
Pekerjaan kantor Arya begitu banyak, sampai Dimas kewalahan mengkoordinir jadwal Arya. Sekretaris yang dicari Arya juga belum dapat. Teman Arini yang katanya cocok, juga sudah mempunyai pekerjaan lain. Arya benar-benar stress dengan semua itu.
"Dimas, tolong gue dong," kata Arya menyugar rambutnya kasar.
"Gue juga stress, 'gak cuma lo doang Ar," kata Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Besok cari lagi deh sekretarisnya, kalau kaya gini terus gue bisa botak," kata Arya melebih-lebihkan.
"Lebay lo," kata Arya, lalu meninggalkan ruangan Arya.
Siang ini Indi berencana mengantar makan siang untuk Arya. Anak-anak dia titipkan pada orang tua Arya. Secara tidak sengaja, Indi mendengar pembicaraan Arya dan Dimas.
"Hai," sapa Indi pada Dimas saat keluar ruangan Arya.
"Ngapain Ndi?" tanya Dimas.
"Antar makan siang buat Pak Boss," kata Indi tersenyum ramah.
"Iya tuh, sekalian dipijitin, stress dia," kata Dimas asal.
"Stress kenapa?" tanya Indi pura-pura tidak tahu.
"Belum dapat sekretaris lagi," jawab Dimas, lalu duduk di kursinya.
"Oohh, ya udah gue masuk dulu ya," pamit Indi, lalu langsung masuk ke ruangan Arya.
Saat Indi masuk, Arya tidak terlihat di kursinya. Indi mencari ke kamar pribadi Arya. Arya sedang tiduran sambil menutup matanya dengan punggung tangan.
"Apakah begitu lelahnya sampai tidur di sini?" tanya Indi dalam hati.
Indi mendekati Arya, dan mengusap pelan rambut Arya.
"Sayang," suara Indi pelan takut mengganggu, tapi Arya juga harus makan siang.
"Eenngg," suara Arya mengulet, sepertinya dia tidur begitu lelap.
"Sayang bangun, makan siang dulu," kata Indi sambil mengguncang pelan lengan Arya.
"Eh, sayang," kata Arya akhirnya, membuka matanya.
"Capek banget ya?" tanya Indi mengusap pipi Arya.
"Iya sedikit sayang. Kerjaan banyak tapi cuma aku dan Dimas. Aku butuh sekretaris," kata Arya menghela nafas lelah.
"Kalau susah cari sekretaris cowo, sekretaris cewe aja 'gak apa sayang," kata Indi mencoba membantu dengan usulannya.
"Engga sayang, kamu kan 'gak mau aku pakai sekretaris cewe," kata Arya mengusap pipi Indi.
__ADS_1
"Tapi jadi 'gak dapat-dapat kan. Kamu sama Dimas jadi kewalahan," kata Indi lagi.
"Gak apa sayang, nanti kita cari lagi," kata Arya menenangkan Indi.
"Semoga cepat dapat ya, sayang. Sekarang, ayo kita makan siang dulu," ajak Indi pada Arya.
Setelah selesai makan siang, Indi pamit pulang. Karena anak-anaknya tidak ikut, dan takut Vania mencarinya. Selama perjalanan, Indi memikirkan Arya dan perusahaan. Indi akan mencoba untuk membantu Arya. Dia akan membicarakannya dengan orang tua Arya dulu.
"Mah, Indi mau kerja lagi di perusahaan boleh?" tanya Indi pada Mama, saat sampai di rumah orang tua Arya.
"Apa sudah dibicarakan sama Arya?" tanya Mama.
"Belum Mah, Indi pengen bantuin Mas Arya di kantor. Sepertinya mas Arya dan Dimas kewalahan tanpa adanya sekretaris Mah," jawab Indi menerawang memikirkan suaminya.
"Mama sih setuju aja, biar anak-anak sama Mama dan Papa kalau kamu sama Arya kerja. Tapi coba kamu bilang dulu sama Arya dan anak-anak Ndi," kata Mama menasihati.
"Iya Mah, nanti Indi tanya pendapat anak-anak dulu," kata Indi akhirnya.
"Mau tanya apa sama anak-anak?" tanya Papa yang baru saja datang dari kamarnya.
"Itu Pah, Indi mau kerja lagi di perusahaan. Mama saranin tanya pendapat anak-anak dulu, sama minta ijin ke Arya, Pah," kata Mama mengadu.
