My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 65 : Keluarga Wijaya


__ADS_3

Rencana liburan yang direncanakan oleh Arini akhirnya terealisasi juga. Semua keluarga Wijaya pergi berlibur ke pulau dewata. Vania dan Vano sangat senang karena baru pertama kali mereka berlibur ke sana.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya mereka sampai di villa yang sudah Arini sewa.


"Yeaayy pantai," teriak Vania kegirangan.


"Istirahat dulu semuanya, nanti baru jalan-jalan," perintah Arya pada anak-anaknya.


"Aku ke kamar dulu ya semuanya, bye," pamit Arini sambil merangkul pinggang Dimas.


"Sampai nanti semua," ucap Dimas juga.


Semua orang masuk ke kamar masing-masing. Evan memilih berkeliling villa dan menikmati pemandangan laut yang terlihat dari depan dan belakang villa.


"Woi," teriak suara seorang perempuan.


Evan mencari sumber suara dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Evan santai pada Jacelyn, perempuan yang tadi memanggil Evan.


"Kok lo ada dimana-mana sih?" tanya Jacelyn.


"Lo ngikutin gue ya," tuduh Evan dengan senyuman yang tak bisa diartikan.


"Enak aja lo, gue di sini sama keluarga gue tahu," ucap Jacelyn sedikit kesal.


Tanpa berlama-lama Jacelyn langsung pergi dari hadapan Evan. Evan hanya tersenyum melihatnya.


"Dia yang manggil, dia yang sewot," ucap Evan geleng-geleng.


Sore hari, semua orang berkumpul di balkon villa sambil menikmati suasana senja.


"Malam ini kita barbeque yuk," ajak Arini.


"Boleh juga tuh tante." Evan menimpali.


"Kalau gitu nanti Mama siapin bumbunya, Arini sama Indi siapin bahan-bahannya. Arya dan Dimas, sama Papa siapin alatnya," kata Mama memberitahu tugas masing-masing.


"Evan bantuin makan aja ya Nek," ucap Evan yang langsung mendapat sorakan dari semuanya.


"Evan jagain Vania dan Vano aja," ucap Arya.


"Kak, main di tepi pantai yuk," ajak Vania yang diikuti anggukan Vano.


"Boleh gak Mah, Pah?" tanya Evan pada Arya dan Indi.


"Yang penting hati-hati ya, jagain adik-adiknya," pinta Indi pada Evan.


"Siap Mah."


Evan langsung mengajak Vania dan Vano berjalan-jalan ke tepi pantai. Sambil menikmati indahnya sunset yang terhampar luas di langit sore kala itu. Evan melihat Vania dan Vano yang sedang bermain pasir membangun istana.


"Kak, sini bantuin dong," teriak Vania.

__ADS_1


"Biar cepat jadi istananya Kak," tambah Vano.


Evan mendekat dan langsung membantu membuat istana pasir. Sesekali Vania berulah jahil melempar pasir ke arah Evan. Membuat Evan ikut melempari Vania dengan pasir dan membuat mereka tertawa riang.


"Wah wah wah, seorang Evan ternyata bisa tertawa juga ya," ucap Jacelyn yang tiba-tiba sudah di dekat mereka.


"Ngapain lo?" tanya Evan dingin.


"Jalan-jalan, ini tempat umum kan," kata Jacelyn santai.


"Kakak teman kak Evan?" tanya Vania penasaran.


"Bukan, kita gak berteman," jawab Jacelyn enteng.


"Oohh pacaran?" tanya Vania polos.


"Apa?" Evan dan Jacelyn bertanya dengan berbarengan.


"Siapa yang pacaran." Evan bersungut kesal.


"Ogah banget pacaran sama dia," ucap Jacelyn juga.


Jacelyn langsung pergi karena tidak mau bertambah salah paham.


"Lagi marahan ya Kak?" tanya Vania.


"Kita gak dekat Dek, kenal juga gak secara langsung," kata Evan menjelaskan.


"Bisa dijewer Mama kalau kakak pacaran Dek." Evan melanjutkan membuat istana pasir tanpa menghiraukan lagi pertanyaan-pertanyaan dari Vania.


"Gimana main ke pantainya sayang?" tanya Indi pada Vano yang sedang dipangkunya saat menunggu panggangan ayamnya matang.


"Asyik Mah, Vano bikin istana pasir sama kak Vania dan Kak Evan," jawab Vano.


