My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 45 : Kebahagiaan Lengkap


__ADS_3

Sembilan bulan sudah Indi hamil anak yang kedua. Pagi ini Indi sudah terbaring di kamar Rumah Sakit, karena mengalami kontraksi. Arya setia menemani Indi di dalam ruang bersalin. Mama, Papa, Evan dan Arini menunggu di luar ruang bersalin.


"Sayang, sakit banget ya?" tanya Arya pada Indi yang sejak masuk tadi meringis merasakan kontraksinya.


"Gak apa sayang, aku udah pernah ngalamin ini. Sebentar lagi juga sembuh kalau anak kita udah lahir," kata Indi mengelus perutnya yang telah membuncit.


"Anak Papa, keluar yuk, Mama udah kesakitan. Kita semua udah nungguin kamu Nak," kata Arya mengusap pelan perut buncit Indi.


Indi merasakan tendangan hebat dari dalam perutnya. Sang bayi merespon apa yang dikatakan oleh Arya. Indi semakin merasakan mulas yang berkelanjutan, Arya memanggil Dokter dan tidak lama Dokter dan suster datang.


Setelah diperiksa Indi sudah pembukaan sempurna, Dokter dan suster menyiapkan semuanya. Sang Dokter membantu Indi untuk melahirkan dengan menyuruhnya menarik nafas dan membuang nafas perlahan.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya terdengar suara tangis seorang bayi. Indi dan Arya langsung berpandangan dan tersenyum bahagia. Arya mencium kening Indi dan mengelap peluh di wajah Indi.


"Selamat Bapak dan Ibu Arya, anaknya perempuan, cantik sekali," kata Dokter lalu memperlihatkannya pada Indi dan Arya sebelum membawanya untuk dibersihkan.


"Terima kasih Dokter," kata Arya membungkukkan badannya, "Makasih sayang," kata Arya pada Indi, mencium kening Indi lagi.


Indi merasakan bahagia yang teramat sangat. Dia sudah mempunyai Evan dan sekarang punya seorang anak perempuan dari Arya. Lengkap sudah kebahagiaannya.


"Sayang, aku tidur dulu ya, aku merasa ngantuk," kata Indi memejamkan matanya.


Arya meninggalkan Indi untuk beristirahat. Dia keluar kamar setelah mencium kening Indi dan disambut oleh keluarganya dengan perasaan bahagia.


"Papa," teriak Evan lalu berlari menuju Arya. Arya langsung menggendongnya.


"Kamu udah punya adik sayang," kata Arya pada Evan, "Anak Arya dan Indi perempuan Mah, Pah," kata Arya memberitahu keluarganya.


"Yeaaayy, adiknya dimana Pah?" tanya Evan tidak sabar.


"Masih sama Dokter sayang, nanti kalau udah selesai diperiksa kita bisa lihat adik bayi," kata Arya memberi penjelasan.


"Selamat Nak, Mama sama Papa ikut bahagia. Evan punya adik perempuan, lengkap sudah," kata Mama menitikkan air mata bahagia.


"Mama jangan nangis dong," kata Arini memeluk Mama.


"Mama bahagia sayang," kata Mama tersenyum.


"Indi bagaimana?" tanya Papa.


"Indi lagi tidur Pah, kelihatan capek banget," kata Arya.


"Evan sama tante Arin yuk, kita beli makanan buat Mama," ajak Arini pada Evan.


"Ayo Tante, beli makanan yang banyak buat Mama biar 'gak capek lagi," kata Evan membuat semuanya gemas.


Setelah Arini dan Evan pergi, Arya dan Mama Papa masuk ke ruang rawat Indi. Sesaat yang lalu, Indi sudah dipindahkan ke ruang rawat.

__ADS_1


"Udah bangun sayang?" tanya Arya, melihat Indi yang sudah membuka matanya.


"Iya sayang, maaf aku tidur tadi," kata Indi tersenyum malu.


"Gak apa, kamu kan pasti capek," kata Arya lembut.


"Mana anak kita?" tanya Indi melihat keliling ruangan.


"Masih di ruangan bayi sayang, masih diperiksa dulu sama Dokter," kata Arya.


"Sebaiknya kamu makan dulu Ndi," kata Mama memberikan makanan yang disiapkan Rumah Sakit.


"Iya Mah," jawab Indi, "Oh iya sayang, mau diberi nama siapa anak kita?" tanya Indi menatap Arya.


