My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 60 : Bahagia Bersama


__ADS_3

Dimas menunggu di depan wahana kora-kora agar bisa berbicara dengan Arini. Arini pun terus melihat ke arah Dimas saat permainan berlangsung.


"Selesaikan baik-baik tante," teriak Evan yang duduk di samping Arini.


Arini menatap ke arah Evan dan tersenyum mengangguk.


Permainan selesai, Arini dan Evan turun dari wahana kora-kora langsung disambut oleh Dimas.


"Arin, aku mau ngomong sesuatu," kata Dimas langsung buka suara.


"Evan ke tempat Vania dan Vano dulu Tante," pamit Evan lalu pergi tanpa mendengar jawaban Arini.


"Tunggu Van." Arini hendak kabur tapi tangannya dipegang oleh Dimas.


"Please jangan lari lagi," mohon Dimas pada Arini.


Menatap mata Dimas yang tulus dan seperti tertekan, membuat Arini merasa sedih. Arini berjongkok dan menutup wajahnya lalu menangis.


"Maaf, maafin aku Dim," ucap Arini disela tangisannya.


Dimas langsung ikut berjongkok dan memeluk Arini. Mendengar orang yang disayangi menangis, membuatnya sakit dan ikut merasa sesak.


"Jangan nangis Rin, setahu aku, kamu bukan wanita cengeng. Malu sama ponakan-ponakan kamu," kata Dimas mencoba mencairkan suasana.


"Aku cengeng juga gara-gara kamu," ucap Arini sambil memukul-mukul bahu Dimas.


Dimas membiarkan Arini memukulinya sampai puas.


"Maafin aku kalau selama ini perjuanganku kurang buat kamu Rin," kata Dimas mulai serius, "Aku akan terus meminta kamu untuk jadi istriku, karena cuma kamu yang aku mau. Walau harus nunggu sepuluh tahun lagi."


"Udah tua dong sepuluh tahun lagi," ucap Arini sedikit tersenyum.


"Sekarang aja aku udah tua, makanya ayo kita nikah Rin," ajakan Dimas membuat Arini tersenyum lebar.


"Apa aku harus nikah sama pria tua?" tanya Arini menahan tawanya.


"Itu takdir kamu, karena terus menolak saat aku masih muda dulu."


Kata-kata Dimas berhasil membuat Arini tertawa lepas. Dengan suara Dimas yang dibuat-buat serta kata-kata yang mungkin bukan gaya Dimas di dalam pikiran Arini.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Dimas bingung.


"Kamu ngomong kaya tadi, seakan itu bukan kamu," jawab Arini.


"Arini, ayo kita sama-sama belajar untuk bisa berumah tangga bersama," kata Dimas membuat Arini langsung terdiam.


"Apa kamu yakin sama aku Dim?" tanya Arini.


"Aku yakin sama kamu Rin. Kalau kamu gak yakin, aku akan terus yakinin kamu."


"Aku bukan seperti wanita pada umumnya yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah, aku gak bisa hal itu."

__ADS_1


"Yang penting kamu bisa satu hal," ucap Dimas sambil mengerling.


"Apa itu?"


Dimas membisikkan sesuatu di telinga Arini dan langsung membuat Arini malu serta kesal.


"Dasar mes*m kamu," ucap Arini sambil memukul Dimas. Dimas hanya tertawa melihat wajah Arini memerah.


"Mau ya nikah sama aku?" tanya Dimas dengan serius.


Lama Arini berpikir dan menimbang banyak hal. Semua orang yang melihat kejadian itu ikut menunggu jawaban dari Arini.


"Iya," jawab Arini lirih.


"Apa, aku gak denger," kata Dimas mencoba menajamkan telinganya.


"Iya, aku mau nikah sama kamu," kata Arini sedikit lebih keras.


"Kurang keras, aku gak denger," ledek Dimas.


"IYA aku mau nikah sama kamu," teriak Arini dan berhasil membuat Dimas tertawa bahagia.


Semua orang yang menyaksikan langsung bertepuk tangan dan memberikan selamat. Indi dan Arya langsung berpelukan melihat Arini dan Dimas akhirnya bersatu. Evan tersenyum senang sambil menjaga adik-adiknya bermain.


"Yeaayy, makasih sayang," ucap Dimas sambil mengangkat tubuh Arini dan memutarnya.


"Stop Dimas, malu dilihatin," kata Arini menutupi wajahnya sambil tersenyum malu.


"Akhirnya, selesai juga masalah kalian," ucap Arya senang.


