My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 91 : Kritis


__ADS_3

Selama satu jam lamanya, dokter berada di dalam ruangan Evan. Keadaan Evan menurun dan detak jantungnya sempat menghilang. Dokter pun melakukan pacu jantung untuk mengembalikan detak jantungnya. Indi mengikuti Arya menunggu di depan ruangan Evan. Tangisannya kembali pecah mengetahui keadaan Evan yang menurun. Dokter keluar lalu memberitahukan bahwa keadaan Evan kritis. Dan akan terus dipantau agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Evan, Evan," nama itu terus terucap dari bibir Indi.


Arya tidak tahu harus bagaimana lagi membuat Indi tenang. Dia hanya bisa memeluknya erat sambil mengusap punggungnya lembut. Arya sendiri juga merasa hancur dan sesak melihat keadaan anaknya.


"Arya, tolong Evan. Dia harus sembuh," ucap Indi dalam tangisannya.


"Iya sayang, Evan pasti sembuh. Dia anak yang kuat." Arya berbicara dengan yakin.


Sementara di sudut yang lain, Kanaya juga mendengarkan pernyataan dokter tentang Evan. Tubuhnya langsung lemas dan akan jatuh kalau tidak segera ditopang oleh Dion.


"Pah, teman Naya. Apa yang harus Naya lakuin?" Kanaya menangis sesenggukan di dalam pelukan Dion.


"Kita hanya bisa berdoa sayang. Semoga teman kamu kuat dan akan segera melewati ini semua," ucap Dion untuk menenangkan Kanaya.


Di rumah, Vania dan Vano terus saja menangis mendengar keadaan Evan, kakak mereka. Vania meminta untuk datang ke rumah sakit tapi belum diperbolehkan oleh Arya.


"Tante, kak Evan bagaimana?" tanya Vania pada Arini saat tangisannya sedikit mereda.


"Vano mau ketemu kak Evan," ucap Vano masih terus menangis.


Arini sendiri tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya di depan Vania dan Vano.


"Kita berdoa aja ya sayang, supaya kak Evan cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kita." Arini memeluk kedua ponakannya.


"Vania mau ke rumah sakit tante. Vania mau lihat sendiri keadaan kak Evan," pinta Vania merengek.


"Vano juga mau ikut," rengek Vano juga.


Arini juga ingin pergi ke rumah sakit, tapi kata Dimas juga Evan belum bisa dijenguk.


"Ya udah ayo siap-siap dulu, kita ke rumah sakit," ajak Arini pada Vania dan Vano.


Mereka bertiga bersiap-siap lalu segera pergi ke rumah sakit diantar oleh supir keluarga Wijaya. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, hanya ada untaian doa yang terucap dalam batin mereka masing-masing.


Vania dan Vano langsung berlari saat melihat nenek dan kakeknya di depan sebuah ruangan. Arya sedang berada di ruangan Indi, karena sesaat yang lalu Indi pingsan lagi.


"Nenek, kakek," panggil Vania dan segera menghambur dalam pelukan neneknya.

__ADS_1


"Kenapa kalian ke sini?" tanya Nenek Ellis.


"Vania mau lihat kak Evan, Nek. Bagaimana keadaan kak Evan?" tanya Vania.


Arini langsung mendekati Dimas yang sedang melihat ke dalam sebuah ruangan dari kaca jendela.


"Beb, gimana Evan?" tanya Arini memeluk pinggang Dimas.


Arini melihat ke arah pandang Dimas dan langsung syok mengetahui Evan terbaring tak sadarkan diri dengan perban di sekujur tubuhnya.


"Evan, kenapa sampai seperti itu, Beb," ucap Arini pada Dimas dan tak terbendung lagi air matanya.


Dimas memeluk erat pinggang Arini agar tidak jatuh.


"Evan anak yang kuat kan, Beb? Kamu tahu itu. Dia pasti akan segera sadar," ucap Dimas memberikan harapan pada Arini dan dirinya sendiri.


"Apa kata dokter, Beb?" tanya Arini penasaran.


