My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 22 : Go Publik


__ADS_3

Setelah menimbang dan memikirkan dengan matang, akhirnya Arya memutuskan untuk terbuka tentang hubungannya. Arya tidak mau Indi terus-terusan di bully.


Pagi ini Arya seperti biasa menjemput Indi untuk pergi bersama ke kantor. Arya menghentikan mobilnya di depan pintu kantor. Bukan seperti biasanya, di basement.


"Ar, kamu yakin?" Indi bertanya untuk terakhir kalinya. Indi sudah menyetujui Arya untuk terbuka tentang hubungan mereka. Indi juga sudah siap menerima konsekuensinya nanti. Tapi Indi tahu, Arya akan selalu ada di sampingnya.


"Aku yakin Ndi. Kamu siap kan?" Arya menatap mata Indi.


Indi mengangguk dan Arya langsung keluar mobil. Membukakan pintu mobil untuk Indi. Arya menggenggam erat tangan Indi. Indi menghela nafas dalam lalu melangkah mengikuti Arya. Semua mata melihat ke arah Arya dan Indi. Fokus pada tangan Arya yang menggenggam erat tangan Indi. Banyak yang berbisik-bisik melihat Arya dan Indi pagi ini.


"Wah Pak Boss pacaran ya sama Bu Indi."


"Cocok banget deh mereka."


"Gue mau dong jadi pacarnya Pak Boss."


"Bu Indi kerja jadi sekretaris karena pacarnya si Boss ya?"


"Mereka bisa kerja sambil pacaran dong."


"Wah enak banget ya."


"Tapi, lo tahu kan kalau Bu Indi itu janda dan punya anak 1. Kok Pak Arya mau ya?"


Telinga Indi serasa panas mendengar bisikan-bisikan itu. Arya mengeratkan genggamannya pada Indi. Indi tersenyum tenang.


"Wah wah wah, harus ada yang traktir makan nih," Dimas bertepuk tangan melihat kelakuan Arya dan Indi yang menggemparkan satu kantor.


Indi hanya tersenyum tipis, dan Arya melotot ke arah Dimas.


"Udah punya pacar juga, masih suka sewot gitu," Dimas menoel lengan Arya.


"Lo mau dipotong gaji ya Dim," Arya berkata dingin.


"Bahagia selalu Boss, biar suasana kantor gak suram," kata Dimas sambil tersenyum tulus.


"Hmmm," Arya tersenyum tertahan.


"Makasih ya Dimas," Indi mewakili Arya mengucapkan terima kasih. Arya melotot tajam ke arah Indi.


"Sudah jam kerja Boss, saya harus kerja," Indi berjalan menuju mejanya. Begitu juga Dimas. Arya tersenyum dan menuju ruangannya.


Pov Indira.


Walaupun sudah siap dengan segala konsekuensinya, tapi tetap saja hatinya sakit dan dadanya sesak mendengar kata-kata jelek dari para karyawan lain.


"Hufftt, harus kuat harus kuat. Gue pantas buat bahagia," Indi mencoba menguatkan diri sendiri.


"Cemungud ea kakak," Dimas meledek Indi ala anak alay.


"Isshh alay banget Lo," Indi melempar bolpoin ke arah Dimas.

__ADS_1


"Gak Lo, gak si Boss, sukanya lemparin gue pake bolpoin. Huft," Dimas merajuk.


"Muka lo pengen ditimpukin Dim, hahaha," Indi tertawa mengejek.


"Sial," Dimas pergi begitu saja meninggalkan Indi yang masih tertawa.


Tok..tok..tok.


Indi mengetuk pintu ruangan Arya.


"Masuk," terdengar suara dari dalam.


"Permisi Pak, ini dokumen yang harus Bapak periksa," kata Indi menyerahkan dokumen pada Arya.


"Terima kasih. Nanti siang makan bareng saya dan Dimas," Arya berkata tegas. Indi menyukasi saat Arya sedang dalam mode serius dan tegas seperti sekarang.


"Indi? Kamu dengar saya?" Arya bertanya lagi memastikan.


"Eh, iya Pak. Baik. Nanti saya pesankan tempat untuk makan siang," kata Indi tersadar dari lamunannya.


"Fokus kerja, jangan lihatin Bossnya aja," kata Arya tersenyum meledek.


"Baik Pak, saya permisi," Indi keluar ruangan sambil menggerutu. "Awas aja kalau sendirinya yang gak fokus," Indi berbicara pelan.


"Saya dengar Indi," Arya berbicara keras dan kemudian terkekeh saat Indi sudah keluar ruangan.


