
Evan telah selesai diperiksa oleh dokter dan sedang tidur karena diberi obat penenang. Kata dokter, itu adalah efek dari kerja otaknya saat mengingat hal-hal yang telah dia lupakan. Saran dokter sebaiknya jangan terlalu keras mencobanya, karena bisa berakibat fatal.
"Maafin Arini Kak Indi, maaf." Arini terus saja meminta maaf sambil menangis.
"Gak papa Dek, kamu jangan nangis terus dong. Kasihan adek bayinya nanti. Evan anak yang kuat, dia pasti akan sembuh." Indi memeluk Arini yang masih menyalahkan dirinya.
"Tadi Evan minta diceritain tentang Kanaya dan aku ceritain semuanya, tapi malah jadi begitu," ucap Arini menerangkan.
"Mungkin udah waktunya dia mengingat semuanya. Semoga aja dia gak akan merasa sakit lagi karena Kanaya juga sudah ada di sini." Indi mencoba menenangkan Arini yang masih saja menangis.
"Dim, lo bawa pulang Arini dulu sana. Di sini ada gue sama Indi yang jagain Evan. Sekalian Vania diajak pulang juga," pinta Arya pada Dimas.
"Oke Kak, aku pulang dulu ya sama Arini dan Vania. Kalau ada apa-apa, langsung kabari ya Kak." Dimas memapah tubuh Arini dan meninggalkan rumah sakit bersama Vania juga.
Indi duduk di sebelah ranjang Evan dan memegang tangannya erat. Dalam hati dia berdoa untuk kesehatan Evan. Sudah kesekian kalinya Evan terkapar di rumah sakit dan itu membuat Indi ikut merasa tidak sehat.
"Kamu istirahat aja sayang, biar Evan aku yang jagain," kata Arya membelai lembut pundak Indi.
"Aku gak pa-pa sayang, sebentar lagi aku istirahat. Aku nemenin Evan dulu." Indi tersenyum sendu.
"Kamu tahu, dulu aku melihat kamu adalah wanita yang kuat. Wanita yang hebat karena bisa menghidupi Evan sendirian dan mendidik Evan menjadi pribadi yang pintar dan sopan."
"Aku tahu itu." Indi tersenyum menyombongkan diri.
"Karena Evanlah aku jadi jatuh cinta sama kamu. Kamu adalah pilihan terbaik untuk menjadi ibu dari anak-anakku."
Indi tersenyum mendengar kata-kata dari Arya. Indi sendiri juga merasa beruntung karena telah bertemu dengan Arya.
"Makasih ya sayang, udah hadir di kehidupan aku dan Evan," ucap Indi berterima kasih.
"Aku yang berterima kasih karena mau menjadi ibu dari anak-anakku." Arya mencium puncak kepala Indi.
Indi akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa panjang di ruangan Evan. Arya menemaninya sebentar sampai Indi terlelap dalam tidurnya.
"I love you, Indi." Arya mencium kening Indi.
Paginya, Evan telah siuman dan bangun dalam keadaan yang berbeda. Bukan Evan yang ramah kepada siapa saja seperti sebelumnya, tapi Evan yang akan menjadi dingin dengan orang yang belum dikenalnya.
"Kenapa kamu jadi kumat lagi sih?" tanya Indi bingung.
"Kumat gimana sih Mah, Evan memang seperti ini kan?" Evan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Apa ingatan kamu sudah kembali, Nak?" tanya Indi lagi.
"Udah Mah, semuanya, dan gak ada yang penting sebenarnya," ucap Evan santai.
"Terus kenapa sampai kepala kamu sakit gitu? Kamu terlalu keras mengingat semuanya Van." Arya mencoba mencari jawaban.
"Evan udah gak pa-pa Pah. Sekarang Evan benar-benar sembuh. Besok juga Evan udah bisa jalan tanpa kursi roda kan."
Dokter telah menyatakan bahwa Evan diperbolehkan melepaskan kursi rodanya. Besok adalah hari dimana Evan bisa berjalan-jalan lagi dengan leluasa.
"Tapi tetap harus dijaga sayangku." Indi mencubit gemas pipi Evan.
"Iya Mah, Evan pasti jaga diri lagi kok," kata Evan tersenyum lebar.
Indi sangat senang dan bersyukur akhirnya Evan telah pulih seutuhnya. Walaupun harus dijaga lebih hati-hati lagi, dan bekas luka yang masih belum menghilang, Indi tetap merasa bersyukur.
