My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 86 : Kehidupan Baru


__ADS_3

Setelah sembuh total dan tidak ada keluhan lain, akhirnya Jacelyn diperbolehkan pulang. Dia dibawa oleh Dion ke rumahnya yang berada di luar kota.


"Makasih Om, udah mau nolong aku," kata Jacelyn berterima kasih dengan tulus.


"Om sudah anggap kamu seperti anak om sendiri. Om belum tahu nama kamu cantik." Dion menanyakan nama Jacelyn.


Jacelyn berpikir sejenak lalu memikirkan nama yang pas untuk mengganti nama Jacelyn. Dia tidak mau ada yang tahu dirinya masih hidup. Walaupun dalam hati kecilnya dia sangat merindukan satu sosok laki-laki yang selama ini di sampingnya.


"Kanaya, Om. Namaku Kanaya," jawab Jacelyn tersenyum.


"Nama yang bagus sayang. Untuk sementara kita tinggal di luar kota saja ya. Kalau kamu sudah siap kembali ke kehidupan kamu sebelumnya, Om akan bawa kamu lagi," ucap Dion dengan tulus.


"Iya Om, makasih banyak."


Jacelyn begitu bersyukur bisa bertemu dengan Dion. Dia bisa lepas dari Calista dan menjalani hidup dengan tenang. Tetapi suatu saat nanti dia akan kembali untuk bertemu dengan orang-orang yang menerimanya dengan senang hati.


Di sisi lain, Evan selalu termenung saat sedang berada di sekolah. Dia menjadi lebih pendiam dan dingin daripada sebelumnya.


"Gara-gara cewek sialan itu, Evan jadi seperti sekarang," gumam Maria yang melihat Evan dari jauh.


"Iya Mar, jadi lebih dingin sekarang," ucap teman Maria.


"Tapi gak pa-pa, biar gue yang usaha lagi buat dapetin hatinya Evan. Kali ini gue harus berhasil," kata Maria bersemangat.


Evan menghela nafas dalam dan membuyarkan lamunannya sendiri. Dia tidak mau terus memikirkan orang yang tidak memikirkan dirinya. Bagaimana bisa Jacelyn meninggalkan semuanya tanpa pamit atau kabar sekalipun. Evan harus menghilangkan Jacelyn dari pikirannya.


"Hai Maria," sapa Evan sambil tersenyum saat berjalan melewati Maria dan temannya.


Maria langsung tersihir karena baru pertama kali dia disapa oleh Evan dengan senyuman pula.


"Gue gak mimpi kan?" tanya Maria pada temannya.


"Enggak Mar, Evan nyapa lo," ucap temannya dengan senang.


"Gue gak lagi dikerjain kan?" tanya Maria lagi masih belum percaya.


"Enggak Mar, Evan beneran nyapa lo tadi," temannya terus meyakinkan Maria.


"Evan," panggil Maria langsung menyusul Evan.


Maria berjalan bersebelahan dengan Evan tanpa bantahan dari Evan. Semua anak yang melihatnya langsung kaget dan tidak percaya dengan pemandangan tersebut.


Evan tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang. Dia hanya ingin menghilangkan dan melupakan seseorang yang telah meninggalkannya. Walaupun dalam hati kecilnya dia tidak bisa melupakan orang itu.


"Sayang, apa tidak ada kabar dari pencarian Jacelyn?" tanya Indi pada Arya saat di kantor.


Indi sudah mulai bekerja lagi menjadi sekretaris Arya. Dimas selalu merengek karena pekerjaannya yang banyak kalau Indi tidak berangkat kerja.

__ADS_1


"Belum ada sayang, Calista juga gak tahu dimana Jacelyn berada," ucap Arya memijit pelipisnya.


"Aku merasa ikut sedih kalau melihat Evan selalu melamun dan diam saja beberapa hari ini. Jacelyn adalah teman pertamanya." Indi menerawang mengingat anak sulungnya yang menjadi lebih pendiam karena masalah ini.


"Nanti lama-lama juga terbiasa, dia anak cowok harus lebih kuat." Arya mencoba membuat Indi tenang.


"Besok aku mau ajak anak-anak ke taman bermain ya, Evan kan suka naik semua wahana di sana. Sebelum Evan ujian, aku mau anak itu kembali lagi seperti dulu."


"Iya, ajak aja Arini sekalian. Walaupun dia gak bisa naik wahana apapun, dia pasti suka diajak jalan-jalan," saran Arya.


"Oke, aku telepon Arini dulu."


Indi bergegas kembali ke ruangannya, tapi dia tidak lupa mengecup sekilas bibir Arya yang sedang duduk di kursinya. Arya hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya sekaligus sekretarisnya itu.


"I love you," teriak Arya yang hanya dibalas dengan senyuman terpancar di wajah Indi.


