
Indi dan Arya sampai rumah setelah Dimas sampai. Indi langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Arya hanya bisa menghela nafas dalam dan mencoba bersabar.
"Loh kok semua orang ada di rumah?" tanya Vano yang baru pulang dari sekolah.
"Vano udah pulang? Sama tante Arin yuk," ajak Arin masuk ke kamar Vano.
"Apa mama tambah sakit tante?" tanya Vano polos.
"Mama gak sakit kok, tadi aja abis jalan-jalan sama tante. Beli banyak mainan buat kamu," kata Arini mengalihkan Vano.
"Wah mainan, Vano mau tante," ucap Vano senang.
"Ganti baju dulu ya," pinta Arini.
Arini menemani Vano mengganti bajunya. Di dalam kamar, Indi mencoba menenangkan diri. Air matanya telah kering dan matanya memerah karena terlalu banyak menangis. Indi menghela nafas dalam lalu masuk ke kamar mandi untuk berendam. Walaupun tadi sehabis perawatan di salon and spa, dia butuh berendam sebentar untuk menjernihkan pikirannya.
"Seharusnya aku bicarakan baik-baik dengan Arya," gumam Indi.
Di sekolah, Evan sedang duduk di bawah pohon seperti kesukaannya setiap istirahat, saat Jacelyn lewat di depan matanya namun tidak menoleh.
"Jacelyn," panggil Evan, namun Jacelyn tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilan Evan.
Sejak kejadian berapa hari lalu Evan mencium sekilas bibir Jacelyn, dia merasa Jacelyn semakin menjauhinya.
"Jace tunggu," ucap Evan mengejar Jacelyn.
Jacelyn mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke kelasnya. Evan hendak ikut masuk tapi dicegat oleh Maria.
"Mau kemana Van?" tanya Maria menghalangi pintu masuk kelas Jacelyn.
"Minggir, gue mau masuk," ucap Evan dingin.
"Bel masuk udah bunyi, kembali ke kelas masing-masing," ucap Maria sambil berteriak.
"Minggir," bentak Evan pada Maria.
Dua teman Maria langsung kabur dari hadapan Evan. Maria berusaha tetap tegar namun sebenarnya dia juga takut kalau Evan sudah seperti itu.
"Udah ada gurunya tuh Van," ucap Maria lalu langsung pergi meninggalkan kelas Jacelyn.
Evan pergi juga menuju kelasnya sendiri. Dia tersenyum singkat saat mengingat kejadian beberapa hari lalu. Dia pasti akan terkena masalah kalau sampai Indi tahu apa yang dia lakukan pada Jacelyn.
"Sayang, buka pintunya dong," pinta Arya mengetuk pintu kamarnya.
Arya menunggu beberapa menit lalu mencoba mengetuk pintu kamar lagi. Tapi belum sempat mengetuk, Indi sudah membukakan pintunya.
"Kamu gak pa-pa sayang?" tanya Arya dengan raut wajah khawatir.
"Gak pa-pa. Aku lapar, mau makan," ucap Indi berjalan ke dapur melewati Arya.
"Mah, masak apa?" tanya Indi pada ibu mertuanya yang sedang membersihkan sisa masakan makan siang tadi.
"Sop iga, sayur brokoli, ayam goreng, tahu krispy, nugget, kerupuk. Mau nambah apa sayang?" Mama menyebutkan satu persatu masakannya yang menggugah selera.
__ADS_1
"Indi mau pasta boleh?" tanya Indi pada Mama.
"Biar aku yang masakin ya," ucap Arya cepat.
Indi tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak. Ini kesempatan untuk berbaikan dengan Indi pikir Arya. Dengan lihai Arya menyiapkan bahan untuk membuat pasta, dan memasaknya sesuai kesukaan Indi.
"Selamat makan sayang," ucap Arya menyajikan pasta di meja makan.
"Makasih," ucap Indi singkat lalu mencicipi masakan suaminya.
Semua orang menyingkir ke ruang keluarga, hanya ada Arya dan Indi di meja makan.
"Gimana, enak gak?" tanya Arya masih terus mencoba mendekati Indi untuk berdamai.
Indi hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanannya. Arya tersenyum melihat wajah Indi saat sedang makan. Merasa risih karena diperhatikan terus oleh Arya, akhirnya Indi buka suara.
"Kenapa lihatin aku terus?" tanya Indi.
