
"Selamat malam," sapa tamu yang datang ke rumah Indi.
Arya dan Indi tidak mengira akan kedatangan tamu di saat makan malam.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Arya sedikit kesal karena terganggu makannya.
"Berkunjung, gue baru pulang dari luar negeri dan inget kalian," kata tamu tersebut.
"Kita bicara di ruang tamu aja. Ayo Angel," ajak Arya pada tamu yang ternyata adalah Angel. Mantan karyawan Arya yang dulu berantem hebat dengan Indi.
Indi hanya melihat sekilas ke arah Angel dan Arya yang menuju ruang tamu.
"Siapa Mah?" tanya Evan penasaran.
"Mantan karyawan Papa," jawab Indi singkat.
"Selingkuhan Papa?" tanya Evan lagi.
"Jangan ngawur kamu," ucap Indi keras.
"Terus kenapa muka Mama begitu," cecar Evan.
"Nanti Mama ceritain, kalian selesaikan makannya terus masuk kamar. Mama mau nyusul Papa dulu."
Evan dan Vania saling lihat satu sama lain. Mereka berdua penasaran dengan apa yang terjadi.
"Habisin dulu dek, terus masuk ke kamar Vano. Nanti kakak yang cari tahu," kata Evan.
Vania mengangguk dan melanjutkan makannya. Vano tidak mengerti dan belum paham dengan apa yang terjadi, jadi dia tetap makan dengan tenang.
Selesai makan, Vania membawa Vano masuk ke kamarnya. Dan Evan menuju ke ruang tamu untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Apa kabar kalian?" tanya Angel pada Indi dan Arya.
"Mau apa kamu? Kita gak ada urusan sama kamu," kata Arya mencoba setenang mungkin.
"Gue cuma tanya kabar, dan sepertinya gue utang maaf sama Indi," kata Angel melihat ke arah Indi.
"Gak ada niat lain?" tanya Arya masih waspada.
Indi masih diam sambil melihat situasinya. Arya tetap menghormati ayah Angel, tetapi tidak pernah melupakan apa yang telah Angel lakukan pada Indi.
"Gue mau undang kalian ke acara pernikahan gue," kata Angel sambil memberikan kertas undangan.
"Sepertinya aku dan Indi tamu istimewa sampai-sampai kamu memberikannya sendiri," sindir Arya.
"Gue dateng ke sini baik-baik, dan daritadi lo gak nerima gue," kata Angel sedikit teriak.
"Gimana gue harus bersikap baik sama lo sejak kejadian itu." Arya ikut tersulut tetapi Indi langsung menghentikannya.
"Maafin gue Ndi, gue bener-bener minta maaf. Dulu mungkin gue belum dewasa," ucap Angel. Terlihat ada ketulusan di setiap ucapannya.
"Pergilah, kita akan datang ke acara pernikahanmu. Untuk menghormati ayahmu," kata Arya.
"Ndi, bisakah lo maafin gue dulu?" tanya Angel.
__ADS_1
"Yang lalu biarlah berlalu, aku udah sedikit lupa tentang dulu karena keadaanku sekarang," kata Indi akhirnya bersuara.
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang," pinta Arya.
"Oke, terima kasih udah mau dateng ke pernikahan gue. Dan sekali lagi gue minta maaf," ucap Angel lalu beranjak keluar rumah Indi dan Arya.
Seperginya Angel, Arya langsung memeluk erat Indi. Terlintas sedikit saat kejadian dulu. Indi mencoba kuat tetapi air matanya tidak bisa dibendung. Evan yang sedari tadi mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka, langsung terlihat kesal karena melihat ibunya menangis.
"Sudah sayang, sekarang kamu bahagia. Kita bahagia," kata Arya menenangkan Indi.
Indi memeluk erat Arya untuk menyalurkan keberanian pada dirinya sendiri. Sudah banyak yang ia lewati dan ada anak-anak yang harus dia jaga. Indi menghembuskan nafas dalam lalu melepas pelukan Arya dan tersenyum.
"Aku akan baik-baik aja, kita akan baik-baik aja," kata Indi seperti merapalkan mantra.
"Aku dan anak-anak akan selalu ada buat kamu," ucap Arya mencium punggung tangan Indi.
"Aku utang cerita sama Evan, dia udah bukan anak-anak lagi," kata Indi tersenyum.
"Apa dia tanya?"
"Dia nebak, Angel selingkuhan kamu," kata Indi menahan tawa.
"Wah, minta dipotong uang jajan nih," ucap Arya kesal dibuat-buat.
"Padahal kamu bucin banget ya sama aku," ejek Indi.
"Wah, ini juga minta dikasih pelajaran nih." Arya langsung menciumi Indi sampai Indi teriak kegelian. Evan langsung beranjak melihat ibunya sudah bisa tertawa lagi.
