My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 46 : Keluarga Bahagia


__ADS_3

Lima tahun sudah Indi dan Arya lewati dengan kebahagiaan. Membesarkan anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang dan penuh kesabaran. Sekarang Evan telah berusia sepuluh tahun dan Vania berusia lima tahun. Evan menjadi sosok kakak yang benar-benar melindungi adiknya. Apalagi adiknya seorang perempuan.


"Mama, kak Evan belum pulang sekolah?" tanya Vania pada Indi.


"Belum sayang, kenapa?" Indi balik bertanya.


"Pengen main sama kak Evan," kata Vania cemberut.


"Nanti ya sayang, kalau kak Evan udah pulang pasti main sama Vania," kata Indi mengusap rambut Vania lembut.


Semenjak hamil Vania, Indi sudah tidak bekerja lagi. Dia fokus menjadi seorang ibu rumah tangga atas permintaan Arya. Jadi selama ini, setiap Arya berangkat kerja dan Evan sekolah, Vania di rumah bersama Indi. Terkadang Nenek dan Kakeknya juga datang untuk bermain dengan Vania.


"Mama, Evan pulang," teriak Evan saat masuk ke rumah.


"Wah anak Mama udah pulang," kata Indi menyambut Evan.


Evan mencium tangan Indi lalu pipi Indi.


"Vania mana Mah?" tanya Evan.


"Lagi tidur, daritadi nanyain kamu terus," kata Indi tersenyum.


"Ya udah Evan ganti baju dulu Mah," pamit Evan.


"Setelah itu makan siang dulu ya," pinta Indi.


"Iya Mah," kata Evan lalu beranjak menuju kamarnya.


Sedari kecil Evan sudah berpikiran dewasa dan mandiri, sekarang dia sudah sepuluh tahun, dia lebih bisa diandalkan.


Pov Arya.


"Dimas, ke ruangan saya!" pinta Arya pada Dimas asistennya. Semenjak Indi memutuskan untuk berhenti bekerja, Arya tidak mempunyai sekretaris lagi. Dia tidak mau memakai sekretaris lagi.


Dimas masuk ruangan Arya setelah dipersilahkan.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Dimas pada Arya.


"Lo keberatan 'gak sih kalau gue 'gak pakai sekretaris?" tanya Arya.


"Sementara ini gue masih sanggup Ar, lagian ada Arini juga kan yang bantuin," jawab Dimas.


Arini memang sudah lama bekerja bersama Arya untuk membantu di perusahaan.


"Kalau lo udah merasa keberatan bilang aja, nanti gue rekrut sekretaris lagi," kata Arya.


"Emang sama Indi bakal diijinin?" tanya Dimas sambil tersenyum jahil.


"Rekrut yang cowo dong," kata Arya mencoba berdalih.


"Gak asik banget sekretaris cowo," kata Dimas meledek.


"Daripada gue 'gak dapet jatah," kata Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Suami-suami takut istri," ledek Dimas tertawa keras.


"Sialan lo, nikah sana lo," kata Arya menimpuk Dimas dengan bolpoin.

__ADS_1


"Vania udah mulai sekolah, Ar?" tanya Dimas.


Dimas adalah salah satu orang yang sering datang berkunjung ke rumah Arya untuk bermain bersama Evan dan Vania. Usahanya mendekati Arini masih berjalan. Arini yang katanya mau fokus pada kerjaannya dulu, membuat Dimas menunggu dan bertahan.


"Belum mulai, mungkin tahun ini," kata Arya.


"Ya udah gue lanjut kerja dulu ya, nanti sore gue main ke rumah deh," kata Dimas beranjak keluar ruangan Arya.


Pov Indira.


Indi sedang menonton TV ketika Vania bangun dari tidur siangnya.


"Mama," panggil Vania berjalan keluar dari kamarnya.


"Mama di ruang TV sayang," sahut Indi.


"Ma, kak Evan mana?" tanya Vania duduk di sebelah Indi.


"Di kamar mungkin, tadi udah pulang tapi kamu masih tidur siang," kata Indi mengusap rambut Vania.


"Kak Evan," teriak Vania sampai Indi menutup telinganya.


"Iisshh 'gak boleh teriak gitu sayang, dateng aja ke kamar kak Evan," kata Indi menasehati.


"Hehe, maaf Mah," kata Vania nyengir.


Walaupun baru berusia lima tahun, Vania sudah pandai berbicara dan cerewetnya melebihi Evan dulu.


"Kenapa teriak Dek?" tanya Evan mendekati Indi dan Vania.


"Kenapa, hmm?" tanya Evan bertanya dengan lembut.


"Ayo main sama Vania," kata Vania menarik tangan Evan.