Indi selalu merasa bersyukur menjadi istri seorang Arya Wijaya. Walaupun banyak rintangan dan omongan orang yang tidak enak didengar, namun Indi telah melewati itu semua.


.


.


"Selamat malam semuanya," sapa Evan ceria saat makan malam keluarga.


"Kesambet kak?" tanya Vania bingung.


"Makan apa hari ini Mah?" tanya Evan dengan senyuman terpancar di wajahnya.


"Masak makanan kesukaan kalian bertiga, sayang," jawab Indi masih bingung dengan kelakuan Evan.


"Waahh enak nih." Evan menatap semua makanan di meja dengan mata berbinar.


"Kamu baik-baik aja boy?" tanya Arya yang juga merasa heran dengan Evan.


Beberapa hari lalu Evan seakan kurang semangat menjalani hari. Tidak banyak bicara, suka melamun dan mengurung diri di kamar. Tapi hari ini dia kembali ceria seperti Evan yang dulu.


"Evan baik-baik aja Pah. Evan harus menatap masa depan. Bentar lagi Evan mau ujian, Evan gak mau ngecewain mama dan papa," ucap Evan tersenyum tulus.


"Wuiihh sok keren kakak," ledek Vania.


"Aku suka kak Evan," celoteh Vano, membuat semua orang tertawa.


"Oke, sekarang makan dulu nanti mama mau kasih surprise untuk kalian," ucap Indi mengakhiri obrolan.


"Jadi penasaran Mah," gumam Vania lalu mengambil makanannya.


Indi senang mengetahui bahwa Evan sudah bisa menghadapi perasaannya sendiri. Menata kembali dirinya sendiri. Tidak terus terpuruk dengan permasalahan yang belum bisa diselesaikan itu.

__ADS_1


Setelah makan malam, Indi mengumumkan bahwa besok akan mengajak semuanya ke taman bermain. Karena hari libur, semuanya akan ikut serta dan bermain sepuasnya.


"Yeaaayy taman bermain," sorak Vania senang sambil loncat-loncat.


Vano selalu mengikuti apapun yang Vania lakukan. Dia juga loncat kegirangan sambil terus bersorak.


"Evan ajak teman boleh Mah?" tanya Evan tiba-tiba.


Indi dan Arya saling menatap mendengar Evan berbicara seperti itu.


"Siapa?" tanya Arya dengan tenang.


"Teman sekolah Pah, Maria. Satu kelas sama Evan di sekolah," ucap Evan membuat Indi dan Arya saling menatap lagi.


"Boleh sayang, semakin rame semakin asyik." Indi mencoba menjawabnya dengan senang hati.


"Waahh kak Evan udah ada yang baru," ledek Vania.


"Dian kamu bocil." Evan langsung mendekat ke arah Vania dan menggelitiki perut Vania.


Inilah jalan yang Evan pilih. Menjalani hari-hari ke depan dengan tanpa beban dan pikiran apapun. Memilih untuk meneruskan hidupnya daripada menunggu hal yang tak pasti.


"Aku ingin menemui kamu tapi aku takut. Aku telah membuatmu menunggu tanpa kabar dan kejelasan. Aku telah menyakitimu tanpa aku sadari. Evan, aku kangen kamu."


"Jacelyn," teriak Evan dengan nafas terengah-engah.


"Mimpi lagi, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu Jace," batin Evan bertanya-tanya.


Evan menenangkan dirinya dengan mencuci wajahnya di kamar mandi. Dia tidak akan larut lagi dalam pikirannya sendiri.


"Semoga kamu baik-baik aja di manapun kamu berada."


.


.


NOTE :


rekomendasi novel karya teman author nih dears. ketik judul atau nama authornya di pencarian.


Judul : Aku di antara Mereka


Author : Asyfa


DIA TIDAK PERNAH MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DALAM PERNIKAHANNYA KARENA SIKAP ISTRINYA. TAPI DIA MALAH BERTEMU DENGAN SOSOK WANITA LAIN YANG MAMPU MEMBAWANYA LEBIH NYAMAN, APAKAH YANG HARUS DIA LAKUKAN? MEMILIH SETIA DALAM PERNIKAHAN NERAKA ATAU MENDUA UNTUK MENGGAPAI SURGA?


Reyhan rela menikah dengan istrinya yang kejam demi membayar hutang sang ayah. Namun, pernikahan Reyhan tidaklah seperti pernikahan pada umumnya. Belasan tahun menikah dikaruniai dua orang anak, tapi tak pernah sekalipun dia menyentuh istrinya. Sejak bertemu Hanna kehidupan Reyhan mulai berubah. Bagaimana nasib pernikahannya dengan istri kejamnya? Ataukah dia lebih memilih Hanna sebagian teman dalam hidupnya? Lalu anak siapakah keduanya?

__ADS_1



__ADS_2