
Pov Arya.
Arya dan Pak Wijaya (Papa Arya) sudah sampai di rumah Pak Bastian. Mereka berdua sama-sama berusaha tenang, walaupun sebenarnya mereka juga khawatir.
"Pah, semuanya akan baik-baik saja kan?" tanya Arya, masih di dalam mobil.
"Pasti, kalaupun tidak baik, kamu harus perbaiki. Nanti Papa bantu," kata Papa, menenangka Arya.
"Thank's Pah," ucap Arya.
Mereka pun turun, dan disambut oleh pelayan rumah Pak Bastian.
"Selamat pagi, Pak Bastian," sapa Arya, tersenyum ramah.
"Pagi, Bastian," sapa Pak Wijaya, mereka adalah teman lama.
"Selamat pagi Arya, Wijaya. Silahkan duduk," pinta Pak Bastian, ramah.
"Maafkan saya sebelumnya, Pak Bastian. Saya baru sempat bertemu dengan Bapak," kata Arya sedikit gugup.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kalian sudah datang," kata Pak Bastian.
Beliau memang terkenal orang yang sangat ramah dan tidak main hakim sendiri. Beliau sangat menyayangi putri semata wayangnya, Angel. Tetapi beliau juga tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.
"Jadi begini Pak, saya ingin menjelaskan kenapa saya sampai memecat Angel," kata Arya. "Saya mendapat banyak laporan dari karyawan saya, kalau Angel sering menyalahgunakan kekuasaannya untuk meminta sesuatu pada karyawan lain. Dia sering memakai nama Bapak, untuk mendapatkan apa yang dia mau." Arya menjelaskan dengan baik.
"Dia memang sangat kekanakan dan suka seenaknya sendiri, mungkin karena saya selalu memanjakan dia," kata Pak Bastian.
"Mohon maaf Pak, semua itu saya masih bisa bersabar, tapi beberapa hari yang lalu Angel dan sekretaris saya beradu mulut sampai menggunakan fisik, maaf jambak-jambakan, dan itu membuat saya kehilangan kendali. Karena sekretaris saya adalah calon istri saya, jadi saya akan membelanya di sini," kata Arya serius.
"Wah wah, jadi Pak Arya membela calon istri Bapak," kata Pak Bastian, tersenyum.
"Iya Pak, maafkan saya," kata Arya merendah.
"Tidak apa Arya, saya paham, saya juga akan melakukan hal yang sama kalau saya jadi kamu," kata Pak Bastian.
"Jadi, bagaimana Bas?" tanya Pak Wijaya, dengan suara tegasnya.
"Kamu ngapain ikut ke sini? Arya saja juga saya terima," kata Pak Bastian, terkekeh.
"Saya takut anak saya tertindas sama kamu," kata Pak Wijaya tertawa.
"Papa," panggil Arya lirih, merasa malu dengan kelakuan Papanya.
"Papa kamu dari dulu memang begitu Ar, biarkan saja," kata Pak Bastian. "Sudah, sudah, saya terima penjelasan kamu Arya. Dan saya tidak akan menarik saham saya di perusahaan kamu," kata Pak Bastian.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak," kata Arya membungkuk hormat.
"Papi kenapa masih mau dengar penjelasan Arya?" tanya Angel, tiba-tiba datang.
"Papi tidak suka mencampur urusan pribadi dan bisnis sayang. Kamu kerja di perusahaan Papi aja ya," kata Pak Bastian, lembut.
"Huh, Papi 'gak asik," kata Angel, lalu pergi dengan menghentakkan kaki.
__ADS_1
"Lihat, dia sangat kekanakan. Maafkan Angel ya, Ar," kata Pak Bastian, meminta maaf pada Arya untuk putrinya.
"Tidak apa Pak Bastian, saya sudah memaafkan Angel," kata Arya.
"Terima kasih ya, Bas," kata Pak Wijaya.
"Kalau begitu, kami pamit dulu Pak Bastian," kata Arya, lalu mengulurkan tangannya.
"Baik, terima kasih suda mau berkunjung," kata Pak Bastian, menjabat uluran tangan Arya. Arya dan Pak Wijaya pun pulang, setelah berpamitan.
Arya langsung menuju perusahaannya setelah mengantarkan Papanya pulang.
"Selamat pagi, Indi," sapa Arya, tersenyum senang.
"Pagi, Pak," kata Indi, menyapa balik Arya.
"Ikut saya," kata Arya singkat, lalu masuk ke ruangannya.
Di dalam ruangan Arya, Indi berdiri di belakang Arya yang sedang berdiri membelakanginya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Indi bingung.