"Oke, mau main apa?" tanya Evan.


"Main rumah-rumahan ya," jawab Vania bersemangat.


"Ya udah ayo," kata Evan, lalu beranjak ke kamar Vania.


Evan adalah kakak terbaik yang Vania miliki. Apapun yang Vania mau, sebisa mungkin Evan turuti. Vania jarang sekali menangis kalau sedang bermain bersama Evan.


"PR sekolah udah dikerjakan Kak?" tanya Indi pada Evan. Indi memanggil Evan kakak agar Vania tidak menirukan apabila Indi langsung menyebut nama Evan.


"Udah Mah, baru aja Evan kerjakan," kata Evan tersenyum.


Evan dan Vania masuk ke kamar Vania untuk bermain. Indi melihatnya selalu tersenyum bangga dan merasa begitu bersyukur.


Makan malam pun tiba, Arya, Indi dan dua anaknya makan malam bersama. Seperti malam-malam sebelumnya, mereka selalu berusaha untuk makan bersama. Walaupun Arya begitu sibuk dengan pekerjaannya namun dia selalu mencoba pulang ke rumah sebelum jam makan malam.


"Tadi Dimas sebenarnya ingin main ke sini," kata Arya disela makannya.


"Om Dimas mau ke sini?" tanya Vania.


"Iya, tapi 'gak jadi sayang, mungkin besok," kata Arya.


"Kenapa 'gak jadi?" tanya Indi.

__ADS_1


"Aku suruh lembur buat siapin rapat besok," kata Arya santai.


"Kasihan Dimas dong Pah, lembur terus," kata Indi merasa kasihan pada Dimas, "Kamu rekrut sekretaris lagi aja," kata Indi lagi.


"Makan dulu, nanti kita bahas," kata Arya pada Indi dengan tatapan lembut.


"Mah, Vania udah kenyang," kata Vania yang telah menghabiskan makanannya.


"Waahh pinter Vania, udah habis makannya," kata Indi mengelus rambut Vania.


"Ayo dek, kita nonton TV," ajak Evan pada Vania.


Vania dan Evan menonton TV sambil makan camilan. Tidak lama Arya dan Indi ikut bergabung.


"Jadi, gimana dengan merekrut sekretaris lagi?" tanya Indi langsung pada pembahasan yang tadi.


"Iya, tadi siang sudah aku pikirkan, aku juga kasihan sama Dimas," jawab Arya.


"Semoga dengan adanya sekretaris baru, pekerjaan Dimas bisa lebih ringan," kata Indi tulus.


"Aku rekrut sekretaris cowo aja ya Mah," kata Arya pada Indi.


"Loh, kenapa?" tanya Indi kaget campur penasaran.


"Aku 'gak mau kamu khawatir kalau aku kerja sama sekretaris cewe," kata Arya, membuat hati Indi menghangat.


"Aku percaya sama kamu Pah," kata Indi menyandarkan kepalanya di lengan Arya.


"Tetap saja, aku harus jaga perasaan istriku ini," kata Arya memegang dagu Indi.


"Paahh," panggil Evan sambil menggeram.


"Sorry," kata Arya tersenyum kuda.


Indi tertawa karena kelakuan Arya tertangkap oleh Evan. Setiap malam, ada saja yang membuatnya tertawa. Mempunyai keluarga yang saling menyayangi satu sama lain membuatnya merasakan kehangatan yang akan selalu dia jaga. Keluarganya kini telah bahagia dan terkadang membuat iri para sahabat dan teman Indi yang masih belum menikah. Apalagi Evan dan Vania yang saling menyayangi dan bagaimana cara Evan menjaga adiknya itu. Membuat orang yang melihatnya merasa kagum.


"Mah, kita kasih adik buat Evan dan Vania yuk," bisik Arya di telinga Indi.


"Isshh, aku udah tua," kata Indi dengan berbisik juga.


"Kamu 'gak terlihat tua sayang," kata Arya mencium sekilas bibir Indi.


"Papah," geram Evan lagi.


"Kan Papa cuma kasih kiss buat Mama," kata Arya membela diri.


"Jangan di sini Pah, " kata Evan cemberut.


"Anak Papa udah besar, udah tahu malu," kata Arya meledek.


Evan hanya terdiam sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo kita ke kamar sayang," bisik Arya lagi pada Indi.


"Nanti nunggu anak-anak tidur aja, kita temani mereka dulu," kata Indi wajahnya memerah karena malu.


Evan melemparkan bantal pada Arya, dan tawapun pecah. Indi melihat bagaimana malunya Evan yang mendengar Papa dan Mamanya berbisik-bisik saling merayu.

__ADS_1


__ADS_2