My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 105 : Hari Kelulusan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan ujian akhir sekolah, dengan was-was Evan menunggu hasil dari ujian tersebut. Indi dan Arya selalu menanyakan, apakah Evan akan bersekolah di kota ini, di luar kota atau di luar negeri sekalian. Indi sebenarnya tidak setuju kalau Evan harus kuliah jauh dari rumah, tetapi Arya selalu meyakinkan Indi. Evan adalah penerus perusahaan Wijaya, dia harus dipersiapkan sedemikian rupa dari sekarang. Walaupun dia mempunyai minat yang lain, Arya akan tetap mendukungnya, tetapi peran utamanya tetap harus dijalankan.


"Gimana Van, udah ada bayangan mau kuliah di mana?" tanya Arya saat sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Evan pengen cari pengalaman hidup, boleh nggak Evan kuliah di luar negeri aja?" Evan mengajukan diri untuk berkuliah di luar negeri.


"Nggak boleh," jawab Indi cepat.


"Mah, Evan pengen cari pengalaman. Evan juga pengen belajar di sana," ucap Evan memberi penjelasan.


"Tapi Van, Mama nggak mau kamu di sana sendirian." Indi tetap dengan pendiriannya.


"Sayang, Evan sudah besar dan dia anak laki-laki. Biarkan dia mencari pengalaman mumpung masih muda." Arya mencoba membujuk Indi.


"Kuliah di sini aja Van, mama nggak mau kamu jauh dari rumah. Deket rumah aja kamu kaya gitu." Indi cemberut dan langsung masuk kamar.


"Nanti biar Papa yang bicara sama Mama," ucap Arya melihat Evan terlihat kecewa dan khawatir.

__ADS_1


Hari yang dinantikan pun tiba. Evan menunggu pengumuman kelulusan dengan was-was. Kanaya yang ikut menunggu, memberikan semangatnya untuk Evan.


"Kakak pasti lulus ujian, jadi nggak perlu terlalu khawatir," ucap Kanaya memberikan senyuman terbaiknya.


"Aku juga yakin lulus Nay, cuma nilainya yang aku nggak yakin." Evan menghela nafasnya kasar.


"Nggak pa-pa Kak, nilainya pasti bagus-bagus. Naya yakin itu."


Kanaya selalu bisa membuat hati Evan tenang disaat kekhawatiran melanda dirinya. Evan berniat kuliah di luar negeri dan akan meninggalkan Kanaya. Padahal dia sendiri yang berjanji akan menjadikan Kanaya orang yang spesial setelah dia lulus sekolah nanti.


"Sepertinya aku harus mengejar cita-citaku dulu baru mengejar cinta," ucap Evan dalam hati.


"Selamat Van, kita semua lulus!" teriak Maria memberitahu Evan.


Kanaya langsung tersenyum mendengar bahwa Evan lulus dari ujian sekolah.


"Selamat ya Kak," ucap Kanaya memberi selamat.

__ADS_1


Evan masih saja belum sadar dengan keadaan ini. Dia kaget dan juga tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan cepat Evan menuju papan pengumuman dan mencari namanya. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan menduduki sepuluh besar dari seluruh kelas di sekolahnya.


"Wah, nilainya juga bagus Kak. Masuk sepuluh besar loh." Kanaya mengikuti Evan melihat papan pengumuman.


"Aku masih belum percaya Nay. Akhirnya usahaku nggak sia-sia. Aku bisa nerusin kuliah di luar negeri kalau gini." Evan secara tidak sadar telah mengungkapkan keinginannya untuk kuliah di luar negeri. Kanaya sedikit kaget dan tidak menerima hal itu.


"Kak Evan mau kuliah di luar negeri?" tanya Kanaya.


Evan masih belum sadar dengan kata-katanya sendiri.


"Emang aku bilang mau kuliah di luar negeri?" tanya Evan bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Tadi Kak Evan bilang sendiri, katanya nilainya bisa untuk daftar kuliah di luar negeri." Kanaya sedikit cemberut.


"Nanti aku jelasin ya, lagian Mama juga belum ngijinin Nay. Masih belum jelas."


"Aku ke kelas dulu ya Kak." Kanaya langsung pergi meninggalkan Evan.

__ADS_1


"Tunggu Nay." Evan hendak mengejar tapi tertahan oleh teman-temannya yang saling memberi selamat atas kelulusan mereka.


"Aku udah mendekatkan diri sama kamu, tapi kamu malah mau menjauh dari aku, Kak," gumam Kanaya dan satu butir air mata lolos dari sudut matanya.


__ADS_2