Dimas tidak tahu harus berbicara apa pada Arini. Dia tidak ingin memberitahu Arini bahwa Evan sekarang sedang kritis. Dia tidak mau Arini syok dan akan mengganggu kesehatannya juga. Arini tidak boleh stress karena dia sedang hamil muda.


"Kata dokter, Evan masih harus dipantau karena baru saja menjalani operasi dan belum sadarkan diri," kata Dimas menjelaskan.


David mendapatkan perintah dari Arya untuk memberi sedikit pelajaran pada Calista. Arya benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi mengetahui anaknya sedang kritis. Dia juga meminta David untuk menyingkirkan orang yang telah menyebabkan Evan kecelakaan.


Arya sudah mendapat laporan dari polisi bahwa Evan kecelakaan karena mengebut dan menerobos lampu merah lalu tertabrak pengendara lain. Pengendara yang menabrak Evan telah diamankan oleh kepolisian. Arya mencari alasan kenapa Evan sampai mengebut dan menerobos lampu merah. Dia menemukan bahwa ada yang mengikutinya dari waktu keluar sekolah. Dan Arya yakin itu pasti suruhan Calista.


Call on.


"Bagaimana, sudah dilaksanakan?" tanya Arya pada David melalui sambungan telepon.


"Sudah Pak, saya sudah memberi Calista sedikit pelajaran dan menyingkirkan orang yang telah membuat anak Bapak kecelakaan," ucap David tegas.


"Baik, terima kasih David." Arya langsung menutup teleponnya dan menghela nafas lelah.


Call off.


Suara mesin EKG lagi-lagi berbunyi nyaring dan cepat. Seorang dokter dan dua perawat masuk ke ruangan Evan. Arya menunggu di depan ruangan dengan gelisah. Semua orang yang berada di situ berdoa untuk Evan. Hanya berdoa dan berharap yang bisa mereka lakukan sekarang.


"Evan, bangun sayang. Kamu anak kuat, kamu gak boleh menyerah sekarang. Banyak orang yang sayang sama kamu. Mereka akan bersedih kalau kamu meninggalkan mereka begitu saja. Bangun Nak."

__ADS_1


Terdengar suara di telinga Evan saat dia sedang diperiksa oleh dokter. Evan sedang berusaha membuka matanya tapi masih terasa sulit. Dia ingin bangun tapi rasanya sangat berat.


"Evan, bangun. Maafkan aku udah pergi tanpa kabar. Aku akan menebus semua kesalahanku saat kamu bangun nanti. Jadi, bangunlah dan kita akan bertemu lagi.


Suara yang tidak asing terdengar di telinga Evan. Dia tidak tahu ini mimpi atau apa. Mungkin dia sedang berada di antara hidup dan matinya. Evan masih berusaha untuk bangun dan membuka matanya.


" Kak Evan bangun kak, Vania sama siapa lagi kalau gak ada kak Evan. Vano juga mau main sama kak Evan. Jangan tinggalin Vania dan Vano, Kak. Ayo bangun kak Evan."


Suara lembut disertai tangisan yang membuat air mata menetes di pinggiran mata yang tertutup itu. Rasa sesak mengalir begitu saja. Evan ingin sekali bangun dan memeluk orang-orang yang sudah menunggunya. Dengan sekuat tenaga dan harapan serta doa dari orang-orang terdekatnya, Evan berusaha membuka matanya.


"Mah," ucap Evan lirih dan lemah.


Indi yang duduk di pinggir ranjang Evan sedikit mendengar suaranya.


"Sayang, kamu bangun Nak. Ini mama sayang, bangun sayang." Indi terus saja berbicara melihat Evan membuka matanya.


Dokter langsung mengambil alih Evan untuk diperiksanya kembali. Setelah tadi kondisinya kritis dan tidak ada harapan seperti kata dokter, Evan membuka matanya.


.


.


NOTE :


sambil nunggu author up, mampir ke karya teman author dears.


Judul : Mendadak Nikah


Author : Nunuk Pujiati


Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat.


Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan.


"Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!"


Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?


__ADS_1


__ADS_2