My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 61 : Undangan Angel


__ADS_3

Permasalahan Arini dan Dimas membuat Indi melupakan sesuatu yang tidak ingin dia ingat. Tetapi ternyata dia tetap mengingatnya. Undangan ke pernikahan Angel.


"Sayang, malam ini ada undangan ke pernikahan Angel," kata Indi saat menyiapkan baju kerja Arya.


"Kamu mau datang?" tanya Arya.


"Engga mau, tapi gak enak kan sama Pak Bastian," ucap Indi bingung.


"Kalau gitu kita akan datang sebentar lalu pulang. Bagaimana?" tanya Arya memberikan solusi.


"Oke deh, gitu juga boleh."


Indi tidak akan pernah lupa bagaimana dulu dia dipermalukan oleh Angel di kantor. Dan kata-kata kasar yang Angel ucapkan pada dirinya. Rasa sakit dan malu yang tidak akan pernah hilang walaupun dia sudah mencoba memaafkan Angel.


"Evan dan Vania berangkat dulu Mah, Pah," pamit Evan lalu mencium pipi Indi dan Vano.


"Papa gak pernah kebagian cium," gerutu Arya.


"Papa minta cium sama Mama aja," ledek Evan.


"Ide bagus boy," kata Arya hendak mencium Indi tapi dihalangi oleh Vania.


"Vania cium Papa deh," kata Vania lalu mencium pipi Arya.


"Makasih cantik, nanti kita beli jajan yang banyak," ucap Arya senang.


"Dasar," gumam Evan tersenyum geli.


Indi hanya menggeleng melihat tingkah suami dan anak-anaknya. Indi sempat lupa memberitahu mereka kalau malam ini akan pergi ke acara. Dia berteriak menanggil Evan dan Vania.


"Tunggu Van," teriak Indi, Evan dan Vania menoleh.


"Van siapa Mah?" tanya Evan.


"Duanya. Gini, nanti malem Mama sama Papa mau ke acara nikahan. Vano mau Mama titipin sama nenek dan kakek. Kalian nanti juga pulang ke sana ya," kata Indi memberitahu kedua anaknya.


"Nikahannya siapa Mah?" tanya Evan.


"Temen Papa yang waktu itu ke sini," jawab Indi tersenyum kecut.


"Oke, Evan sama Vania berangkat Mah."


Evan melajukan motornya dengan pelan sambil melihat dari spion ke arah Indi. Dia tahu ibunya sedang gelisah dan merasa tidak nyaman. Dia masih belum mendengar cerita tentang Indi dan mantan karyawan Arya itu.


Setelah mengantarkan Vania pulang ke rumah kakek neneknya, Evan meminta ijin pergi ke kantor Arya.


"Mau ngapain ke sana sayang?" tanya Nenek.


"Ada yang mau Evan omongin sama Papa, Nek. Sebentar aja," kata Evan.


"Ya udah, hati-hati ya," ucap Nenek.


"Vania ikut dong Kak," rengek Vania.


"Kamu main sama Vano dulu ya, Kakak cuma sebentar kok."


"Vania sama Nenek dan Kakek aja ya, nanti kak Evan pulang lagi ke sini," ucap Kakek.

__ADS_1


"Ya deh, jangan lama-lama Kak," pinta Vania.


"Iya, pergi dulu ya."


Setelah meminta ijin dan berpamitan, Evan melajukan motornya menuju perusahaan Wijaya.


Sampai di lobby perusahaan, banyak pasang mata yang menatap kagum pada Evan. Dia yang bertubuh tinggi tidak seperti anak SMA pada umumnya, dengan memakai pakaian biasa, membuatnya seperti pria idaman. Tidak semua karyawan Arya tahu kalau Evan itu adalah anak pertama Arya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang front office.


"Saya mau ke ruangan Pak Arya Wijaya," jawab Evan sopan.


"Sudah ada janji?" tanya sang front office lagi.


"Belum, tapi bilang aja Evan mau bertemu," jawab Evan masih dengan sopan.


Sang front office langsung menelepon dan setelahnya mempersilahkan Evan masuk lewat lift khusus.


"Ngapain ke sini Nak?" tanya Indi yang sudah menunggu di depan lift.


"Mama ngagetin deh," ucap Evan benar-benar kaget karena sang mama langsung bertanya saat pintu lift baru saja terbuka.


"Hehehe, sorry." Indi merasa bersalah.


"Papa mana Mah?" tanya Evan.


"Ada di ruangannya, ayo Mama anter," ajak Indi.


