
Di dalam sebuah rumah tangga, tidak ada yang selalu hidup rukun. Pasti ada saja kerikil-kerikil kecil yang menghambat langkah sepasang suami istri. Begitu juga dengan Arini dan Dimas. Mereka baru beberapa minggu menikah dan ada saja masalah yang mereka ributkan.
"Boss, kalau istri lo ngambek cara bujuknya gimana?" tanya Dimas pada Arya di ruangan.
"Berantem lagi? Kali ini masalahnya apa?" tanya Arya penasaran.
"Masalah kecil sebenarnya, cuma Arini masih belum bisa lebih dewasa. Jadi gue sebagai suami harus bisa sedikit mengalah," jawab DimasDimas dengan bijak.
"Arin memang begitu sifatnya. Lo harus lebih ekstra sabar ngadepinnya." Arya mencoba menyemangati Dimas.
"Gue harus gimana?"
"Lo beliin aja apa yang dia suka. Atau ajak makan malam di luar, atau sekedar jalan-jalan gitu."
Dimas hanya mengangguk mendengarkan saran Arya.
"Oh, ini paling ampuh. Bawa dia ke taman bermain." Arya memberikan ide yang sangat bagus dan pasti akan membuat Arini senang. Karena adiknya itu suka sekali ke taman bermain.
"Kalau gitu besok gue ijin deh. Makasih Pak Boss." Dimas hendak pergi dari ruangan Arya tapi langsung mendapatkan teriakan Arya.
"Apa yang lo maksud dengan ijin?" teriak Arya membuat Dimas menutup telinganya.
"Satu hari aja kak," ucap Dimas merayu.
"Kalau butuh apa-apa baru deh panggil 'kak'." Arya sedikit kesal tapi juga senang mendengar panggilan itu dari mulut Dimas.
"Setengah hari deh, please." Dimas memohon pada Arya.
Melihat begitu niatnya Dimas berbaikan dengan Arini, membuat Arya sedikit tidak tega. Akhirnya Arya mengijinkan Dimas untuk bolos kerja setengah hari.
"Sayang, mau makan siang apa?" tanya Indi yang langsung masuk ke ruangan Arya saat jam makan siang.
"Mau makan kamu boleh?" kata Arya mengerling.
"Salah minum obat ya?" Indi tersenyum melihat suaminya menggoda dirinya.
Arya memberikan kode untuk Indi mendekat dan duduk di atas pangkuannya.
"Engga deh, nanti minta lebih," kata Indi mencoba menolak sambil tersenyum lagi.
"Jahat sekali dirimu sayang." Arya mencoba merengek.
Indi berjalan mendekat dan duduk di pangkuan Arya atas permintaannya. Tanpa aba-aba, Arya langsung memeluk Indi. Menciumi leher Indi yang terpampang jelas karena rambut Indi yang digelung ke atas.
"Kamu kenapa sih?" tanya Indi mencoba menahan rasa yang menjalar dengan begitu cepat.
"Udah lama gak main di kantor," jawab Arya masih sambil menciumi leher Indi.
"Nanti ada yang masuk," ucap Indi dengan suara sedikit serak.
__ADS_1
"Gak ada yang akan ke sini karena sekarang waktunya makan siang." Arya melanjutkan aksinya dengan mengarahkan tangannya pada buah da*a Indi.
Indi mencoba menahan desa*annya dengan menggigit bibirnya.
"Keluarin aja suaranya sayang. Kamu tahu kan ruanganku kedap suara. Gak akan ada yang dengar." Arya semakin intens mera**sang dan membuat Indi kewalahan.
"Sayang...." Indi mulai menikmati dan tidak bisa menahan rasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dengan cepat Arya membalikkan tubuh Indi sampai duduk menghadapnya. Arya melanjutkan permainannya dan membuka kancing baju Indi satu persatu. Dengan mata yang sayu dan nafas yang sudah tak beraturan, Arya mencium bibir Indi. Memag**nya dengan lembut dan memasukkan lidahnya mengabsen satu per satu gigi Indi.
"Mmhh...." Indi mulai tidak bisa mengontrol dirinya. Suara desa*annya mulai terdengar keluar. Membuat Arya semakin terang*ang.
Ketika hendak membawa Indi ke intinya, ada suara ketukan di pintu ruangan Arya. Awalnya Arya tidak menghiraukan, tapi lama-lama suara ketukan berubah menjadi gedoran.
"****, siapa sih?" Arya menggeram kesal.
Suara ketukan terdengar lagi. Indi tersenyum sambil membenarkan pakaiannya. Setelah dirasa semua rapi, Arya langsung mempersilahkan masuk orang yang mengganggu tadi.
