My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 36 : Menginap


__ADS_3

Arya memutuskan untuk menginap di rumah Indi. Karena dia ingin memeluk Indi pada saat dia tidur. Arya ingin menuntaskan hasratnya yang terbakar tadi, tetapi dia mengurungkan niatnya. Semalaman Indi dan Arya bercerita banyak hal tentang hidup masing-masing. Mengenal lebih dekat satu sama lain. Sebenarnya sebagai laki-laki normal, Arya sudah tidak tahan kalau berduaan dengan Indi. Tetapi, Arya akan berusaha menjaganya sampai nanti setelah menikah.


"Selamat pagi," sapa Arya pada Indi yg sedang mengulet.


Indi sedikit kaget tapi dia teringat, semalam Arya menginap di rumahnya.


"Pagi Ar, apa tidurnya nyenyak?" tanya Indi.


"Nyenyak sekali, ada kamu di sampingku," kata Arya, membelai rambut Indi.


"Aku mandi dulu ya, mau siapin sarapan buat Evan dan kamu," kata Indi, hendak beranjak dari tempat tidur tapi dipegang tangannya oleh Arya.


"Morning kiss dulu," kata Arya, menggoda Indi.


Indi mencium sekilas pipi Arya, lalu langsung berlari ke kamar mandi.


Selesai mandi, Indi membangunkan Evan lalu memasak dan meninggalkan Arya di kamar untuk bersiap-siap juga.


"Mama," panggil Evan lalu berlari memeluk pinggang Indi.


"Anak Mama ganteng," kata Indi merapikan baju sekolah Evan.


"Pasti dong, anaknya Om Arya pasti ganteng," tiba-tiba Arya datang dan menyahut.


"Om Arya," teriak Evan berlari memeluk Arya. "Om tadi malam tidur di rumah Evan?" tanya Evan polos.


"Iya, Om tidur di sini, jagain Evan dan Mama," kata Arya mengacak rambut Evan.


"Udah, ayo sarapan dulu," ajak Indi pada Arya dan Evan.


Indi merasa keluarganya utuh kembali dengan adanya Arya. Indi berharap dia akan secepatnya bisa bersatu dengan Arya.


Pov Arya.


Semenjak hari itu, Arya semakin ingin cepat-cepat menikahi Indi. Arya mengutarakan keinginannya pada orang tuanya.


"Pah, Arya mau nikah seminggu lagi ya," kata Arya pada Papanya.


"Bereskan dulu urusan perusahaan, kamu harus bisa meyakinkan Pak Bastian (orang tua Angel)," kata Papa.


"Papa tolong Arya dong, biar lebih gampang ngadepin Pak Bastian," kata Arya memohon.


"Masalah kamu yang bikin, Papa yg harus perbaiki, huuft," kata Papa pura-pura marah.


"Papa kan baik hati," rayu Arya.


"Giliran ada maunya aja ngerayu," kata Mama, ikut nimbrung.


"Bantuin dong Ma, biar Arya bisa cepat nikah sama Indi," kata Arya, memohon pada Mamanya.


"Mama bantu urusan pernikahan, kalau urusan perusahaan Mama 'ga perduli," kata Mama.

__ADS_1


"Kalau gitu urusan perusahaan Papa yang bantu," bujuk Arya lagi.


"Hmmm," jawab Papa singkat.


"Makasih, Ma, Pa. Akhirnya gue nikah," teriak Arya senang.


"Apaan sih Kak, norak," kata Arini ikut kumpul dengan keluarganya.


Orang tua Arya tahu betul bagaimana keadaan di perusahaan. Semenjak Angel dipecat oleh Arya, Pak Bastian selalu meminta penjelasan dari Arya. Tetapi karena kejadian Indi yang sakit dan masuk Rumah Sakit, Arya belum sempat menemui Pak Bastian.


"Sayang, aku akan nikahin kamu satu minggu lagi," kata Arya pada Indi, ketika mereka berduaan di rumah Indi. Evan sedang dibawa Arini dan Nina jalan-jalan.


"Gak terlalu cepat Ar?" tanya Indi.


"Enggak, semua udah disiapkan sama Mama dan Arini. Tapi sebelumnya aku harus nemuin Pak Bastian dulu," kata Arya.


"Pak Bastian?" tanya Indi bingung.


"Papanya Angel," kata Arya, sambil mengusap punggung tangan Indi.


"Ada masalah sama perusahaan Ar?" tanya Indi gelisah.


"Engga sayang, Pak Bastian hanya minta penjelasan. Kenapa aku sampai mecat anaknya," kata Arya, menenangkan Indi. "Papa juga akan membantu, jadi semua akan baik-baik saja."


