My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 75 : Rencana Busuk Calista


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke rumah, mobil Arini dibuntuti oleh orang suruhan Calista. Arini menyadari kalau mobilnya sedang dibuntuti, tapi tidak tahu siapa yang membuntutinya. Dia langsung menelepon Dimas dan meminta pertolongan.


"Sial," gumam Dimas langsung pergi meninggalkan ruangannya.


Sepanjang jalan dia menelepon Arya untuk mengabari kalau Arini diikuti orang. Arya langsung menghubungi orang suruhannya untuk mengikuti Dimas. David yang selalu membuntuti kemanapun Calista pergi, juga ditelepon untuk bisa menyelamatkan Arini dengan cepat. Karena dia jarak posisinya lebih dekat dengan Arini.


"Bagaimana ini Non, Nyonya?" tanya supir Arini.


"Jalan terus aja Pak, sebentar lagi Dimas datang," kata Arini was-was.


"Lebih baik kita masuk ke parkiran aja Rin. Cari yang banyak orang, pasti mereka gak akan berani," kata Mama memegang erat tangan Arini.


"Cari tempat ramai Pak," perintah Arini pada sang supir.


Sementara itu, Dimas dengan kecepatan di atas rata-rata menyusul ke tempat Arini berada. David hampir menyusul mobil Arini. Dia berencana menghadang mobil yang mengikuti Arini. Dengan begitu, mobil Arini akan lolos dan selamat.


Di kantor, Arya mondar mandir di dalam ruangannya. Indi juga sudah mengetahui tentang Arini. Dia mencoba berdoa untuk keselamatan Arini dan ibu mertuanya.


"Gimana sayang, udah ada kabar?" tanya Indi cemas.


"Belum, Dimas dan David belum ngabarin," jawab Arya mencoba menghubungi Dimas dan David lagi.


"Semoga Mama dan Arini baik-baik aja, siapa yang tega lakuin itu sih?" tanya Indi geram.


Arya tidak menjawab pertanyaan Indi. Dia menebak Calista ada dibalik semua ini. Tapi kenapa sampai Arini dan Mamanya juga kena. Dia harus bertindak lebih cepat sebelum semua keluarganya dalam bahaya.


Ponsel Arya berdering, David yang menelepon.


Call on.


"Bagaimana David?" tanya Arya setenang mungkin.


"Ibu Arini dan Nyonya Elis sudah lolos Pak, orang yang mengikuti mobil mereka sudah saya hadang. Tetapi melarikan diri Pak, mohon maaf," kata David melapor.


"Tidak apa-apa, itu bisa diurus nanti. Terima kasih David. Kamu harus kembali mengikuti Calista," perintah Arya.


"Baik Pak," ucap David lalu mematikan telepon.


Call off.


"Gimana?" tanya Indi lagi.


"Udah gak pa-pa, Mama sama Arini udah lolos dari mobil yang mbuntutin mereka," kata Arya.


"Syukurlah, aku mau ke rumah Mama deh. Ayo sayang," ajak Indi lalu pergi merapikan tasnya.


Arini dan Mama sudah sampai di rumah ketika Dimas menyusul mereka. Dimas langsung menghambur memeluk Arini. Dia begitu cemas istrinya kenapa-napa, apalagi Arini sedang hamil muda.

__ADS_1


"Kamu dan Mama gak pa-pa beb?" tanya Dimas pada Arini.


"Gak pa-pa, tadi ada yang nyegat mobil yang mbuntutin kita," kata Arini menjelaskan.


"Iya, itu anak buahnya kak Arya. Mereka pasti cemas juga di kantor," kata Dimas lalu mengambil ponselnya hendak mengabari Arya.


Belum sempat tersambung, Arya dan Indi sudah sampai di rumah orang tua Arya.


"Mah, gak pa-pa kan?" tanya Indi mendekati mertuanya.


"Gak pa-pa Ndi, cuma sedikit kaget aja," kata Mama menghela nafas.


"Kamu gak pa-pa dek?" tanya Indi pada Arini.


"Gak pa-pa kak, aku percaya kalian akan datang nyelamatin aku," kata Arini tersenyum.


"Lain kali sama Dimas aja dek kalau mau pergi," kata Arya.


"Dimas kan sibuk kak," ucap Arini.


"Kali ini aku khususin buat kamu," ujar Arya melihat ke arah Dimas.


"Tumben baik hati Boss," sindir Dimas.


"Gak mau nih?" ledek Arya.