Indi membawa Evan ke ruangan Arya. Melewati ruangan Dimas, Evan menyapa sebentar lalu masuk ke ruangan Arya.


"Pah," panggil Evan.


"Iya nih tumben," samber Indi.


"Gak ada yang darurat Pah. Evan cuma mau nanya sesuatu," kata Evan.


"Tanya apa Nak?" Arya mendekati Evan dan Indi yang duduk di sofa.


"Soal undangan nikahan temen Papa, boleh Evan aja gak yang nemenin Papa? Mama biar sama Vania dan Vano," kata Evan melihat ke arah Indi dan Arya bergantian.


"Kenapa begitu?" tanya Arya penasaran.


"Evan tahu Mama ada masalah sama orang itu. Jadi mending Evan aja Pah yang nemenin Papa."


Indi tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Evan. Dari dulu, Evan selalu bisa membuat Indi menjadi tenang dan merasa terlindungi.


"Gimana sayang?" tanya Arya pada Indi yang terlihat melamun.


"Eh kenapa?" Indi bingung harus jawab apa.


"Papa sama Evan aja yang ke undangan temen Papa," kata Evan lagi.


"Memangnya kamu mau?" Indi bertanya pada Evan.


"Mau Mah, nanti Mama sama Vania dan Vano aja di rumah kakek."


"Gimana menurut kamu?" tanya Arya pada Indi.

__ADS_1


"Ya udah gak pa-pa. Makasih ya sayang." Indi memeluk lengan Evan.


"Kamu memang tahu apa yang sedang Mama risaukan nak," kata Indi dalam hati.


"Kalau gitu Evan pulang dulu ya, nanti Papa anter Mama sekalian jemput Evan," usul Evan.


"Siap deh Boss," kata Arya meledek.


"Kerja sana, malah mengobrol," ucap Evan sambil berjalan keluar dan tersenyum.


"Waahh dasar kamu ya," teriak Arya disertai tawa Indi.


"Mirip sama kamu," ucap Indi lalu pergi keluar ruangan Arya.


Arya hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


Malamnya, Arya dan Evan menghadiri acara resepsi pernikahan Angel. Mereka mengenakan setelan yang sama dengan style yang sama. Sudah seperti kakak adik daripada ayah dan anak.


Setelah menemui Pak Bastian dan mengucapkan selamat serta mengenalkan Evan sebagai anaknya, Arya dan Evan menuju ke tempat mempelai untuk memberikan selamat.


"Selamat atas pernikahan kalian, istri saya tidak bisa datang jadi anak saya mewakilinya," kata Arya menyalami Angel dan suaminya. Evan juga ikut serta menyalami kedua mempelai.


"Apa Indi masih marah sama saya Ar?" bisik Angel, ada sedikit rasa sesal.


"Engga kok, dia lagi jagain adik-adiknya Evan. Jadi Evan yang mewakili," kata Arya bijak.


"Kami permisi tante, selamat atas pernikahannya," ucap Evan memotong pembicaraan ayahnya.


Setelah berpamitan, Arya dan Evan menuju meja minuman. Dari kejauhan Evan melihat seseorang yang tidak asing tetapi dia tidak tahu namanya. Dan orang itu juga melihat Evan lalu memberikan ekspresi jengah.


"Siapa Van?" tanya Arya pada Evan yang sedari tadi melihat ke arah seorang anak perempuan.


"Gak tahu Pah, tapi Evan gak asing sama orangnya," jawab Evan mengingat-ingat.


"Deketin aja, tanya siapa dia. Jangan cemen gitu lah," sindir Arya menyeruput minumannya.


"Engga Pah, gengsi dong," ucap Evan menggeleng.


"Makan tuh gengsi, nanti nyesel loh." Arya terus memanas-manasi.


Evan terus memperhatikan gerak gerik anak perempuan itu. Dan karena jengah dilihatin terus, akhirnya anak perempuan itu mendekat ke arah Evan.


"Ngapain lo di sini?" tanya anak perempuan itu.


"Lo ngapain?" tanya Evan juga.


"Gue keponakannya tante Angel," kata anak perempuan itu.


"Lo yang waktu itu manggil gue disuruh Bu Janet kan?"


"Hemm," jawabnya singkat.


"Kenalin, gue Evan," ucap Evan mengulurkan tangan.


"Udah tahu, gue pergi dulu," anak perempuan itu langsung berlalu.


"Hei," panggilan Evan tidak dihiraukan oleh anak itu.

__ADS_1


"Kasihan deh gak ditanggepin," sindir Arya.


"Lihat aja nanti." Evan tersenyum dengan percaya diri.


__ADS_2