
Arya menarik Indi dan terduduk di atas pangkuan Arya. Arya memeluk kencang Indi. Seakan Indi akan pergi meninggalkannya.
"Pak, maaf, saya masuk tanpa ijin," Indi mencoba memecah keheningan.
Arya meletakkan dagunya di bahu Indi. Dia menciumi leher Indi yang terlihat.
"Pak, maaf, ini dikantor," Indi mencoba untuk tenang. Padahal jantungnya sudah berdesir tidak karuan.
Indi mencoba melepaskan diri. Tapi Arya lebih kuat daripada Indi.
"Sebentar aja sayang," Arya berbicara dengan serak.
Indi pasrah duduk dipangkuan Arya, dan dipeluk Arya. Setelah merasa Indi sudah tidak berontak lagi, Arya membalikkan badan Indi dan mendudukkan di kursi kebesarannya.
"Kamu kalau ada masalah apapun, please cerita sama aku. Aku 'gak mau kamu pendam sendiri sayang," Arya mengusap lembut pipi Indi.
Indi masih terpana dengan perlakuan Arya. Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja. Membuat Arya kaget dan menyeka air mata Indi.
"Jangan nangis sayang, ada aku," Arya memeluk Indi lagi, dan mencium puncak kepala Indi. Indi mengeratkan pelukannya dan menumpahkan semua perasaan sedihnya.
Setelah merasa tenang, Indi melepaskan pelukannya.
"Makasih Arya," Indi mengecup singkat bibir Arya. Tapi, dengan cepat Arya menekan tengkuk leher Indi, dan mencium bibir Indi dalam. Arya melepaskan ciumannya, setelah merasa nafasnya hampir habis.
"I love you Indi," Arya mengecup kening Indi.
"I love you too Arya," Indi tersenyum, dan mengecup lagi bibir Arya.
"Hmm, tadi siapa yang bilang ini di kantor ya," Arya meledek Indi.
Indi langsung melarikan diri, keluar ruangan Arya. Arya tertawa melihat Indi yang malu.
Indi langsung menyembunyikan wajahnya di meja kerjanya.
"Kenapa lagi lo?" tanya Dimas.
"Gak apa Dim," Indi tersenyum kaku, lalu gugup membereskan mejanya.
"Habis ngapain lo ya, sama si Boss?" Dimas meledek Indi yang mukanya memerah.
"Iishhh, kepo Lo," Indi melempar bolpoin ke arah Dimas.
"Syukur deh, Lo udah ceria lagi Ndi," Dimas tersenyum, lalu pergi ke mejanya.
__ADS_1
Indi sadar, seharian sudah tidak fokus kerja, dan memikirkan hal-hal yang membuat dirinya frustasi.
Pulang kerja hari ini, tangan Indi tidak lepas dari genggaman Arya. Tangan Arya yang satunya menyetir, dan satu lagi menggenggam tangan Indi erat. Senyuman terus terpancar di wajah Arya.
"Arya, aku mau tanya dong," Indi membuka obrolan.
"Tanya apa sayangku?" Arya berbicara lembut, membuat Indi malu sendiri.
"Menurut kamu, aku pantas 'gak buat kamu?" tanya Indi, membuat Arya menengok sekilas ke arah Indi, dan fokus lagi ke jalanan.
"Kenapa nanya kaya gitu sih?" Arya sedikit kesal dengan pertanyaan Indi.
"Mau tahu aja Ar," Indi mencoba meminta jawaban.
"Aku yang ngerasa bersyukur dapetin kamu. Karena kamu wanita yang hebat. Wanita kuat yang bisa jaga diri dan jaga anak kamu," kata-kata Arya membuat hati Indi menghangat.
"Kamu 'gak malu sama janda kaya aku?" tanya Indi lagi.
Arya mendadak mengerem mobilnya. Membuat Indi kaget dan tanpa sadar menggenggam erat tangan Arya.
"Mau kamu janda atau masih single, kalau aku sayang, aku akan terus berjuang," kata Arya menatap Indi intens. "Jangan rendah diri, kamu janda tapi rasa ABG," Arya mengerling gemas dan melajukan lagi mobilnya.
"Arya, iiihhh," Indi menabok lengan Arya. Dia malu bukan main, diledek seperti itu. Arya hanya tertawa.