Arya langsung berbalik dan memeluk Indi erat.
"Pak Bastian menerima penjelasanku, Ndi. Beliau tidak menarik sahamnya di perusahaan ini," kata Arya senang, lalu memutar-putarkan Indi.
"Waahh, syukurlah, aku jadi lega dengarnya," kata Indi, tersenyum.
"Aku 'kan 'gak ngapa-ngapain Ar," kata Indi bingung.
"Kamu di sampingku aja udah jadi penyemangat buatku," kata Arya.
"Ehem," suara Dimas berdehem.
"Bisa ketuk pintu dulu 'gak?" tanya Arya ketus.
"Sudah Pak Arya, tapi 'gak ada yang nyahut," kata Dimas membela diri.
"Ada apa?" tanya Arya.
"Kita mau rapat tentang proyek terbaru Pak," kata Dimas mengingatkan.
"Oke, saya siap-siap dulu," kata Arya.
"Siap-siap apa mau mesra-mesraan lagi," gumam Dimas, seraya pergi dari ruangan .
"Saya dengar Dimas," teriak Arya.
"Mari Pak, saya bereskan dulu berkasnya," kata Indi, tersenyum geli.
"Tunggu," kata Arya.
"Ada yang ketinggalan, Pak?" tanya Indi.
__ADS_1
"Ada," jawab Arya santai.
"Apa, Pak?" tanya Indi lagi, bingung.
Arya mendekat, lalu mencium sekilas bibir Indi.
"Arya," kata Indi menggeram.
"Biar semangat, sayang," kata Arya, tersenyum menang.
Indi tidak berbicara lagi, dia langsung keluar ruangan Arya dan membereskan dokumen yang akan dipakai untuk bahan rapat. Lalu dia mengikuti Arya ke ruangan rapat.
Di ruangan rapat, semua orang menjelaskan satu persatu pekerjaan mereka. Suasana hati Arya sepertinya sedang bagus, dia tidak mengeluarkan kata sekali pun saat para karyawannya memberikan laporan. Biasanya setiap ada yang laporan, pasti ada saja yang dikomentari.
"Baik, karena saya sedang dalam suasana yang bagus, saya akan mengajak kalian semua berlibur. Tetapi saya harap, setelah liburan nanti, saya akan mendapatkan ide-ide baru dan laporan yang lebih baik lagi, bagaimana?" tanya Arya.
"Wah, tumben si Boss ngajak liburan?" bisik Jessi pada Andin.
"Dalam rangka apa ya Boss?" tanya Andin, memberanikan diri.
"Dalam rangka keselamatan perusahaan ini, dan merayakan saya akan menikah," kata Arya tersenyum sambil melihat ke arah Indi.
"Wah si Boss dan Bu Indi mau menikah?" tanya Jessi dengan suara lantang.
"Hushh," kata Andin, menyenggol lengan Jessi.
"Maaf, Pak," kata Jessi, langsung menutup mulutnya. Indi hanya tersenyum melihatnya.
"Oke, kalau sudah tidak ada pertanyaan, saya serahkan urusan liburan pada Dimas dan Andin. Tolong kalian buat proposalnya," kata Arya langsung keluar ruangan rapat. Indi mengikuti di belakangnya.
"Wah wah, liburan, yeaayy," teriak Jessi, senang.
"Berisik lo, bocah," kata Dimas. Jessi hanya menjulurkan lidahnya, meledek.
"Jadi mau kemana kita?" tanya Andin.
"Ke Luar Negeri aja gimana?" tanya Ardi, yang sedari tadi diam.
"Kejauhan Di, dalam negeri aja," kata Dimas.
"Tapi gue seneng, si Boss 'gak kaya dulu. Semenjak ada Bu Indi, semuanya berubah," kata Andin.
"Iya, gue setuju," kata Dimas juga.
"Indi memang perempuan istimewa," kata Ardi, dan langsung dipelototi oleh Dimas dan Andin.
"Jangan macam-macam lo bro," kata Dimas.
"Gak lah Dim, gue udah punya calon sendiri. Dulu gue memang suka Indi, tapi bukan jodoh gue," kata Ardi menjelaskan.
"Oke, kita lanjut nanti makan siang ya. Gue masih banyak kerjaan," kata Dimas, lalu keluar ruangan rapat. Begitu juga dengan yang lainnya.
Akhirnya perusahaan Wijaya tetap berdiri dengan kokoh. Tidak ada masalah lagi, karena Pak Bastian tidak mencabut modalnya di perusahaan. Sesuai keinginan Arya, satu minggu lagi Arya akan menikahi Indi.
__ADS_1