My Boss My Berondong

My Boss My Berondong
Bab 77 : Masa Lalu Calista


__ADS_3

Flashback on.


"Mah, ikut Calista ke luar negeri aja yuk," ajak Calista pada ibunya, Merry.


"Gak sayang, kamu gak boleh ke luar negeri lagi. Kamu harus menikah dengan Arya," ucap Merry menahan tangan Calista.


"Mah, kak Arya udah punya tunangan. Calista udah gak ada harapan," ucap Calista antara sedih dan kesal.


"Kamu tenang aja, Mama yang akan atur semuanya. Biar mama yang bicara dengan Jeng Ellis. Masa Arya mau sama janda sih, kamu lebih baik sayang." Merry berjanji pada putrinya.


"Tapi Mah, Calista gak mau ngemis-ngemis gitu. Kita ke luar negeri aja ayo, lepasin keluarga Wijaya Mah," bujuk Calista.


"Enggak, gak akan Mama tenang kalau kamu belum nikah dengan Arya. Dari dulu mama udah bilang dengan jeng Ellis, kalau mama mau jodohkan kamu dengan Arya," ucap Merry menggebu.


"Terus mama mau gimana, kak Arya udah bertunangan dan mengenalkan calonnya dengan keluarga wijaya." Calista mengingat acara makan malam waktu itu.


"Kamu ikuti aja apa yang mama suruh. Dan Arya pasti akan menjadikan kamu istrinya, bukan perempuan janda itu," kata Merry mantap.


Calista tersenyum merasa akan ada kemenangan berpihak padanya. Dia memang selalu menginginkan menjadi istri seorang Arya Wijaya. Tetapi, mengetahui dia sudah mempunyai tunangan, membuatnya sedikit mundur. Karena ibunya tetap mendukung dan mau melakukan apa saja demi dirinya, Calista merasa kembali bersemangat untuk merebut Arya lagi.


Flashback off.


Calista mengunjungi RS Jiwa lagi. Di sanalah ibunya berada sekarang. Menjadi pasien RS Jiwa karena keinginannya yang tidak pernah terpenuhi. Melihat ibunya menjadi seperti itu, membuat Calista membenci keluarga Wijaya terutama Indi. Karena Indi lah, Calista tidak jadi pasangan Arya. Dan ibunya menjadi gila karena tidak bisa mewujudkan impian anaknya.


"Mah, Calista sudah membalas sakit hati Mama. Perlahan-lahan, Calista akan menghancurkan keluarga Wijaya. Mama harus sehat, harus lihat bagaimana keluarga Wijaya hancur," kata Calista sambil tersenyum sinis.


"Lo lihat aja Indi, gue akan ngancurin hidup lo. Lo yang harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa gue dan nyokap gue," batin Calista.


Setelah merasa cukup untuk menjenguk ibunya, Calista kembali ke rumahnya. David masih setia mengikuti kemanapun Calista pergi.


Cukup lama Arya menunggu Calista di rumahnya. Dia akan mencoba bicara baik-baik dengan Calista. Walaupun sekarang dia begitu, dulu dia adalah orang yang pernah dekat dengannya dan keluarganya.


"Kak Arya," sapa Calista sampainya di rumah.


Calista hendak memeluk Arya, tapi Arya menghindar.


"Ngapain kak? Kok tahu rumahku di sini?" tanya Calista basa basi.


"Gak usah basa basi, gue mau langsung aja," ucap Arya tegas.

__ADS_1


"Duduk dulu kak, biar aku bikinin minum." Calista mencoba mengulur waktu.


"Gak usah. Gue cuma mau bilang, jangan pernah ganggu keluarga gue lagi. Kalau lo masih gangguin anak gue dan keluarga gue, gue gak akan segan," ancam Arya.


"Maksud kamu apa sih? Aku gak paham," ucap Calista pura-pura tidak tahu, tanpa rasa bersalah.


"Gak usah pura-pura, jijik gue lihatnya," ucap Arya lalu langsung pergi dari rumah Calista.


"Aarrgghh, sialan lo Arya," teriak Calista saat mobil Arya sudah tak terlihat.


"Lo bener-bener bikin gue makin benci sama Indi, Ar. Lihat aja nanti," batin Calista menahan amarah.


Evan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter karena lukanya yang hanya lebam-lebam itu sudah sembuh. Sebenarnya Evan meminta hanya sehari saja pemulihan di rumah sakit, tetapi Indi berkeras harus sampai sembuh.


"Akhirnya pulang juga," ucap Evan lega campur senang.


"Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati, harus selalu kabarin mama ya," pinta Indi yang begitu khawatir dengan apa yang menimpa Evan.


