My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 80 : Kekecewaan Indi


__ADS_3

Arya sampai di kantor sudah jam sembilan pagi. Dia berusaha membujuk Indi tapi malah diusir dan tidak dibukakan pintu kamar. Dia merasa sangat menyesal dan membenci dirinya sendiri karena telah membuat Indi seperti itu.


"Dimas," teriak Arya saat sampai di ruangannya.


"Kenapa Boss?" tanya Dimas terburu-buru.


"Lo ceritain semuanya sama Indi?" tanya Arya masih sedikit kesal dengan apa yang terjadi tadi.


"Cerita apa? Gue gak cerita apapun walaupun kak Indi selalu tanya," jawab Dimas bingung.


"Dari mana dia tahu semuanya?" gumam Arya.


"Tahu apa sih?"


"Indi tahu semuanya yang terjadi itu karena ulah Calista. Dan dia marah besar karena gue gak cerita apapun sama dia."


"Gue kan udah pernah bilang, lo harus jujur sama kak Indi. Katakan aja semuanya, dan cari solusi sama-sama." Dimas mencoba menasihati.


"Gue gak mau dia kepikiran Dim."


"Tapi lihat sekarang, gimana kak Indi tahu dengan sendirinya dan akhirnya kalian berantem kan?" tanya Dimas penasaran karena melihat Arya berantakan.


"Gue nyesel Dimas dan gue juga merasa bersalah banget sama Indi." Arya mengusap wajahnya kasar.


"Terus lo mau gimana? Kak Indi kalau marah gak tanggung-tanggung kan." Dimas mengingatkan Arya dengan sifat Indi yang tidak mau dibohongi sekecil apapun itu.


"Baru kali ini gue berantem sama Indi sampai kaya gini," gumam Arya menyesal.


Setelah bersiap-siap, Indi menuju rumah Mama yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Indi diantarkan oleh sopir yang biasa mengantar-jemput Evan dan Vania.


"Mama, di rumah gak?" Indi memanggil ibu mertuanya saat sampai di rumah.


"Kak Indi, tumben pagi-pagi gini?" tanya Arini yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya, kakak bosen di rumah. Kita pergi yuk jalan-jalan, shopping, ke salon," ajak Indi pada Arini.


"Waah asyik tuh, bentar kak Arin siap-siap dulu." Arini langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Dia ingin berlari tapi sadar dia sedang hamil muda.


"Indi, kamu gak kerja nak?" tanya Mama yang baru datang dari taman belakang.


"Engga Mah, Indi lagi pengen ajak mama dan Arini jalan-jalan," jawab Indi tersenyum.


"Kenapa nak Indi? Ada masalah sama Arya?" tanya Papa langsung, seperti mengetahui apa yang sedang dirasakan Indi.


"Engga kok Pah, gak ada masalah. Indi cuma pengen istirahat dari pekerjaan kantor," ucap Indi tersenyum getir.


"Kalau mau cerita, mama sama papa siap mendengarkan," kata Mama mendekat ke arah Indi yang sepertinya akan segera meledak tangisannya.

__ADS_1


"Engga Mah, biar Indi yang selesaikan semuanya sendiri dengan Arya," ucap Indi mantap. Mengusap air mata yang hendak turun ke pipi.


"Kalian pasti bisa menyelesaikannya dengan baik, kalau kamu gak bisa, biar Papa yang hukum tuh anak nakal satu," kata-kata Papa membuat Indi sedikit tertawa.


"Ada apa nih, kok serius banget?" tanya Arini yang sudah siap akan pergi.


"Gak pa-pa dek, udah siap?" tanya Indi tersenyum lagi.


"Siap dong, ayo Mah siap-siap." Arini meminta mama untuk bersiap-siap.


Mereka bertiga menuju ke pusat perbelanjaan untuk membeli apapun yang mereka mau dan mereka butuhkan. Baru kali ini Indi akan menghamburkan uang yang Arya kasih. Dia tidak tahu harus bagaimana melupakan rasa kecewanya pada suaminya itu. Dia tidak ingin lama-lama berantem dengan Arya, tapi rasa kecewa itu selalu mendesaknya.


"Tumben kak Indi kalap belanjanya?" tanya Arini bingung.