"Kamu cantik walaupun sedang makan." Arya mencoba mengungkapkan apa yang dipikirkannya.
"Gombal banget," gumam Indi tersenyum singkat.
Arya melihat senyuman singkat Indi. Dia semakin semangat untuk bisa berbaikan hari ini juga.
Evan pulang sekolah dengan membawa serta Jacelyn. Dengan paksaan dan tidak mendengar alasan apapun yang dikeluarkan oleh Jacelyn.
"Kok rame?" tanya Evan yang melihat semua anggota keluarganya, kecuali Arya dan Indi, di ruang keluarga.
Evan dan Jacelyn langsung menyalami semua orang satu persatu.
"Iya om, makanya baru pulang."
"Jacelyn bukannya masih kelas dua ya? Kok pulang sore juga?" tanya Nenek Ellis.
"Evan yang maksa Nek, udah lama Jacelyn gak main ke rumah." Evan menjawab tanpa merasa bersalah.
"Dasar kamu, tante aduin mama kamu lo Van," ancam Arini.
"Jangan dong tante, kapan-kapan aku traktir ke taman bermain gimana?" suap Evan.
"Gak bisa, tante lagi hamil. Yang lain." Arini mencoba mengikuti kemauan Evan.
"Ice cream deh, sesukanya tante," usul Evan.
"Boleh deh, hari ini ya." Arini berbinar akan ditraktir ice cream oleh Evan.
Evan memasang muka cemas karena Arini akan memerasnya terus. Sedangkan Jacelyn hanya memperhatikan interaksi keluarga Evan dengan senyuman sendu. Dia ingin mendapatkan kehangatan dari sebuah keluarga seperti keluarga Evan. Tetapi semua itu hanya angan saja.
"Kak Jace, sini main sama Vania dan Vano," ajak Vania yang melihat Jacelyn melamun.
Jacelyn langsung tersenyum dan mendekati Vania. Evan menuju ke kamar untuk mengganti bajunya.
Di dalam kamar, Arya dan Indi sedang membicarakan tentang Calista. Arya meminta maaf dengan berlutut di hadapan Indi.
__ADS_1
"Gak usah pakai berlutut segala, ceritakan aja semuanya sama aku," ucap Indi mulai melembut.
"Aku janji akan cerita semuanya sama kamu, apa yang mau kamu tahu sayang?" Arya bertanya sambil tersenyum.
"Benar kan semuanya yang terjadi akhir-akhir ini, Calista dalangnya?" tanya Indi menatap mata Arya.
"Iya, semuanya Calista. Yang membuntuti Arini dan Mama, yang nyulik Evan, semua suruhan Calista." Arya berbicara serius.
"Terus kenapa kamu masih biarkan dia berkeliaran? Dan kamu juga masih sempat bertemu dengannya saat di RS Jiwa. Apa yang kamu lakuin di sana?"
Arya sedikit kaget, Indi tahu soal itu. Tapi Arya janji akan menceritakan semuanya.
"Maaf untuk hari itu sudah bohong sama kamu dan tidak menceritakannya," ucap Arya merasa bersalah.
"Aku udah terlanjur kecewa, dan kamu harus bisa meyakinkan aku supaya tidak lebih kecewa lagi sama kamu," tegas Indi.
"Aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi. Aku janji akan selalu menceritakan semuanya sama kamu dan kita cari solusi sama-sama. Aku gak akan bohong lagi ke depannya."
"Gak usah janji-janji, buktiin aja." Indi menantang Arya.
"Aku akan buktiin, tapi aku minta jatah dulu boleh." Arya mengerling nakal pada Indi.
"Aryaaaaa," teriak Indi gemas, membuat Arya tertawa keras.
Indi memalingkan wajahnya yang memerah karena malu dan menahan kesal juga. Arya langsung memeluk erat Indi dan menciumi puncak rambut Indi.
"Maafkan aku sayang, aku janji gak akan buat kamu sakit lagi dan kecewa karena perbuatanku. I love you."
Arya mencium bibir Indi sesaat lalu berubah menjadi ******* saat Indi tidak berusaha menolaknya.
.
.
.
NOTE :
Sambil nunggu up, mampir ke karya bestie aku ya dears. ketik aja judul atau nama penanya di pencarian. dijamin ceritanya juga menarik 🤗❤
Judul : Gadis Scorpio
Napen : AdindaRa
"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.
"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.
Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.
"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.
"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.
__ADS_1
Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.