"Mama lebay iihh, kak Evan kan anak cowok mah," protes Vania yang ditanggapi dengan pelototan oleh Evan.


"Mama gak mau anak-anak mama kenapa-napa. Lebih baik mama aja yang sakit atau celaka, daripada kalian," ucap Indi meneteskan air mata.


"Evan akan lebih hati-hati mah, Evan juga akan selalu jaga Vania dan Vano. Mama gak perlu khawatir," kata Evan meyakinkan ibunya.


"Maafin Vania mah, Vania juga akan selalu jaga diri dan selalu ngabarin mama," ucap Vania memeluk Indi juga.


"Mama sama kakak ngapain?" tanya Vano polos.


"Berpelukan, Vano peluk juga sini," ajak Vania dan Vano pun langsung berlari memeluk Indi.


Indi tersenyum melihat kelakuan ketiga anaknya. Dia bersyukur mempunyai anak-anak yang saling menyayangi dan saling menjaga.


"Gimana sayang, udah tahu siapa yang nyulik Evan?" tanya Indi pada Arya saat mereka sedang di kamar.


"Belum sayang, kemarin waktu aku nyelamatin Evan tidak ada siapa-siapa di sana. Aku akan terus cari siapa pelakunya," kata Arya berbohong.


"Semoga cepat ketemu ya, biar bisa dihukum," ucap Indi.


Arya memeluk Indi dengan lembut, merasa bersalah telah membohonginya. Tetapi, Arya tidak mau membebani Indi dengan menceritakan semuanya. Mungkin nanti setelah Arya bisa mengendalikan Calista, dia akan menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Maafin aku sayang, aku udah gak jujur sama kamu" ucap batin Arya.


Arya mencium pelan bibir Indi. Menyalurkan hasrat yang beberapa hari ini terlupakan karena masalah yang terjadi.


"Bagaimana kalau kita buat adik untuk Vano?" tanya Arya mengerling menggoda.


"Jangan sembarangan kalau ngomong, aku udah tua sayang. Aku takut kalau hamil lagi di umur sekarang," jawab Indi.


"Dulu juga waktu mau bikin Vano kamu bilang begitu, tapi lihat sekarang Vano tumbuh sehat. Ayolah sayang," bujuk Arya


"Engga, sekarang waktunya fokus sama anak-anak aja. Tiga anak udah cukup," kata Indi menolak.


"Ayolah sayang, kamu tidak akan bisa menolak untuk rasa yang nikmat ini." Arya terus menggoda Indi sampai Indi berusaha melarikan diri.


Arya berusaha membuat Indi melupakan sejenak tentang kejadian yang menimpa keluarganya akhir-akhir ini. Dia tidak mau sampai Indi jadi stress dan jatuh sakit.


Flashback on.


"Jeng Ellis, maafkan ucapan saya waktu itu saat di restoran," ucap Merry ibunya Calista.


Merry meminta maaf untuk perkataannya yang menyinggung Indi saat Arya mengajak Indi makan malam dengan keluarga Arya. Malam itu mereka bertemu dengan Merry dan Calista.


"Jujur, saya tidak suka jeng Merry menjelekkan calon mantu saya," ucap Mama Ellis.


"Saya tidak bermaksud menjelekkan jeng, tapi saya membuat jeng sekeluarga untuk membuka mata. Arya itu anak yang pintar, ganteng, sukses, masa iya mau sama seorang janda yatim piatu." Merry mencoba terus menghasut Ellis.


"Tolong jangan berbicara seperti itu jeng, Indi adalah pilihan anak saya, Arya. Dan saya sebagai ibunya hanya bisa mendukung apa yang telah Arya putuskan. Karena Arya yang akan menjalani kehidupannya sendiri." Ellis mulai jengah dengan obrolannya bersama Merry.


"Dulu kita sudah sepakat untuk menjodohkan Calista dengan Arya jeng. Kenapa sekarang jeng seperti ini," ucap Merry terus berbicara.


"Cukup jeng, biarkan Arya menjalani kehidupannya sendiri. Saya harap jeng tidak akan membuat masalah dengan keputusan Arya. Semoga Calista bisa menemukan pria yang lebih baik lagi." Ellis hendak pergi saat Merry berteriak menjelekkan nama Indi dan Arya. Sejak saat itu Ellis tidak mau menemui Merry lagi.


Flashback off.


NOTE :


Baca juga karya bestie aku ya dears. Judulnya Kembalinya sang Putri karya SyaSyi. Ceritanya bagus dan menarik. Silahkan mampir. love love love


__ADS_1


__ADS_2