My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 53 : Labil


__ADS_3

Kehamilan Indi yang ketiga ini benar-benar membuat Arya kewalahan. Bukan hanya Arya saja, tetapi orang-orang di sekitar Indi juga ikut kewalahan. Ngidam yang tidak kunjung selesai dan juga suasana hatinya yang cepat sekali berubah, atau istilah lainnya mood swing. Hal itu biasa bagi para ibu hamil. Apalagi di usia Indi yang sudah tidak muda lagi.


"Aku pengen jalan-jalan ke pantai sayang, ayo dong," pinta Indi pada suaminya saat di kantor.


"Jangan sekarang ya sayang, kerjaanku masih banyak," kata Arya mencoba memberi pengertian pada Indi.


"Kalau gitu aku pergi sama Mama Papa aja ya," kata Indi lagi.


"Tunggu aku selesaikan ini dulu, terus kita ke pantai," kata Arya akhirnya.


"Yeeaaayy, makasih suamiku," ucap Indi senang.


Sejak kehamilannya menginjak tujuh bulan, Indi sudah tidak aktif bekerja lagi. Pekerjaannya ditangani oleh Arini. Tetapi Indi tetap ke kantor bersama Arya. Dia tidak mau ditinggal di rumah sendirian. Padahal di rumah ada Vania, tetapi Indi tetap ingin bersama Arya. Vania dititipkan di rumah orang tua Arya, terkadang Vania juga diajak ke kantor sama Indi.


Call on.


"Vania sayang, Mama sama Papa mau ke pantai, kamu mau ikut gak?" tanya Indi lewat telepon.


"Kak Evan ikut juga Mah?" tanya Vania di seberang telepon.


"Kak Evan kan lagi sekolah sayang," kata Indi lagi.


"Kalau gitu nunggu kak Evan pulang aja Mah," usul Vania.


"Iya, kamu bener sayang. Ya udah ke pantainya besok aja kalau kak Evan libur sekolah deh," kata Indi lalu menutup teleponnya.


Call off.


Setelah memberitahu Arya kalau tidak jadi ke pantai, Indi menuju kantin perusahaan. Dia ada janji ketemu dengan Ardi dan Shinta sahabatnya.


"Hai Shinta," sapa Indi pada sahabatnya itu.


"Ya ampun Indi." Shinta langsung memeluk Indi begitu sampai di kantin.


"Udah lama banget ya gak ketemu," kata Indi melepas pelukannya.


Ardi dan Shinta sudah menikah dua tahun yang lalu. Setelah menikah mereka pindah ke luar kota dan menetap di sana. Ardi juga dipindahkan ke kantor Arya yang ada di kota tempat mereka pindah.


"Kangen banget tahu," ucap Shinta lebay.


"Tiap hari video call juga," sela Ardi membawa minuman dan cemilan.


"Beda tahu yank," jawab Shinta pada suaminya itu.


"Gimana kabar Ndi?" tanya Ardi pada Indi.


"Baik dan sehat," jawab Indi dengan senyuman cerah.


"Lo gak apa lagi hamil gede gitu masih ke kantor?" tanya Shinta.

__ADS_1


"Gue cuma ngikut Arya aja, gak kerja kok," jawab Indi.


"Kehamilan lo kali ini bener-bener heboh ya Ndi?" ejek Shinta.


"Gue juga gak tahu Shin. Arya sampe kewalahan ngikutin mau gue," kata Indi tertawa.


"Itu mah lo aja yang manja kali," ejek Ardi juga.


"Sialan lo, emang gue biasanya manja? Engga kan." Indi membela diri. Mereka pun tertawa.


"Kalian masih ikut program hamil?" tanya Indi menatap Shinta dan Ardi.


"Masih, kemarin baru aja check up ke dokter lagi," jawab Shinta tersenyum.


Sudah dua tahun Shinta dan Ardi menikah, tapi belum juga diberi momongan. Mereka akhirnya mengikuti program kehamilan.


"Sayang," panggil Arya menghampiri Indi.


"Udah selesai kerjaannya?" tanya Indi lembut.


"Udah, apa kabar Ardi, Shinta?" tanya Arya menyapa.


"Baik Boss," jawab Ardi dan Shinta bareng.


"Sialan lo pada," ucap Arya tertawa.


