Ibu Jihan, penjaga klinik, tidak ada yang masuk ke sana daritadi.
"Kemana lo Jace?" tanya Evan dalam hati.
Maria memperhatikan gelagat Evan yang seperti kehilangan seseorang.
"Nyari Jacelyn?" tanya Maria.
Tanpa menjawab Evan pergi meninggalkan Maria. Ditinggal begitu saja oleh Evan, membuat Maria kesal dan akan menumpahkan kekesalannya pada Jacelyn.
"Sialan tuh cewek," umpat Maria.
"Selamat malam semuanya?" sapa Arini sesampainya di rumah Indi saat makan malam.
"Ngapain tante?" tanya Evan.
"Ke rumah kakak sendiri emang gak boleh?" gerutu Arini.
"Mana Dimas?" tanya Arya.
"Gak tahu, gak usah nanyain dia," jawab Arini sedikit ketus.
"Oohh berantem," gumam Evan.
"Ayo duduk, makan malam dulu," ajak Indi pada Arini dan Dimas.
Arini langsung duduk tanpa melihat Dimas. Dimas mengikuti Arini dan duduk di sebelahnya. Dia tersenyum melihat Arini yang cemberut.
"Kenapa Om?" bisik Evan tapi masih terdengar oleh semuanya.
"Ngambek," jawab Dimas berbisik juga.
"Makan aja, jangan berisik," ucap Arini melotot ke arah Evan dan Dimas.
Arya dan Indi hanya menggeleng melihat sikap Arini yang masih kekanakan. Evan dan Dimas hanya tersenyum.
"Tante Arin PMS ya," ucap Vania membuat Evan dan Dimas yang sedari tadi senyum-senyum menjadi tertawa keras.
Arini langsung diam dan menangis sesenggukan. Melihat istrinya menangis, Dimas langsung berhenti tertawa dan membawa kepala Arini bersandar pada dadanya.
"Sorry, maafin aku ya," kata Dimas mengusap pelan rambut Arini.
Bukannya berhenti menangis, Arini semakin kencang tangisannya.
"Lah malah tambah kenceng," ucap Evan menahan senyumannya.
"Udah Rin, makan dulu. Nanti baru bicara dengan kepala dingin," kata Indi mengusap punggung Arini.
Setelah lebih tenang, Arini beranjak dari meja makan menuju ruang keluarga. Dia tidak melanjutkan untuk makan. Dimas mengikuti Arini.
"Kira-kira, mereka kenapa ya?" tanya Arya.
__ADS_1
"Gak usah kepo, masalah mereka sendiri biar mereka yang selesaikan," ucap Indi mulai menyuap makanannya.
"Seengganya kita tahu masalahnya karena mereka juga lari ke sini kan," kata Arya.
"Kalau mereka mau cerita ya tinggal didengerin, kalau gak mau cerita ya udah." Indi mencoba menyetop rasa penasaran Arya.
"Harus cerita dong, kan udah bikin kita penasaran," kata Arya.
"Papa kaya cewek aja suka gosip," sindir Evan.
"Memang Papa tukang gosip," tambah Indi.
Vania tertawa mendengarnya. Indi dan Evan saling pandang lalu tertawa.
"Kenapa semuanya nyerang Papa?"
Tidak ada jawaban, hanya suara tawa yang terdengar.
Paginya di sekolah, Evan mencari keberadaan Jacelyn. Namun sampai bel masuk berbunyi, Evan belum menemukan dimana Jacelyn berada.
"Dimana sih lo?" gumam Evan.
"Hai Evan" sapa Maria.
Tidak memperdulikan Maria yang menyapanya, Evan langsung berjalan pergi menuju kelasnya.
"Sial, gue dicuekin terus," gumam Maria mengeratkan tangannya.
Evan berniat mencari Jacelyn lagi saat istirahat nanti. Pertemuan terakhir mereka sewaktu hendak ke klinik sekolah. Tetapi Jacelyn juga menghilang. Sering terlintas di pikiran Evan, kemana sebenarnya Jacelyn kalau tidak berada di sekolah. Tetapi, Evan tidak mau berpikiran buruk. Dia harus bertanya langsung dengan Jacelyn.
Saat istirahat, Evan hendak menuju ke kelas Jacelyn di kelas dua. Tapi di perjalanan dia melihat Jacelyn berjalan ke arah belakang sekolah. Evan mengikuti Jacelyn sambil mencoba memanggilnya. Tapi Jacelyn tidak mendengar panggilan Evan.
"Mau kemana dia?" tanya Evan pada diri sendiri.
Jacelyn berhenti tepat di bawah pohon besar di belakang sekolah. Dia duduk sambil memejamkan matanya dan bersenandung lirih. Suaranya terdengar menenangkan di telinga. Evan tersenyum menyukai suara Jacelyn.
"Jace," panggil Evan sambil mencolek pelan bahu Jacelyn.
Jacelyn membuka matanya kaget melihat Evan ada di sampingnya.
"Kak, ngapain?" tanya Jacelyn.
Evan kaget mendengar Jacelyn memanggilnya dengan sebutan "kak".
"Lo ngapain di sini?" tanya Evan.
"Istirahat kak," jawab Jacelyn tersenyum.
"Jadi selama ini kalau lo gak kelihatan, lo di sini?"
"Kak Evan nyariin aku?" Jacelyn bertanya dengan ekspresi senang.
"Gue gak nyariin, biasanya lo yang nyari gue kan." Evan mencoba memasang tampang cuek. Dan itu berhasil memancing senyuman Jacelyn.
"Jangan senyum lo," ucap Evan.
Jacelyn semakin tersenyum lebar dan tertawa. Di dalam hati Jacelyn merasakan sesak, entah kenapa.
__ADS_1