My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 39 : Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan Arya dan Indi tinggal menghitung hari. Semuanya sudah dipersiapkan oleh Mama Arya dan juga Arini. Indi hanya harus melakukan fitting baju pengantin bersama Arya. Sepulang dari liburan, Indi dan Arya langsung melakukan fitting. Indi akan memakai gaun modern dengan desain yang simpel, tetapi elegan. Tidak hanya Indi yang merasakan kebahagiaan, begitu juga dengan Evan. Selama ini dia ingin mempunyai Papa lagi, hanya saja dia belum menemukan yang pas. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Arya.


"Ar, setelah fitting boleh 'gak aku ke makam mantan suamiku?" tanya Indi ragu.


Arya langsung mendekat dan memeluk Indi.


"Boleh sayang, sekalian aku juga mau minta ijin," kata Arya tersenyum.


"Makasih ya," ucap Indi, lalu mencium bibir Arya sekilas.


Mereka berdua menyelesaikan fitting baju pengantin, dan tidak lupa memotretnya untuk diperlihatkan pada Mamanya. Karena Mama tidak bisa menemani mereka.


Setelah perjalanan selama 30 menit, akhirnya Indi dan Arya sampai di pemakaman umum tempat mantan suami Indi dimakamkan.


Indi meletakkan rangkaian bunga yang tadi dia beli di jalan.


"Mas, aku dateng. Aku ke sini sama calon suamiku. Semoga dia bisa jadi yang terbaik buatku dan Evan. Walaupun dia lebih muda dariku tapi dia bisa menjagaku. Mas, terima kasih, yang tenang ya," kata Indi dalam hati dan disertai doa untuk almarhum.


"Ngadu apa kamu?" tanya Arya penasaran.


"Gak ngadu Ar, bicara jujur," jawab Indi tersenyum.


Arya menggenggam tangan Indi dan mendekat ke pusara Adam.


"Hai, Mas Adam. Aku Arya, calon suami Indi. Semoga Mas tenang di sana ya, Indi dan Evan biar saya yang jaga. Saya juga mau minta restu, dan terima kasih telah menjadi suami yang baik selama Mas hidup," kata Arya, lalu menatap Indi.


Tanpa terasa air mata Indi menetes. Arya mengusap air mata Indi dengan lembut. Setelah menguntaikan doa untuk almarhum, Indi dan Arya pulang ke rumah.


"Mama," teriak Evan saat Indi sampai di rumah Arya. Mama Arya meminta Indi dan Evan untuk menginap, karena mereka harus banyak membicarakan tentang persiapan pernikahan.


"Hai sayang, lagi ngapain?" tanya Indi memeluk Evan.


"Main game sama tante Arini, Mah," jawab Evan. Sekarang Evan memanggil Arini dengan sebutan Tante, sebenarnya Arini kurang menyukainya, tapi itulah yang seharusnya.


"Ya udah lanjut dulu ya sama tante Arin, Mama mau ngobrol dulu sama Nenek," kata Indi pada Evan.

__ADS_1


Evan langsung lari lagi menuju Arini.


"Gimana tadi?" tanya Mama Arya.


"Udah beres Mah," jawab Arya. "Persiapan udah sampai mana Mah?" tanya Arya.


"Udah selesai Ar, tinggal dicek lagi aja," kata Mama.


"Makasih ya Mah," ucap Arya lalu memeluk Mamanya.


Tidak terasa dua hari lagi akan jadi hari yang bersejarah bagi Indi dan Arya. Indi tidak ingin pernikahan yang mewah, hanya keluarga dan teman-teman saja yang akan dia undang. Sedangkan Arya akan mengundang sebagian rekan bisnisnya yang penting. Tidak pernah terlintas di benak Indi, hari itu akan datang. Karena dulu yang terpenting adalah dia bisa membesarkan Evan denga baik walaupun seorang diri.


"Lagi mikirin apa?" tanya Arya, melihat Indi melamun.


"Aku 'gak nyangka akan menikah lagi," kata Indi berkaca-kaca.


"Kamu masih pantas buat menikah lagi sayang," kata Arya mengusap lengan Indi.


"Bukan gitu Ar, dulu aku 'gak pernah punya pikiran ke sana. Yang terpenting aku bisa menghidupi Evan, walaupun aku sendiri," kata Indi, dan air mata lolos ke pipinya.