"Hai tante, hai Evan," sapa Kanaya yang baru saja masuk ke dalam ruangan Evan.
"Hai Naya, sini temenin Evan dulu. Tante mau beli sarapan dulu ya." Indi hendak pergi ke luar, tapi rasanya atmosfir di dalam ruangan itu seperti tidak bersahabat.
"Iya Tante, Naya jagain kak Evan." Kanaya tersenyum simpul.
Seperginya Indi, Evan dan Kanaya tidak berbicara satu katapun. Mereka berdua hanya diam dan dalam pikirannya masing-masing.
Kanaya sudah tahu betapa besar dia menyakiti hati Evan.
"Aku gak akan ninggalin kamu lagi, Kak."
"Kenapa dulu lo pergi dengan begitu gampangnya, dan sekarang lo datang lagi?"
Evan tidak tahu bagaimana perjuangan Kanaya untuk bisa sampai di hadapannya lagi. Kanaya pernah bercerita tentang hidupnya bersama Dion, tetapi tidak menceritakan detailnya.
"Aku kembali karena aku sadar, aku tidak bisa meninggalkan kamu. Kemanapun aku pergi, aku tetap memikirkan kamu dan teringat sama kamu."
"Apa kata-kata itu bisa gue pegang sekarang? Setelah apa yang lo lakuin dulu?"
"Kak Evan punya hak untuk tidak percaya sama aku. Yang jelas aku sudah bicara apa yang ingin aku katakan."
Kanaya pergi meninggalkan ruangan Evan dengan hati yang berkecamuk. Evan sendiri merasa bersalah telah mendorong Kanaya terlalu keras.
"Sial, gue gak mau kehilangan dia lagi." Evan menyugar rambutnya kasar.
__ADS_1
.
.
NOTE :
Walaupun telat up, tapi tetap author sempatin up ya dears. dukung author terus ya dears.
sambil nunggu up berikutnya, intip dulu karya teman author nih dears.
Judul : Beauty Clouds
Author : Ocybasoacy
Sinopsis :
"Apa rencana kamu Ody? Kenapa kamu bilang akan melapor polisi? Apa nggak ada cara agar masalah ini tidak melebar kemana-mana?" tanya Rio.
"Sebenarnya ada cara lain selain melaporkan ke polisi, yaitu dengan dokter Rio mau bertanggung jawab. Namun, nampaknya dokter Rio tidak mau menggunakan cara itu." jawab Ody dengan tersenyum sinis. "Maka pilihan lain, saya akan melapor polisi. Semua bukti sudah saya pegang."
"Bukti? Punya bukti apa kamu?"
"Semua bukti ada disini," Ody menunjukan rekaman malam kejadian itu, yang dia dapat dari CCTV, serta menyodorkan map coklat hasil visum.
Rio mengambil alih ponsel dan melihat vidio pelecehan yang ia lakukan pada Ody. Setelah melihat vidio itu, Rio membuka map, dan melihat hasil visum yang Ody telah lakukan, disana terdapat banyak luka yang Rio buat, dan juga keterangan adanya kekerasan seksual yang Rio lakukan pada Ody.
"Bukti-bukti itu sudah cukup menguatkan buat membuat laporan ke polisi," jelas Ody.
"Lalu mau kamu apa?" tanya Rio sambil melihat kearah Ody dengan tatapan membunuh.
"Tanggung jawab."
"Kenapa ngotot sekali pengin aku tanggung jawab, apa ada rencana lain yang kamu rancang untuk menjebak aku?" tanya Rio kembali.
"Rencana apa maksud Anda? Apa meminta pertanggung jawaban dari laki-laki yang sudah mengambil kegadisanku harus memerlukan rencana lain?"
"Mungkin saja, bisa jadi kamu ingin menguasai semua aset yang aku miliki, dengan menikahi aku kamu bisa dengan mudah merubah setatusmu. Banyak bukan diluaran sana yang menginginkan pernikahan dengan laki-laki kaya agar bisa dengan instan menjadi kaya." jawab Rio jutex.
"Sedikit pun saya nggak pernah berpikir seperti itu, tapi kenapa Anda selalu membahas harta. Kalo Anda takut saya akan meminta harta Anda. Maka nikahi saya cukup sebagai tanggung jawab! Masalah kehidupan biar saya cari nafkah sendiri. Anda tidak usah susah payah memberi nafkah sama saya."
"NIKAH KONTRAK," jawab Rio singkat.
__ADS_1