
"Tadi Tante Indi bisikin apa Kak?" tanya Kanaya penasaran setelah melepas pelukannya dari Evan.
"Gak boleh cium kamu katanya," ucap Evan dengan jujurnya. Kanaya langsung merasa malu sendiri.
"Gimana keadaan Kak Evan sekarang? Apa semuanya udah baik-baik aja?" tanya Kanaya mengalihkan pembicaraan.
"Udah baik semuanya Nay, besok juga udah boleh pulang." Evan tersenyum mengetahui Kanaya mengalihkan pembicaraan mereka.
"Syukurlah kalau gitu Kak, Naya ikut senang," ucap Kanaya tersenyum.
Melihat senyuman manis Kanaya, Evan tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk mencium bibir Kanaya. Dengan cepat Evan menarik tengkuk Kanaya dan mencium bibirnya perlahan. Awalnya Kanaya kaget lalu dengan pasrah dia membalas ciuman dari Evan.
Di depan pintu ruangan Evan, Arini menunggu dengan cemas. Tadinya dia hendak masuk, tapi melihat apa yang dilakukan oleh Evan, Arini memilih untuk menunggu dan tersenyum karena hal itu.
"Loh Arin, kok di luar aja, gak langsung masuk?" tanya Indi yang datang melihat Arini di depan pintu ruangan.
"Arin nunggu Kak Indi, kata Evan Kak Indi lagi keluar," jawab Arini sedikit gugup dan mencoba mengulur waktu.
"Ya udah yuk masuk, ada Kanaya juga di dalam." Indi masuk ke dalam ruangan Evan diikuti Arini yang was-was karena melihat Evan sedang berciuman.
Setelah masuk, Arini melihat Evan dan Kanaya sedang mengobrol seperti tidak terjadi apa-apa.
"Naya udah makan?" tanya Indi meletakkan belanjaan yang dibelinya.
"Udah Tante," jawab Kanaya tersenyum.
Arini melihat semuanya biasa saja, Evan dan Kanaya bisa menutupinya dengan baik. Arini lalu mendekat ke ranjang Evan dan berbicara sedikit berbisik.
"Tadi Tante lihat pemandangan indah loh," bisik Arini pada Evan.
"Apaan tuh bisik-bisik?" tanya Indi penasaran.
"Itu Kak ...." Belum selesai Arini bicara, sudah dipotong oleh Evan dengan cepat.
"Itu Mah, Tante Arin mau ngajakin Evan jalan-jalan, tapi takut gak dibolehin Mama," ucap Evan cepat untuk menutupi yang sebenarnya.
__ADS_1
Arini langsung melotot ke arah Evan dan bergumam tanpa suara.
"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Indi tidak curiga.
"Ke taman depan Mah, Evan juga bosan di kamar terus. Sambil latihan jalan juga Mah." Evan menjawab dengan santai.
"Ya udah nanti kamu bisa jalan-jalan sama Tante Arin, tapi nunggu dokter dulu ya pemeriksaan harian," ucap Indi memberitahu.
"Oke Mah, makasih ya." Evan memberi kode pada Arin untuk ikut berterimakasih.
"Makasih, Kak," ucap Arini melotot pada Evan.
Setelah dokter berkunjung dan memeriksa keadaan Evan, akhirnya dokter menyatakan Evan sudah bisa beraktifitas normal seperti biasa. Dengan ingatannya yg telah kembali, itu berarti sudah tidak ada efek samping dari kecelakaan waktu itu. Evan hanya tinggal melakukan pemulihan agar bekas lukanya cepat menghilang dan semuanya baik kembali.
"Akhirnya bisa menghirup udara luar," kata Evan yang berjalan di taman dipapah oleh Kanaya dan ditemani Arini.
"Apa-apaan itu tadi, Tante yang jadi alasan kamu pengen jalan-jalan keluar," sungut Arini.
"Maaf Tanteku yang cantik, nanti Evan traktir seperti biasa," ucap Evan mencoba merayu Arini.
"Enggak mau, kali ini harus lebih traktirannya." Arini berusaha cemberut di depan Evan.
"Naya, apa kamu pacaran sama Evan?" tanya Arini tiba-tiba. Kanaya kaget diberi pertanyaan seperti itu.
"Eehh, enggak Tante, kita nggak pacaran," jawab Kanaya gugup dan sedikit takut.
"Kalau belum dijadiin pacar, jangan mau dicium Evan," kata Arini dengan berbisik di telinga Kanaya lalu tersenyum penuh arti.
"Apaan sih Tante?" tanya Evan penasaran.
"Kamu juga, anak orang main cium-cium aja. Dijelasin dulu dong hubungannya apa." Arini memukul pelan lengan Evan.
"Nggak perlu dijelasin juga sama-sama tahu, Tante. Masalahnya Evan nggak boleh pacaran sama Mama."
"Cewek itu butuh kejelasan Evan sayang. Kalau nggak boleh pacaran dulu ya tinggal sembunyi-sembunyi aja," kata Arini menyarankan hal yang menyesatkan.
__ADS_1
"Punya Tante kenapa gini amat ya, ngajarin yang nggak bener," ucap Evan geleng-geleng kepala.
Kanaya hanya bisa tersenyum melihat interaksi Evan dan Tante Arini.
"Maaf ya Naya, ponakan Tante kadang suka gitu," ucap Arini juga.
"Tante gimana kandungannya, udah mulai aktif kan?" tanya Kanaya mengalihkan pembicaraan.
Arini yang selalu senang ditanya soal kehamilannya, langsung menceritakan semuanya pada Kanaya.
Evan tersenyum melihat Kanaya mengalihkan pembicaraan lagi.
"Pinter banget sih ngerubah arah pembicaraan," gumam Evan.
.
.
NOTE :
Sambil nunggu author up lagi, lihat karya bestie author yuk dears. masih baru loh ❤🤗
Judul : Terjerat Ranjang si Kembar
Author : Weny Hida
Cuplikan cerita :
Akhirnya, Jeff pun mulai memasukkan asetnya ke dalam liang hangat milik Amber. Namun, saat mencoba memasukkan asetnya, Jeff merasa sedikit aneh karena dia kesulitan memasukkan asetnya tersebut, beberapa kali benda miliknya tampak gagal memasukki lembah hangat itu, raut wajah Amber pun kini tampak meringis kesakitan saat Jeff mencoba berulangkali memasukkan asetnya. Beberapa saat kemudian, Jeff pun menghembuskan nafas panjangnya saat dia akhirnya berhasil memasukkan aset miliknya, namun betapa terkejutnya Jeff karena di saat itu pula dia melihat darah segar yang mulai keluar dari sel*put liang hangat dari wanita yang ada di hadapannya tersebut.
"Oh s**t! You're still virgin?" sentak Jeff lalu mengeluarkan asetnya, dia kemudian duduk sambil menatap Amber yang ada di depannya yang kini mulai terlihat ketakutan saat melihat raut wajah Jeff yang kini terlihat begitu campur aduk antara marah dan bingung.
"Who are you?" tanya Jeff sambil mengerutkan keningnya.
Amber yang begitu ketakutan kini hanya bisa terdiam, lidahnya begitu kelu dan bibirnya pun terasa kaku hingga tak satupun kata keluar darinya.
__ADS_1
"Hai! Who are you?" ulang Jeff.