"Sekarang aku yang akan menghidupi kalian, aku yang akan jaga kamu dan Evan," kata Arya, memeluk Indi.


"Mah," panggil Evan dengan mata yang mengantuk.


Indi melepaskan pelukannya pada Arya.


"Sayang mau tidur?" tanya Indi pada Evan.


Evan hanya mengangguk. Lalu dengan sigap Arya menggendong Evan dan membawanya ke kamarnya. Indi mengikuti di belakang mereka. Indi tidur dengan Evan satu kamar, karena tidak mungkin di rumah Arya dia berani untuk tidur bersama Arya. Walaupun mereka tidak akan melakukan hal lain. Tetapi Indi ingin berlaku sopan.


"Kamu juga harus istirahat Ar, besok masih harus mengecek persiapan terakhir kan?" kata Indi pada Arya.


"Iya sayang, bentar aja masih pengen sama kamu," kata Arya manja.


"Besok juga masih harus kerja kan?" tanya Indi lagi.

__ADS_1


Arya masih saja bekerja walaupun pernikahannya tinggal dua hari lagi. Sedangkan Indi sudah mengambil cuti dari waktu pulang liburan.


"Ya udah, aku tidur ya sayang. Kamu juga," kata Arya akhirnya. Dia mengecup kening Indi lalu keluar kamar Evan.


Paginya, Indi dan Mama Arya mengecek kembali persiapan untuk besok. Taman belakang rumah keluarga Arya disulap menjadi tempat pelaminan yang indah. Kursi-kursi di tata rapi, dan banyak bunga-bunga disusun dengan rapi.


"Mah, ini bagus banget," kata Indi pada Mama Arya. Indi memanggil dengan sebutan Mama juga, itu karena permintaan dari Arya.


"Ini tidak seberapa Nak, karena kamu tidak mau yang terlalu megah," kata Mama tersenyum.


"Ini udah cukup buatku, Mah. Aku udah 'gak pantas menikah dengan megah, hehe," kata Indi terkekeh.


"Siapa yang tahu kamu udah punya anak kalau badan kamu aja masih bagus begini Ndi," kata Mama meledek.


"Kalau aku 'gak begini mana Arya mau Mah," kata Indi, membuat mereka berdua tertawa.


"Siapa bilang aku 'gak mau," kata Arya, tiba-tiba datang dan mendengar ucapan Indi.


"Tadi aku yang bilang," kata Indi santai.


"Memangnya aku mau sama kmu karena penampilan kamu aja? Kalau milih penampilan, Angel lebih seksi ya," kata Arya membuat Indi merasa sedikit marah.


"Oh gitu, jadi kamu lebih milih Angel," kata Indi kesal.


"Kamu yang bilang kalau aku cuma lihat penampilan saja," kata Arya ikutan kesal.


"Ehh, udah udah, kok malah jadi berantem," kata Mama melerai Indi dan Arya. Mungkin benar kata orang tua jaman dahulu, kalau orang mau menikah itu harus dipingit dulu alias tidak boleh bertemu satu sama lain. Karena kita tidak tahu bagaimana keadaan nantinya. Seperti sekarang ini, Arya dan Indi meributkan hal yang sepele. Tapi karena perasaan mereka yang gugup, menjadikan mereka berselisih.


"Indi mau melihat Evan dulu Mah," kata Indi langsung masuk ke rumah.


"Kalian harus benar-benar bisa menahan emosi kalian, melihat semua hal dari berbagai sisi. Jadi 'gak akan ada salah paham sekecil apapun," kata Mama pada Arya, yang hanya diam melihat Indi pergi.


"Arya kebawa emosi Mah," kata Arya mengusap wajahnya kasar.


"Nanti minta maaf sama Indi, sekarang kita cek dulu persiapannya," kata Mama menepuk bahu Arya. Arya hanya mengangguk dan mengikuti Mama.

__ADS_1


Persiapan pernikahan mereka sudah selesai. Besok adalah hari dimana Indi melepas statusnya sebagai janda dan akan menjadi Nyonya Wijaya. Indi merasa gugup sampai-sampai tadi terbawa emosi karena hal sepele.


"Sepertinya aku harus minta maaf sama Arya," kata Indi saat duduk sendiri di dalam kamarnya.


__ADS_2