Arya dan Ardi berpelukan sesama pria, kemudian Arya bersalaman dengan Shinta.


"Itu kayanya ada istrinya deh," bisik yang lain.


"Denger-denger si Boss dulu nikah sama janda ya. Usianya juga beda jauh loh, kaya tante-tante sama berondong," bisik perempuan pertama.


"Hussh jangan ngomong kaya gitu, nanti mereka denger," bisik yang lain.


Indi yang dulu sudah terbiasa mendengar omongan seperti itu, menjadi emosi mendengarnya. Bukan karena tidak terima dengan omongan itu, tapi memang emosinya yang sedang tidak stabil karena hamil.


Indi langsung mendekati meja sekumpulan karyawan yang tadi membicarakannya. Arya hanya melihat dari tempat duduknya.


"Mba-mba yang cantik karena polesan, emang bener Boss kalian itu dulu berondongnya tante. Dan akhirnya kita menikah deh. Mau belajar sama tante gak gimana cara dapet berondong?" kata Indi dengan santai tapi mematikan.


"Maaf Bu, maaf," kata mereka dan langsung pergi melarikan diri.


"Boss lo emang berondongnya gue, mau apa lo?" teriak Indi.


Arya langsung mendekati Indi dan menenangkannya.


"Udah sayang, gak usah diladeni. Mereka karyawan magang jadi belum tahu," kata Arya menjelaskan.


"Hah bikin aku malu aja," kata Indi menutup wajahnya.

__ADS_1


"Bu Indi keren iihh," teriak Jessy yang sedang memesan makanan.


Indi hanya tertawa.


Shinta dan Ardi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Indi.


"Istri lo gila ya Ar?" tanya Ardi meledek.


"Sialan lo," kata Indi memukul bahu Ardi.


"Biasanya dia gak gitu, tapi karena emang lagi bawaan hamil jadi diladenin," kata Arya.


"Lo bener-bener bikin susah," kata Shinta tertawa.


Emosi Indi masih belum stabil ketika perjalanan pulang dari kantor. Arya mencoba membawa Indi ke kedai ice cream kesukaannya.


"Ayo kita makan ice cream dulu," ajak Arya.


"Asiikk ice cream," kata Indi senang.


Sepertinya usaha Arya berhasil untuk membuat mood Indi baik lagi. Karena sejak tadi keluar perusahaan, Indi terus bicara soal kejadian di kantin kantor yang bikin dia emosi. Arya yang mendengarkan hanya diam takut disemprot balik.


"Sayang, kamu kan lagi hamil. Dijaga dong emosinya, nanti kamu sama bayi kamu yang sakit sendiri, capek sendiri kalau terus-terusan emosi," kata Arya perlahan memberi pengertian pada Indi.


"Haahh, iya sayang, aku juga tahu. Tapi rasanya emosiku meluap-luap. Maaf ya tadi bikin ulah di kantin," kata Indi lirih.


"Ya udah, yang penting lain kali dijaga emosinya. Atau kamu mau ikut senam yoga untuk ibu hamil?" saran Arya.


"Boleh juga tuh, nanti aku cari tempatnya ya." Indi semakin girang.


Sebagai suami, Arya sebisa mungkin untuk menjaga istri dan anak-anaknya. Walaupun dia lebih muda dari Indi, tapi dia bisa menjadi sosok yang dewasa untuk istrinya.


"Sayang, aku pengen makan martabak buatan Mama," teriak Indi saat sedang santai di rumah.


"Baru juga istirahat sebentar," ucap Arya menghela nafas.


"Sabar ya Pah," kata Evan tersenyum geli.


"Sayang," teriak Indi lagi.


"Iya sayang, aku udah telepon Mama. Sabar ya," kata Arya duduk di samping Indi.


"Ayo ke rumah Mama aja, sekalian tidur di sana," ajak Indi langsung beranjak untuk siap-siap.


Arya hanya menghela nafas dalam-dalam. Evan mengajak Vania untuk siap-siap membawa barang yang mau dibawa.


"Evan, Vania, udah siap belum?" tanya Indi masuk ke kamar Vania.


"Siap Mah," jawab Evan dan Vania berbarengan.

__ADS_1


"Lets go," ajak Indi girang.


__ADS_2