"Maafin aku ya, ini semua karena aku," kata Indi lirih.


"Bukan karena kamu sayang, kamu tenang ya." Arya memeluk Indi.


Indi merasa bersalah karena itu. Dia bisa saja mengundurkan diri dari perusahaan Arya, tapi Arya memilih untuk memecat Angel daripada Indi yang mengundurkan diri.


"Hmm, bisa, kamu harus janji, apapun yang terjadi nanti kamu 'gak akan ninggalin aq," kata Arya meminta Indi berjanji.


"Aku janji Ar, aku akan selalu dampingi kamu," ucap Indi.


"Seandainya nanti penjelasanku tidak diterima, mungkin perusahaan bakal turun. Dan aku akan bangkrut," kata Arya menggenggam erat tangan Indi.


"Mau kamu bangkrut atau tidak, aku akan tetap di samping kamu," kata Indi.


"Makasih ya sayang, aku akan selalu berusaha buat kamu dan Evan bahagia," kata Arya memeluk Indi lagi.


"Kamu mau nginap lagi di sini?" tanya Indi ragu.


"Boleh, Ndi. Besok aku antar kamu ke kantor dulu, terus aku lanjut ke rumah Pak Bastian," kata Arya.


"Semoga besok berjalan lancar ya," ucap Indi seraya berdoa.


Pukul sepuluh malam, Evan, Nina dan Arini pulang. Sepertinya mereka bersenang-senang sampai kelelahan. Evan langsung masuk kamar dan tertidur. Indi mengecup kening Evan lalu mematikan lampu kamar Evan.


"Kamu nginap di sini aja, Rin," kata Indi pada Arini.


"Boleh deh Kak, udah capek banget," kata Arini, menguap.

__ADS_1


"Nina juga nginap ya, Tante," kata Nina, langsung masuk ke kamar Evan.


"Arini tidur di kamar tamu ya, sana masuk," kata Indi menunjukan kamar tamu.


"Malam kak Indi, kak Arya," pamit Arini, langsung masuk kamar.


"Main sampai lupa waktu, jadi capek kan," kata Arya.


"Gak apa, yang penting mereka bisa bersenang-senang," kata Indi, meredakan emosi Arya. "Kamu masih mau ngobrol di sini atau mau tidur aja?" tanya Indi.


"Ayo tidur, kamu juga harus istirahat," kata Arya, menggendong Indi ala bridal style.


"Kamu sukanya tiba-tiba gendong, kalau jatuh gimana?" tanya Indi, mengalungkan tangannya di leher Arya.


"Gak akan jatuh sayang," kata Arya, mendudukkan Indi di pinggir kasur.


"Aku bersih-bersih dulu ya, nanti gantian," kata Indi, masuk ke kamar mandi.


Setelah 30 menit, Indi keluar dan mendapati Arya sudah tertidur.


"Hufft, kamu pasti banyak pikiran ya, Ar," kata Indi menatap wajah Arya saat tidur.


Indi ikut berbaring di samping Arya, dan tidak lama diapun terlelap.


Pov Indi.


"Selamat pagi, Dimas," sapa Indi yang baru sampai di ruangannya.


"Pagi, Ndi, Arya mana?" tanya Dimas.


"Mau ketemu sama Pak Bastian katanya," kata Indi, lesu.


"Kenapa muka lo gitu?" tanya Dimas lagi.


"Gue takut Pak Bastian 'gak terima penjelasan Arya, dan itu karena gue," jawab Indi.


"Bukan salah lo, Ndi. Gue juga gerah sama tuh Angel, geli gue liat kelakuannya," kata Dimas begidik.


"Hahaha, anak cantik gitu juga," kata Indi mencoba menetralkan perasaannya yang gelisah.


"Cantik dari Hongkong, hahaha," ledek Dimas, tertawa keras.


"Jangan gitu lo, jangan sampai benci jadi cinta," kata Indi menakuti Dimas.


"Amit-amit deh, jangan sampai Ya Tuhan," kata Dimas, sambil mengangkat kedua tangannya.


"Hahaha, udah deh kerja dulu," kata Indi mulai membereskan mejanya.


"Eh, lo udah sembuh, katanya masuk Rumah Sakit," tanya Dimas.


"Udah, Dim, kalau belum mana boleh gue kerja sama Arya," kata Indi, tersenyum.

__ADS_1


"Bener juga lo," kata Dimas, fokus lagi pada layar komputernya.


Walaupun perasaan Indi tidak enak karena memikirkan Arya, tetapi dia berusaha menutupinya dengan bekerja semaksimal mungkin. Indi berharap semua akan baik-baik saja.


__ADS_2