My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 55 : Perayaan Kecil


__ADS_3

Kehidupan Indi dan Arya merupakan kehidupan idaman untuk semua orang. Rumah tangga yang bahagia dan sedikit masalah, anak-anak yang baik dan saling menyayangi. Serta orang tua dan keluarga yang selalu harmonis dan saling menghormati.


"Selamat ya Ndi, kamu bener-bener beruntung," kata Sinta memberi selamat saat perayaan kecil-kecilan di rumah Arya.


"Sabar Sin, lo pasti bakalan punya anak juga. Harus tetep semangat," kata Indi menepuk pelan lengan Sinta sahabatnya.


Sinta tersenyum mengamini doa Indi. Semua teman Indi dan beberapa karyawan Arya berkumpul di rumah untuk merayakan kelahiran anak ketiga mereka. Kebahagiaan selalu terpancar dari keluarga kecil Indi. Meskipun dulu banyak yang menentang hubungan Indi dan Arya, namun Indi dapat membuktikan kalau dia layak untuk bersama Arya dan bisa bahagia. Indi dapat membungkam mulut orang-orang yang pernah merendahkannya.


"Untuk keluarga Indi dan Arya, ayo kita bersulang," teriak Dimas disela obrolan masing-masing orang.


"Berisik lo," kata Arini cuek.


Semua orang yang hadir langsung tertawa, tetapi juga melakukan apa yang diminta oleh Dimas. Bersulang.


"Terima kasih untuk semua yang telah hadir di acara saya ini," ucap Arya selaku tuan rumah.


"Silahkan semuanya menikmati hidangan yang ada," kata Mama menambahkan.


Satu persatu orang memberikan selamat kepada Indi dan melihat anak Indi yang ketiga.


"Vanoo," teriak Jessi sampai Vano kaget dan hendak menangis. Tapi Indi dengan cepat membuatnya tenang lagi.


"Sorry," kata Jessi nyengir kuda.


"Suara lo kaya' toa Jess," kata Andin geleng-geleng kepala.


"Saya kan pembawa keceriaan Bu Andin," ucap Jessi membanggakan diri.


"Lo yang ceria, kita engga," sambar Dimas.


"Cuma Pak Dimas yang gak ceria, karena jomblo," kata Jessi meledek Dimas.


"Gue gak jomblo ya, udah ada Arini," ledek Dimas juga.


"Sejak kapan?" tanya Arini santai.


"Hahahaha, Pak Dimas gak diakui." Jessi tertawa puas.


Semua orang yang datang ikut tertawa melihat ekspresi Dimas.


"Sabar Bro," kata Ardi menepuk bahu Dimas.


"Arini, sini kamu," pinta Dimas dengan nada tegas.


Bukannya mendekat, Arini memilih untuk kabur sambil tertawa meledek. Dimas mengejar sambil bersungut kesal.


Sudah beberapa kali Dimas mencoba untuk menikahi Arini, tetapi masih belum ada pencerahan. Arini masih ingin membantu Arya di perusahaan keluarganya. Jadi, dia belum mau memikul tanggung jawab lain, sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Itu kata Arini.


"Nikahin aja Mah, Pah," kata Arya menghela nafas lelah.

__ADS_1


"Kamu tahu sendiri gimana adik kamu Ar," kata Mama.


"Sayang, aku ke kamar dulu ya. Mau naruh Vano di box bayi, dia udah tidur," pamit Indi pada Arya.


"Sekalian kamu istirahat sayang," kata Arya mengecup kening Indi.


Seperginya Indi, acara masih berlanjut dan semakin ramai karena semua orang menikmati permainan yang dibuat oleh Dimas dan Ardi. Permainan menebak kata yang diperagakan oleh Evan dan Vania. Yang salah menebak akan diberikan hukuman.


"Evan sayang, yang gampang ya buat tante Arin," kata Arini merayu Evan.


"Jangan curang dong Bu Arini," teriak Jessi.


"Terserah gue dong," ucap Arini tidak mau kalah.


"Evan harus bantu Kak Jessi, oke," pinta Jessi sambil memberikan lolipop pada Evan dan Vania.


"Lo lebih curang Jess, pakai nyogok segala," kata Andin geleng-geleng.


Permainan berjalan dengan menyenangkan. Hampir semua kata yang diperagakan oleh Evan, berhasil ditebak. Tetapi yang diperagakan oleh Vania gagal semuanya, tidak ada yang bisa menebak. Alhasil semuanya terkena hukuman.