"Istananya bagus gak?" tanya Indi lagi.


"Bagus dong Mah, bisa buat Vano main di dalamnya," celoteh Vano membuat Vania tertawa.


"Kakinya doang yang bisa masuk Vano," kata Vania tertawa diikuti tawa Vano juga.


"Tadi kak Evan ketemu sama pacarnya Mah," cerita Vano pada Indi. Evan langsung melotot pada Vano dan gelagapan.


"Pacar?" tanya Indi menatap tajam Evan.


"Bukan Mah, cuma adik kelas aja. Kebetulan ketemu tadi," jawab Evan gugup.


"Siapa pacar kamu?" tanya Arini antusias.


"Gak punya pacar tante. Vano ngarang aja." Evan mencoba membela diri.


"Tadi kak Vania yang tanya sama kak Evan kan." Vano menatap Vania yang sedang mencicipi sosis bakar.


"Kata kak Evan sih gak pacaran Mah," kata Vania jujur.

__ADS_1


Indi masih mencoba mendengarkan apa yang dikatakan anak-anaknya.


"Gak pa-pa pacaran, yang penting tahu batasnya. Cantik gak ceweknya?" tanya Arini penasaran.


"Dek, jangan diajarin dong. Biar Evan sekolah dulu, dia kan udah kelas tiga," kata Indi sedikit kesal.


"Suka-sukaan sedikit aja gak pa-pa kali Kak." Arini masih saja ngotot.


"Gak ada, nanti aja kalau udah kerja baru boleh pacaran," kata Indi tegas.


"Ya ampun Kak, masa remajanya gak asik dong," protes Arini.


Indi dan Arini terus berdebat sampai Mama maju untuk menghentikan mereka berdua.


"Udah, udah, biar Evan yang memutuskan semuanya sendiri. Dia anak laki-laki dan sudah remaja juga. Tahu mana yang baik dan mana yang buruk," kata Mama mencoba melerai Indi dan Arini.


"Tapi Mah, tahu sendiri kan pergaulan anak jaman sekarang. Walaupun Evan selalu menjaga, tapi kalau temannya salah juga bisa saja ikut terjerumus," kata Indi khawatir.


"Kalau Papa lihat sih, Evan bukan anak yang gampang terpengaruh lingkungan Ndi," kata Papa ikut memberikan pendapatnya.


"Anak aku gak akan salah pergaulan sayang," teriak Arya yang sedang mengipasi bakarannya.


Indi sendiri bingung harus bagaimana lagi. Mungkin dia yang terlalu khawatir pada Evan karena sewaktu kecil hanya Indi yang membesarkannya.


"Mah, gak usah khawatir. Evan akan selalu inget nasehat Mama. Evan bisa jaga diri juga," ucap Evan merangkul pundak Indi.


"Mama kadang lupa kalau kamu sudah dewasa dan bisa membuat keputusan sendiri," kata Indi berkaca-kaca.


"Evan tetap akan jadi anak kecil Mama, yang selalu butuh Mama," ucap Evan lagi, membuat Indi meneteskan air matanya.


"Anak baik," puji Arini sambil mengacak rambut Evan.


"Udah, daripada menghakimi Evan terus lebih baik kita makan," ajak Dimas yang selesai membakar ayam, sosis, dan daging panggang.


"Vania mau," teriak Vania langsung menyerbu makanan.


"Nanti Om ajarin gimana cara cari cewek," bisik Dimas di telinga Evan tetapi masih terdengar oleh yang lain.


"Om aja ceweknya cuma satu dan rela menunggu bertahun-tahun," ledek Evan.


Semua orang yang mendengarnya langsung tertawa.


"Sebaiknya lo ngaca dulu sebelum ngomong," ucap Arya disela tawanya.


"Ya kan bisa gue ajarin gimana caranya bisa dapetin hati Arini, walaupun sampai nunggu bertahun-tahun," ucap Dimas sedikit malu.


"Gak diajarin juga banyak cewek yang suka sama Evan, Om," ucap Evan bangga.


Dia tidak tahu perkataannya membuat Indi langsung melotot dan menatap tajam ke arahnya.


"Evan," panggil Indi dengan penekanan.


"Sepertinya aku salah ngomong." Evan langsung diam dan memakan makanannya tanpa disuruh.

__ADS_1


__ADS_2