Indi merasa, dia sudah salah kalau menilai Arya buruk seperti apa yang digosipkan karyawan-karyawan lain. Dia juga harus bisa lebih percaya diri, kalau dirinya pantas untuk dicintai siapapun.
"Kenapa Mah?" tanya Evan masih asyik dengan mainannya.
"Menurut kamu, Mama sama Om Arya cocok 'gak?" tanya Indi pada anaknya.
"Hmm, Mama mau menikah sama Om Arya?" tanya Evan menatap mata Indi.
"Menikah? Itu masih belum ada di pikiran Mama sayang. Mama mau bahagiain kamu dulu," kata Indi, lalu membawa Evan ke dalam pelukannya.
"Evan udah bahagia kok Mah. Evan akan lebih bahagia kalau Mama juga bahagia," Evan mencium pipi Indi.
"Makasih ya sayang, udah jadi anak Mama yang pinter dan pengertian," Indi mencium pipi kanan kiri Evan. Dan dilanjut menggelitik Evan sampai Evan kegelian, dan tertawa. Indi berhenti, ketika ponselnya berdering. Arya's calling...
Call on.
"Hai Arya," Indi tersenyum, menerima telepon dari Arya.
"Bukain pintu dong, aku di depan nih. Bawa pizza buat Evan," Arya berbicara di telepon, tapi ternyata dia sudah di depan pintu rumah Indi.
__ADS_1
"Kamu di depan rumah?" Indi bertanya tidak percaya.
"Iya, ini aku di depan," Arya berbicara lagi.
"Oke, tunggu," Indi mematikan teleponnya, dan berlari ke luar.
Call off.
Indi membuka pintu, dan terlihat wajah Arya yang sedang tersenyum.
"Hai, sayang," Arya menyapa Indi dan berhasil membuat pipi Indi merah.
"Masuk Ar," Indi mempersilahkan Arya masuk.
"Evan mana?" tanya Arya, sambil meletakkan pizza di meja.
"Om Aryaaaa," Evan berlari dan langsung bergelayut di tangan Arya.
"Hai kid, Om bawa pizza nih," Arya memamerkan bawaannya ke Evan.
"Wooahhh, Evan mau Om," Evan jingkrak-jingkrak kesenangan.
Indi, Arya dan Evan sudah duduk di ruang TV keluarga. Tadi Indi yang meminta mereka pindah ke ruang TV. Arya dan Evan bercanda seperti seorang ayah dan anaknya. Indi melihat itu semua dengan senyuman mengembang.
"Semoga kamu adalah orang yang Tuhan kirim untuk aku dan Evan Ar," Indi berdoa dalam hati.
"Mama, Evan ngantuk," Evan menguap dan memeluk Indi erat.
"Ya udah, ayo tidur," Indi membawa Evan ke kamarnya. Setelah mencium kening Evan dan mematikan lampu kamar, Indi keluar menemui Arya lagi.
"Udah tidur?" tanya Arya.
"Udah, dia 'gak susah kalau disuruh tidur. Apalagi kalau udah ngantuk," jawab Indi sambil membereskan meja ruang TV.
"Aku akan berusaha untuk selalu ada disamping kamu dan Evan," Arya mengatakan itu sambil memeluk Indi dari belakang.
Indi berbalik dan menatap Arya yang juga menatapnya balik. Arya memperpendek jaraknya dengan Indi, dia mencium bibir Indi dan **********. Indi membalas ciuman Arya. Keduanya tenggelam dalam ciuman itu. Arya melepaskan bibirny setelah mereka butuh bernafas.
"I love you, Indi. Aku harap, aku bisa jadi masa depan kamu," Arya mengecup kening Indi.
"Aku harap juga begitu. Aku akan bertahan dan mempertahankan hubungan ini," Indi membatin.
"Udah malem Ar. 'Gak enak dilihat tetangga," Indi melepaskan pelukannya pada Arya.
__ADS_1
"Oke, aku pulang sayang. Besok, aku jemput berangkat ke kantor," Arya mengecup lagi kening Indi.
Perlakuan Arya yang lembut dan sweet itu, membuat Indi merasakan bahagianya. Dia akan berusaha untuk bisa jadi pendamping Arya yang pantas.