Esoknya di sekolah Evan.
"Van temenin gue beli buku yuk, nanti sepulang sekolah," ajak seorang siswi pada Evan yang sedang duduk di bawah pohon di taman sekolah.
"Please, kali ini aja," rengek siswi tersebut.
"Pergi," usir Evan dingin.
Tanpa dua kali minta siswi tersebut langsung pergi sambil menggerutu. Di sekolah, Evan menjadi anak yang populer di kalangan murid yang lain dan juga guru. Selain pintar dan berprestasi, Evan mempunyai wajah yang tampan dan postur tubuh yang bagus. Banyak siswi yang berebut ingin mengajaknya kencan.
"Woi," sapa seorang siswi jika didengar dari suaranya.
Evan langsung menoleh karena baru kali ini ada yang memanggilnya begitu.
"Lo budeg?" tanya siswi itu.
"Maksud lo?" Evan sedikit tersinggung dengan kata-katanya.
"Gue dari tadi di sini nyerocos sama lo, dan lo gak respon gue," ucap siswi itu.
"Lo buta? Nih gue lagi pakai ini," kata Evan menunjukan earbud pada siswi itu.
"Ah udah terserah, lo dipanggil Bu Janet tuh di perpustakaan," kata siswi tersebut dan langsung pergi meninggalkan Evan.
Evan baru melihat ada siswi seperti dia. Walaupun dia tidak suka menyombongkan diri, tetapi kebanyakan siswi di sekolahnya akan memperlakukan Evan dengan baik.
"Bodo ah, siapa juga yang pengen kenalan sama dia," kata Evan pada diri sendiri.
__ADS_1
"Sayang, makan siang dulu yuk," ajak Indi pada Arya saat jam makan siang di kantor.
"Sebentar sayang." Arya menyelesaikan sedikit kerjaan.
Indi dan Arya akan pergi ke kantin untuk makan siang. Karena mereka tidak mau menghabiskan waktu di jalan dengan bermacet-macetan.
"Gue ikut ke kantin," kata Dimas mengikuti.
"Kak Arya...," belum selesai ngomong Arini langsung diam melihat ada Dimas di sana.
"Gue duluan," pamit Dimas langsung pergi.
Indi dan Arya langsung saling berpandangan.
"Kenapa dek?" tanya Arya.
"Nanti aja deh di rumah," kata Arini lalu pergi juga.
"Ada apa sama mereka?" tanya Indi.
"Nanti juga tahu, ayo kita makan dulu," ajak Arya menggandeng tangan Indi.
Arya sebenarnya begitu khawatir dengan Arini. Bagaimanapun dia adalah adiknya satu-satunya. Tapi dia juga harus memberikan privasi pada Arini. Kalau sudah dimintai tolong, baru dia akan bertindak sebagaimana mestinya.
"Menurut kamu apa yang terjadi sama Arini dan Dimas?" tanya Indi sambil menyantap makan siangnya.
"Mungkin mereka butuh waktu sendiri-sendiri," jawab Arya bijak.
Indi hanya manggut-manggut sambil menyelesaikan suapan terakhirnya. Arya sedang menyeruput kopinya saat Jessi datang dengan berlari.
"Pak Arya, itu...," ucapan Jessi terputus karena nafasnya terengah-engah.
"Ada apa Jess?" tanya Indi.
"Kak Arin sama Pak Dimas di pantry...," belum selesai ngomong Arya langsung berlari menuju pantry. Indi dan Jessi mengikutinya sambil ikut berlari.
Sampai di pantry, sudah banyak orang yang berkerubung tetapi pintu tertutup. Hanya bisa terdengar suara orang ribut di dalam.
"Apa yang terjadi?" tanya Arya.
Belum sempat ada yang menjawab, dari dalam pantry ada suara benda jatuh dengan keras. Semua orang langsung melihat ke arah pintu.
"Arin, buka pintunya, Dimas," teriak Arya sambil menggedor pintu.
"Tolong minta kunci cadangan sama Pak Jerry bagian keamanan," kata Arya pada siapapun yang ada di situ.
"Gimana?" tanya Indi yang baru sampai.
"Arin, buka pintunya," teriak Arya lagi.
Masih belum ada jawaban dari dalam pantry. Di dalam juga sepertinya sudah lebih tenang.
"Arin, Dimas," teriak Arya lagi masih mencoba memanggil sambil menggedor pintu.
Tidak lama pintu terbuka dan muncul Dimas sambil menggendong Arini ala bridal style.
__ADS_1
"Kenapa Arin?" tanya Arya sedikit panik.
Dimas tidak menjawab, hanya berlalu meninggalkan Arya, Indi dan semua orang.