"Memangnya sama Arya dibolehin Ndi? Kamu tahu sendiri Arya tidak mau kamu bekerja dan meninggalkan anak-anak," kata Papa mengingatkan Indi.
"Iya Pah, Indi tahu. Makanya nanti Indi tanya pendapat anak-anak dulu. Masalahnya Mas Arya belum dapat sekretaris lagi, dan itu membuatnya kewalahan Pah. Kasihan Mas Arya," kata Indi.
"Iya Pah, Mah, makasih," ucap Indi, lalu menerawang lagi memikirkan suaminya yang kelelahan bekerja.
"Semoga nanti kalau aku jadi sekretaris lagi, aku akan sedikit ngurangin kerjaan kamu sayang," kata Indi dalam hati.
Setelah meminta pendapat Evan dan Vania, Indi mendapatkan ijin untuk bekerja lagi membantu Arya. Indi tidak memberitahu Arya karena dia ingin membuat surprise nantinya.
Paginya, Evan sudah berangkat ke sekolah dan Arya berangkat ke kantor. Indi mengantar Vania ke rumah orang tua Arya, dan berangkat ke kantor diantar oleh supir Papa.
Di kantor.
Indi menemui Andin, bagian HRD untuk menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan. Dia juga harus mendapatkan ijin dulu dari Arya. Setelah dari HRD, Indi menuju ruangan Arya.
"Pagi Dimas," sapa Indi, saat melihat Dimas berada di ruangannya.
"Pagi Ndi, tumben pagi banget," kata Dimas bingung.
"Iya Dim, ada perlu sama Arya," kata Indi, lalu masuk ke ruangan Arya.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Indi masuk ke ruangan Arya.
"Selamat pagi Pak," sapa Indi pada Arya yang sedang fokus pada berkas-berkas.
__ADS_1
"Pagi, ada yang bisa ...," belum sampai selesai bicara, Arya kaget melihat Indi di depannya.
"Kamu ngapain di sini sayang?" tanya Arya, bangun dari kursinya.
"Aku mau bantuin kamu, aku mau jadi sekretaris kamu lagi sayang," kata Indi tersenyum.
"Loh, terus nanti Vania sama siapa di rumah?" tanya Arya lagi, berjalan mendekati Indi.
"Sama Mama, Papa. Mereka juga dukung aku sayang, ini demi kamu juga," kata Indi, mencoba meyakinkan Arya.
"Tapi sayang, aku 'gak mau kamu capek. Nanti anak-anak gimana?" kata Arya memegang tangan Indi.
"Aku janji 'gak akan capek-capek, aku cuma ingin sedikit meringankan pekerjaan kamu sayang," kata Indi.
"Haaahh, baiklah. Aku juga lagi butuh sekretaris, dan kamu juga memenuhi kriterianya," kata Arya akhirnya.
"Makasih sayang," ucap Indi lalu mencium bibir Arya sekilas.
"Kamu tidak sopan, ini di kantor," kata Arya pura-pura tegas, padahal dia menyukainya.
"Kantor suami sendiri juga," kata Indi tersenyum senang.
"Ya udah ayo bilang sama Dimas, biar dia yang bagi kerjaannya sama kamu," ajak Arya.
Indi dan Arya keluar ruangan sambil bergandengan tangan. Dimas melihat dengan penuh kecemburuan.
"Tolong jangan siksa saya yang jomblo ini," kata Dimas memelas.
"Siapa yang nyuruh lo jomblo," kata Arya tidak perduli.
"Kamu jahat," kata Dimas melebih-lebihkan, membuat Indi tertawa.
"Mulai hari ini, Indi akan bekerja menjadi sekretaris lagi. Kamu bisa membagi kerjaannya sama Indi," kata Arya tegas.
"Woaahh syukurlah, lo menyelamatkan kehidupanku Ndi," kata Dimas lebay.
"Dia jangan kebanyakan kerjaan, atau lo yang bakal gue potong gaji," kata Arya mode jahat.
"Huuaaa Arya jahat banget sama gue," rengek Dimas.
"Yang sabar ya Dimas," ledek Indi.
"Huuaaa, 'gak suami 'gak istri, sama-sama suka ngeledek," kata Dimas, lalu pergi ke luar ruangannya.
"Mau kemana lo?" tanya Arya berteriak.
"Ngadu sama Arini," teriak Dimas, lalu masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Indi hanya tersenyum.