"Masuk," teriak Arya setelah mengganti mode ruangan menjadi tidak kedap suara.
"Hai," terlihat Evan masuk sambil tersenyum.
"Ngapain kamu ke sini di waktu yang gak tepat, boy," ucap Arya dengan penekanan.
"Bukannya ini jam makan siang ya Pah, tepat kan?" tanya Evan tidak tahu yang sebenarnya.
Arya menggeleng dengan muka masam.
"Suara Mama kenapa? Mama sakit?" Evan menatap Indi dan Arya bergantian.
"Gak pa-pa, tenggorokan sedikit kering aja butuh minum." Indi cepat-cepat mengambil air dan meminumnya.
"Ada apa, hmm?" tanya Arya dengan sabar.
"Evan mau ngenalin seorang teman sama Mama dan Papa." Evan sedikit gugup, takut Indi marah.
"Teman spesial kah? Sampai harus ke kantor." Arya bertanya sambil tersenyum.
"Gak boleh pacaran. Kalau udah kuliah baru boleh," ucap Indi tegas.
"Cuma teman Mah," rengek Evan.
"Udah gak pa-pa, Evan udah besar dan dia tahu batasan," kata Arya menenangkan Indi.
Evan mengangguk-angguk sambil melihat ke arah Indi.
"Mana anaknya?" tanya Indi sedikit belum terima.
"Kalau diijinin, Evan mau ngajak dia makan malam Mah," ucap Evan dengan senyuman termanis agar Indi luluh.
__ADS_1
"Kalau ada maunya aja kasih senyuman manis seperti itu," ucap Indi tersenyum juga.
"Gimana, Mah, Pah?" tanya Evan berharap.
"Ya udah, ajak aja nanti malam." Indi memberikan respon positif. Walaupun dia masih harus lebih tegas dengan Evan.
"Makasih Mah," ucap Evan lalu mendekat dan mencium pipi Indi.
"Main cium-cium aja kamu," gerutu Arya dan dibarengi tawa Evan.
"Kalau gitu Evan pulang ya, silahkan diteruskan apa yang tadi dilakukan," pamit Evan sambil mengerling tanda menyindir.
"Udah tahu gitu, kenapa main gedor-gedor pintu," teriak Arya. Tawa Evan tidak bisa dibendung lagi.
"Lagian siang-siang gini, ada aja tingkah Papa." Evan berlari keluar sebelum terkena amukan Arya.
Arya dan Indi saling menatap satu sama lain dan tertawa karena malu. Anak pertamanya sudah dewasa dan sudah tahu hal-hal seperti itu. Mereka harus lebih berhati-hati.
"Ayo makan siang dulu," ajak Arya lalu menggandeng Indi menuju kantin kantor.
Malamnya, Evan membawa Jacelyn untuk makan malam bersama keluarganya.
"Gue takut kak, malu," kata Jacelyn saat dijemput oleh Evan.
Jacelyn tinggal di rumah kost sendirian, tidak bersama keluarga Angel.
"Tenang aja, orang tua gue baik kok. Gak akan gigit," canda Evan.
Sampai di rumah Evan mengenalkan Jacelyn pada Indi dan Arya. Indi sudah mengetahui bahwa Jacelyn adalah ponakan Angel. Dan Indi sedikit kurang suka karena masa lalunya dengan Angel. Tetapi saat Evan bercerita Jacelyn itu anak angkat, Indi mulai sedikit berusaha menyukainya.
"Makasih Om, Tante, sudah ajak Jacelyn makan malam," kata Jacelyn tersenyum.
"Sering-sering aja main ke sini sama Evan, jadi Vania juga ada temannya," kata Arya beramah tamah.
"Iya kak, nanti main sama Vania dan Vano," kata Vania senang.
Evan tersenyum sesaat mendengar pernyataan Arya dan Vania. Tapi tidak dengan Indi. Indi tidak mau konsentrasi Evan bercabang karena dia sudah kelas tiga.
"Kamu tinggal dimana Jacelyn?" tanya Indi.
"Di kost tante, dekat dengan sekolah," jawab Jacelyn.
"Kenapa gak sama keluarga Angel?" tanya Indi lagi.
"Mah, jangan ditanyain terus dong. Kapan makannya." Evan menyela.
"Gak papa kak." Jacelyn tersenyum singkat.
"Kalau di rumah tante Angel, Jacelyn ngerasa kurang nyaman tante," kata Jacelyn tersenyum kecut.
__ADS_1
Ada rasa kasihan di benak Indi untuk Jacelyn.
"Kita makan yuk, cicipi masakan tante ya," ajak Indi tersenyum tulus.