"Vania anak pintar," kata Dimas mengacungkan jempolnya.


Semua orang dihukum untuk membereskan sisa-sisa makanan dan mencuci peralatan yang telah dipakai saat perayaan tadi.


"Ini sih enak di Bu Indi sama Pak Arya kalau hukumannya begini," gerutu Jessi.


"Sekali-kali berbuat kebaikan Jessi," kata Arini berjalan melewati Jessi dan menuju kamar Indi.


"Mau jagain ponakan tercinta," kata Arini sambil melambaikan tangan dan tersenyum.


"Kak Arin curang," teriak Jessi yang tidak dipedulikan oleh Arini.


Setelah selesai melaksanakan hukumannya, satu persatu orang pamit pulang. Tinggallah Dimas dan Arini yang masih setia bermain bersama Evan dan Vania.


"Sayang, tidur yuk udah malem," pinta Indi pada Vania.


"Sebentar Mah, Vania tidur sama kak Evan aja Mah," kata Vania masih belum mau beranjak.


"Mama jagain adik Vano aja Mah, Vania sama Evan," kata Evan tersenyum.


"Makasih ya sayang," ucap Indi merasa bangga pada anak pertamanya.


Indi masuk ke kamarnya diikuti Arya. Evan dan Vania melanjutkan permainannya dengan Arini dan Dimas.


"Om, tante, mau menginap sekalian di sini?" tanya Evan.


"Engga Van, rumah Nenek deket kan, tante pulang aja," kata Arini.


"Om, antar tante kamu juga, jadi gak bisa nginap," kata Dimas tersenyum.

__ADS_1


"Nginap aja, tidur sama Vania," kata Vania menguap.


"Ayo, Vania tidur sama tante ya," ajak Arini menggandeng tangan Vania ke kamar.


Seperginya Arini dan Vania, Evan mencoba menginterogasi Dimas.


"Om kapan mau nikah sama tante Arin?" tanya Evan.


"Om udah sering ngajak tante kamu nikah, katanya masih belum siap," jawab Dimas lesu.


"Om harus lebih romantis dong saat ngajak nikah tante Arin," kata Evan memberi saran.


"Gimana caranya Van?" tanya Dimas.


"Pikir aja sendiri Om, Evan masih kecil belum tahu romantis," kata Evan polos.


"Belum tahu tapi tadi nyaranin gitu," kata Dimas dalam hati.


Arini kembali setelah menemani Vania tidur. Dan pamit pulang pada Evan yang masih terjaga.


"Tante pulang dulu ya Van, kamu tidur jangan kemalaman," kata Arini mengusap rambut Evan.


"Iya tante, hati-hati," ucap Evan, "Om, jangan lupa ya."


"Iya siap laksanakan," kata Dimas tegas.


"Jangan lupa apa nih?" tanya Arini penasaran.


"Rahasia laki-laki," jawab Dimas tersenyum.


"Awas lo ya ngajarin ponakan gue yang enggak-enggak," ancam Arini.


"Gak bakalan Rin, Evan kan ponakan gue juga," kata Dimas nyengir.


Evan hanya geleng-geleng melihat tante dan omnya berantem terus.


"Gimana mau nikah," kata Evan pada diri sendiri.


Evan menutup pintu setelah Arini dan Dimas pulang. Membereskan mainan yang tadi dipakai, dan membersihkan tempatnya sebelum masuk ke kamar.


"Udah pada pulang sayang?" tanya Arya mendekati Evan.


"Udah Pah, baru aja," jawab Evan.


"Anak pintar, udah bisa bantuin Mama ya," kata Arya mengusap rambut Evan.


"Dari kecil Evan udah terbiasa Pah, karena Mama cuma punya Evan," kata Evan membuat hati Arya merasa sakit.


"Sekarang Evan punya Papa, Vania, Vano, Kakek, Nenek dan tante Arin, jadi jangan sedih lagi ya," kata Arya memeluk lengan Evan.

__ADS_1


"Iya Pah, Evan bersyukur punya kalian semua. Dan Evan senang kalau Mama bahagia," ucap Evan tulus.


Arya memeluk erat Evan. Walaupun Evan bukan anak kandungnya, tapi dia udah menganggapnya sebagai darah dagingnya sendiri. Di depan kamar, Indi menangis tertahan mendengarkan obrolan Evan dan Arya.


__ADS_2