"Iya Ar, Mama juga penasaran," kata Mama ikut bertanya.


"Elvania Wijaya, panggilannya Vania," kata Arya menggenggam tangan Indi.


"Mama," teriak Evan yang baru saja masuk ke kamar Indi, di belakangnya ada Arini dan Dimas yang membawa banyak kantong makanan.


"Hai semuanya," sapa Dimas tersenyum ramah.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Arya.


"Nengok keponakan dong," jawab Dimas enteng.


"Ponakan gue lah, ya 'gak Rin?" tanya Dimas pada Arini sambil mengedipkan matanya.


"Diihh PD lo," kata Arini tersenyum geli.


"Kasihan deh," kata Arya mengundang gelak tawa semuanya.


"Udah jangan terlalu bising, kasihan Indi," kata Mama menengahi.


Akhirnya bayi Indi dan Arya di bawa ke kamar rawat Indi. Semua orang disuruh keluar oleh Arya kecuali Evan, karena Indi mau menyusui bayinya.


"Namanya siapa Pah?" tanya Evan pada Arya, saat melihat adik bayinya sedang menyusu pada Indi.


"Vania sayang, Elvania Wijaya," kata Arya mengusap rambut Evan.


"Evan pasti akan jaga adik Vania Pah," kata Evan tegas.


"Harus Nak, kalian kakak adik harus saling jaga," kata Arya menepuk pundak Evan.


Indi yang sedari tadi mendengar obrolan antara Arya dan Evan tersenyum bahagia dan bangga. Dia berhasil membesarkan Evan dengan penuh cinta dan kasih sayang, walaupun dulu dia membesarkannya sendirian.


"Adik Vania udah selesai minum susu Mah?" tanya Evan pada Indi, saat dia melihat adiknya sudah diletakkan kembali ke box bayi.

__ADS_1


"Udah sayang, Vania udah tidur lagi," kata Indi.


"Makasih Mah, Pah, udah kasih Evan adik cantik," kata Evan sambil tersenyum senang.


"Evan senang?" tanya Indi.


"Senang banget Mah, Evan akan jaga Vania," kata Evan semangat.


Indi dan Arya saling berpandangan lalu tersenyum bersama.


"Makasih ya, udah kasih Papa anak-anak yang luar biasa," kata Arya pada Indi.


"Kalian kebahagiaan Mama, rasanya sudah lengkap kebahagiaan Mama kali ini," kata Indi memeluk Evan.


Arya memeluk Indi dan Evan sekaligus. Indi merasakan kebahagiaannya telah lengkap. Ada Arya sang suami dan satu anak lagi perempuan. Indi merasa bahagia mempunyai Evan, dan sekarang ada Arya juga Vania.


Selama satu minggu Indi dirawat setelah melahirkan. Hari ini Indi dan bayinya sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter.


Sampai di rumah, Indi mendapatkan surprise dari keluarga Arya, Nina,Sinta sahabatnya dan juga teman-teman kantor. Indi terharu, banyak orang yang sayang sama dia dan keluarganya.


"Makasih semuanya udah pada dateng ke sini," kata Indi penuh haru.


"Bu, Jessi boleh gendong adik bayinya 'gak?" tanya Jessi, anak yang paling cerewet.


"Gak boleh," jawab semua orang, membuat Indi tersenyum.


"Iihh kenapa 'gak boleh sih?" tanya Jessi lagi.


"Kamu masih kecil, belum bisa gendong bayi," kata Dimas.


"Jessi bisa kok," kata Jessi membela diri.


"Sudah jangan berisik, anak saya mau tidur," kata Arya dengan suara keras, membuat Vania menangis.


"Lo yang berisik ogeb," kata Dimas menujuk ke arah Arya.


"Lo mau dipecat ya Dim," kata Arya mengancam.


"Ampun Tuan, ampuni saya," kata Dimas memelas.


Semuanya tertawa dan Jessi paling lantang menertawakan Dimas.


"Lo bahagia banget ya kalau gue kena marah si Boss," kata Dimas pada Jessi.


"Habisnya Pak Dimas juga jahil sama Jessi," kata Jessi polos.


Semua orang larut dalam suasana bahagia keluarga Indi dan Arya. Indi merasa bahagia berada di tengah-tengah mereka. Kehidupannya pun yang sekarang sudah begitu bahagia bersama Arya dan dua buah hatinya.

__ADS_1


__ADS_2