Indi pergi ke pantry untuk membuat teh. Sepanjang jalan, ada aja yang bisik-bisik ataupun secara terus terang memberikan dia selamat.


"Bu Indi, ditunggu undangan pernikahannya ya," kata Sinta bagian HRD.


"Bagi rahasianya dong Bu," kata Jessi bagian administrasi.


"Ishh rahasia apa sih?" Indi semakin malu.


"Huuu gitu aja bangga," ada juga bisikan seperti itu.


Indi sampai di pantry dan membuat teh untuk dirinya, serta kopi untuk Arya.


Tok..tok..tok.


"Masuk," Arya menjawab.


"Kopi buat Bapak," Indi meletakkan kopinya di atas meja.


"Terima kasih," Arya menjawab dengan tetap fokus pada layar komputernya.


"Permisi Pak," Indi keluar ruangan.


"Dasar Arya. Profesional sih profesional, tapi gak cuek juga kali," Indi menggerutu di mejanya.


"PMS Lo?" Dimas mendekat ke meja Indi.

__ADS_1


"Boss lo yang PMS," Indi mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha, profesional Indi," Dimas mengingatkan. "Udah pesan resto buat makan siang?" tanya Dimas.


"Ini aku mau pesan Dim. Mau makan apa?" tanya Indi.


"Seafood kali ya," Dimas membayangkan nikmatnya.


"Oke, siap," Indi langsung memesan resto seafood langganan.


Makan siangpun tiba. Arya dan Indi berjalan berdampingan. Dimas mengikuti di belakang.


"Gue ngajak Andin ya Ar, gue gak mau jadi obat nyamuk," kata Dimas protes. Andin, Kepala Bagian HRD.


"Terserah, bawa yang banyak juga boleh," Arya tersenyum sambil melihat ke arah Indi. Indi hanya geleng-geleng kepala.


Akhirnya Dimas membawa Andin, Sinta, Jessi, Mila dan juga Ardi. Mereka satu mobil, sedangkan Arya dan Indi berduaan di mobil sendiri.


Sampainya di resto, Arya sedikit terkejut. Ternyata Dimas benar-benar membawa banyak orang.


"Beneran lo bawa banyak pasukan," Arya berkata santai.


"Gue gak mau jadi obat nyamuk," Dimas membela diri.


Arya hanya tersenyum tipis. Indi terkekeh, merasa kasihan dengan Dimas yang masih jomblo.


"Selamat ya buat kalian berdua," Ardi menghampiri dan memberikan selamat. "Gue keduluan, hahaha," Ardi tertawa bercanda.


Arya melirik tajam pada Ardi, Indi mengusap lengan Arya.


Makan siangnya berlalu dengan candaan dari para karyawan Arya, yang memang sudah lama ikut dengan Arya. Dan baru kali ini melihat Bossnya dengan perilaku yang berbeda. Biasanya dingin dan terkesan kejam, tapi dengan Indi dia bisa sabar dan manja. Yang pasti jadi banyak tersenyum.


"Pak Arya kalau dari dulu suka senyum gitu, mungkin saya bakalan suka sama Bapak," kata Jessi, anak yang paling muda diantara mereka yang disitu.


Arya hanya menatap Jessi, Indi tersenyum mendengar celoteh Jessi.


"Maaf Pak, Jessi cuma bercanda. Jessi ngehalu aja, jangan marah Pak. Ampun," Jessi langsung gugup hanya karena ditatap oleh Arya. Semuanya langsung tertawa melihat tingkah Jessi, kecuali Arya masih harus terlihat cool di depan karyawannya.


Indi sadar, dia telah mengambil keputusan yang benar. Tidak semua orang benci terhadap hubungannya dengan Arya. Tidak semua orang membencinya karena dekat dengan Arya. Masih ada yang mendukung dan turut berbahagia atas dirinya dan Arya.


"Kamu kenapa?" tanya Arya, menyadari Indi diam saja.


"Gak papa, aku seneng hari ini," Indi tersenyum tulus.


"Aku bahagia kalau kamu bahagia," kata Arya sedikit berbisik. Tapi tetap saja terdengar oleh yang lain.


"Ehemm, serasa dunia milik berdua," sindir Dimas.


"Kita mah cuma ngontrak," Andin menimpali.


"Kalian mau gajinya saya potong," Arya berbicara dingin.

__ADS_1


"Ampun Pak," semuanya merengek.


Arya dan Indi langsung tersenyum menahan tawa.


__ADS_2