"Sial, kenapa lolos sih. Kalian gak becus. Pergi sana," teriak Calista pada anak buahnya yang gagal mengikuti Arini.


"Gue harus cari cara lain buat bikin Indi dan Arya hancur," ucap Calista lalu menyeringai jahat.


Di sekolah, Evan terus berusaha mendekati Jacelyn. Tetapi tidak dengan Jacelyn, dia justru berusaha menjauhi Evan. Dia tidak mau bermasalah dengan Calista, tapi juga tidak ingin menyeret Evan ke dalam masalah.


"Jace tunggu dong," kata Evan mengejar Jacelyn ke belakang sekolah.


"Jangan ikutin gue, please," pinta Jacelyn memelas.


"Gue udah tahu semuanya, jadi lo gak perlu menjauh lagi," kata Evan memegang tangan Jacelyn.


Mendengar ucapan Evan, Jacelyn langsung meneteskan air matanya.


"Lo udah tahu tapi lo masih mau berteman sama gue?" tanya Jacelyn disela tangisannya.


"Iya, karena cuma lo yang masuk di hati gue," kata Evan membuat Jacelyn merona.


"Gue gak mau lo dalam masalah kak, kalau deket sama gue," ucap Jacelyn.


"Gak akan Jace, gue bisa jaga diri." Evan meyakinkan Jacelyn.

__ADS_1


Jacelyn tidak tahu kalau Calista sudah merencanakan sesuatu untuk Evan. Dia tidak dilibatkan dalam hal itu.


Saat pulang sekolah, Evan menunggu Jacelyn keluar dari kelasnya di parkiran. Sedang asyik menjelajah media sosial di ponselnya, tiba-tiba ada yang menggebuk belakang lehernya dan Evan terjatuh pingsan.


Jacelyn melihat perbuatan orang itu dan langsung berteriak sambil berlari mengejar. Tapi dia tidak bisa sampai tepat waktu. Evan telah dibawa oleh orang itu. Jacelyn langsung menuju ke rumah Calista untuk memastikan kalau dialah pelakunya.


"Boss, dimana lo?" teriak Jacelyn sesampainya di rumah Calista.


"Kenapa lo teriak-teriak?" tanya Calista keluar dari kamarnya.


"Dimana Evan?" tanya Jacelyn to the point.


"Ya mana gue tahu, emang gue emaknya," jawab Calista sambil tertawa mengejek.


"Gue lihat Evan dibawa sama anak buah lo, gak usah pura-pura deh." Jacelyn mulai kesal.


"Bukan urusan lo, pergi sana," usir Calista sambil berlalu.


"Lepasin Evan Boss, please," mohon Jacelyn.


"Mending lo pulang dan diem aja kalau gak mau bantuin gue."


Calista menyuruh anak buahnya untuk menyeret keluar Jacelyn. Jacelyn mencoba memberontak dengan terus berteriak agar Calista melepaskan Evan.


Tidak jauh dari rumah Calista, David melihat Jacelyn datang dan diusir oleh anak buah Calista. Dia curiga ada sesuatu yang terjadi. Dia mencoba melepaskan drone untuk melihat ke dalam rumah Calista.


Setelah lama mengintip dengan drone, akhirnya David mengetahui bahwa Evan diculik dari percakapan Calista dengan seseorang di telepon. Dengan cepat dia melapor pada Dimas dan Arya. David masih mencari tahu dimana Evan berada.


Di sebuah gudang yang tak terpakai, Evan dibawa oleh dua orang pria. Dia masih belum sadarkan diri akibat dipukul tadi.


"Sudah lapor dengan Boss?" tanya pria ke-1.


"Sudah, besok akan ke sini," jawab pria ke-2.


Perlahan Evan membuka matanya dan menyadari dirinya diikat di sebuah kursi kayu. Dia mencoba melepaskan ikatan itu namun tidak berhasil.


"Lepasin gue," teriak Evan sambil terus mencoba membuka ikatannya.


"Diem lo, jangan berisik," ucap pria ke-2.


"Apa yang kalian mau?" tanya Evan mencoba tenang, "Gue akan berikan semuanya."


"Kalau nyawa lo, apa bakalan lo kasih?" tanya pria ke-1 dengan wajah datarnya.


Evan langsung terdiam sambil memikirkan cara untuk kabur dari sana.


"Papa sama Mama pasti udah tahu gue diculik. Mereka pasti khawatir banget," batin Evan cemas.

__ADS_1


__ADS_2