"Gak pa-pa dek, sekali-kali aja biarkan kakak kamu menikmati jerih payah suaminya," ucap Mama tersenyum.


"Dek, bantuin dong," pinta Indi yang membawa terlalu banyak kantong belanjaan.


"Pakai troly aja kak," usul Arini.


Setelah membawa semua belanjaan dengan troly, mereka bertiga menuju salon and spa untuk perawatan. Indi sedang menunggu giliran saat ada yang mendekatinya.


"Hai Indi, apa kabar?" tanya Calista, orang yang mendekati Indi.


"Hai, baik," jawab Indi singkat.


"Ngapain nanya Arya?" Indi bertanya ketus.


"Udah lama aku gak ketemu sama dia, aku baru pulang dari luar negeri soalnya," jawab Calista tidak tahu diri.


"Lebih baik gak ketemu selamanya aja," ujar Indi lalu masuk ke kamar perawatan karena sudah dipanggil.


"Sialan lo Indi, sombong banget lo ya. Awas lo nanti," batin Calista kesal.


Arya langsung meluncur ke pusat perbelanjaan bersama Dimas saat mendapatkan laporan dari David. David memberitahu bahwa Calista bertemu dengan Indi di salon and spa yang ada di pusat perbelanjaan. Dimas yang tahu Arini juga bersama Indi, langsung ikut menyusul.


"Dimana Indi?" tanya Arya ke David saat sampai.


"Masih di dalam salon Pak," jawab David.


"Calista juga ada di dalam?" tanya Arya lagi.


"Iya Pak."


"Sial, coba hubungi Arini Dim," pinta Arya.


"Kenapa gak lo yang hubungi kak Indi?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Telepon gue di reject terus sama Indi," jawab Arya terlihat frustasi.


"Lupa kalau lo lagi berantem," ejek Dimas, lalu sibuk menelepon Arini.


Arya tidak bisa menunggu lagi. Dia langsung masuk ke salon dan mencari keberadaan Indi.


"Kak Arya, ngapain di sini?" tanya Calista yang melihat Arya sedang celingukan.


"Diem lo, dan jangan deketin gue," kata Arya tegas.


"Tapi aku kan kangen sama kamu," ucap Calista dengan suara manja.


Dan pada saat itu, Indi serta Arini dan Mama keluar dari ruang perawatan. Indi melihat Calista memegang tangan Arya sambil berbicara dengan gaya manjanya.


"Menjijikkan," gumam Indi dan langsung keluar melewati Arya.


"Sayang tunggu," ucap Arya berusaha mengejar Indi.


"Mama sama Arin pulang sama Dimas ya, dia ada di depan." Arya langsung berlari mengejar Indi.


Indi berjalan dengan cepat tanpa tujuan. Air matanya sudah hendak jatuh saat ada tangan yang menariknya dan langsung memeluknya. Seketika itu air matanya luruh begitu saja tak bisa dibendung lagi.


"Please, percaya sama aku. Kamu lebih tahu aku dari pada siapapun," ucap Arya memeluk erat Indi. Tidak perduli dengan sekitar yang ramai melihat ke arah mereka berdua.


Indi tidak berbicara apapun. Dia menumpahkan semua tangisannya di dalam pelukan Arya. Selama beberapa menit Indi menangis dan membuat matanya bengkak.


"Maafin aku gak jujur dan gak cerita semuanya sama kamu. Aku janji gak akan gitu lagi." Arya berjanji untuk mendapatkan maaf dari Indi.


"Aku mau pulang," pinta Indi lirih setelah tangisnya sedikit mereda.


Arya langsung merangkul Indi dan menuntunnya ke luar pusat perbelanjaan. Dia mencium kening Indi sesaat lalu menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Selama perjalanan hanya ada kesunyian di dalam mobil. Arya masih menunggu Indi untuk berbicara dulu padanya.


"Maafin aku Ar, aku masih berat untuk bisa ngobrol seperti biasa sama kamu," ucap batin Indi sambil melirik ke arah Arya yang sedang fokus menyetir.


.


.


.


NOTE :


Hai dears mampir lagi ke karya temen aku ya. judul dan nama authornya bisa di ketik di pencarian.


Judul : Truely Madly Love


Author : Triple. 1

__ADS_1



__ADS_2