"Selamat ya Rin, aku siap bantu untuk persiapan nikahnya," kata Indi tersenyum.


"Makasih Kak Arya, Kak Indi, maafin Arin kalau selalu ngerepotin dan bikin masalah," kata Arini lalu memeluk kedua kakaknya.


"Belajarlah lebih dewasa lagi, karena kamu udah mau jadi seorang istri," nasehat Arya untuk adiknya.


"Iya Kak." Arini mengangguk mantap.


"Yeeaayy akhirnya Tante Arin mau menikah," kata Vania ikut senang.


"Yeeaayy." Vano ikut jingkrak-jingkrak kegirangan.


Semua orang langsung tertawa melihat tingkah laku Vano.


"Jangan sakiti tante Arin, kalau Evan tahu tante nangis, Evan yang bakalan kasih Om pelajaran," ancam Evan pada Dimas.


"Selama ini Arini udah punya bodyguard ternyata," sindir Dimas tersenyum.


"Iya dong, Evan kan kesayangan aku," kata Arini merangkul Evan.


"Vania juga dong Tante," protes Vania.

__ADS_1


"Iya iya, Vania juga Vano. Semuanya kesayangan Tante," kata Arini memeluk ketiga ponakannya.


Sisa hari itu, mereka gunakan untuk bermain dan menaiki wahana yang ekstrem pilihan Evan dan Arini. Dimas menjadi korban yang harus mau mengikuti mereka berdua.


"Mah, Pah Arini mau bicara penting," kata Arini saat makan malam di rumah Indi.


"Kenapa Dek?" tanya Papa.


"Arini mau nikah sama Dimas," ucap Arini gugup.


"Udah sadar ternyata?" tanya Mama tersenyum.


"Emang Arini pingsan Mah?" ledek Indi.


Semua orang tertawa dan membuat Arini tersenyum malu.


"Kapan Dimas dan keluarganya mau kesini?" tanya Papa lagi.


"Besok Pah," jawab Arini yang langsung membuat Mama tersedak makanan.


"Minum dulu Mah," ucap Arya memberikan minuman pada Mama.


"Kenapa dadakan, Mama kan belum siapin apa-apa Dek," omel Mama pada Arini.


"Gak pa-pa Mah, besok Indi dan Evan bantuin," kata Indi menatap Evan yang sedari tadi hanya mendengarkan.


"Iya Nek, Evan pulang gasik besok," ucap Evan menenangkan Neneknya.


"Vania juga akan bantu Nenek." Vania tidak mau ketinggalan.


Mereka meneruskan makan malam dan berlanjut merencanakan acara untuk besok. Indi dan Mama membahas soal masakan apa saja yang akan dihidangkan. Arya, Papa serta Evan berdiskusi tentang inti acaranya nanti bagaimana. Arini menjaga Vania dan Vano dengan santai. Dia sebenarnya gugup dan juga senang hari itu akan datang juga. Dia mencoba menyembunyikan perasaan gugupnya.


Kedatangan Dimas dan keluarganya disambut dengan hangat oleh keluarga Arini. Dimas membawa kedua orang tuanya dan beberapa saudaranya. Tidak begitu banyak orang karena Arini yang memintanya. Hanya keluarga inti saja yang penting.


"Pak Wijaya, saya di sini mau melamar putri Bapak, Arini, untuk anak saya Dimas. Bagaimana menurut Bapak?" tanya Bapak Gito, ayah Dimas.


"Saya sebagai orang tua terserah bagaimana anak-anak Pak, mereka yang akan menjalani. Gimana Arini?" tanya Papa pada Arini.


Semua mata tertuju pada Arini, dan Arini hanya mengangguk tanda setuju. Dimas langsung tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


Setelah memasangkan cincin di jari Arini, mereka membahas tentang tanggal pernikahan. Yang akan diadakan satu bulan kedepan.


"Aku udah gak sabar Rin," bisik Dimas di telinga Arini.


"Sabar, satu bulan lagi," jawab Arini santai, padahal dia sendiri gugup dan tidak sabar juga merasakan yang namanya pernikahan.


"Jangan lupa nanti dipingit biar lancar pernikahannya," bisik Arya meledek.


"Jangan dong Ar, gue kan baru baikan sama Arini," rengek Dimas.


"Gak ada debat," kata Arya sambil berlalu meninggalkan Arini dan Dimas.

__ADS_1


"Kakak ipar yang jahat," gerutu Dimas.


__ADS_2